logo rilis
Balitbangtan Bangun Model Bioindustri Padi di Wilayah Perbatasan
Kontributor
Elvi R
01 April 2018, 16:24 WIB
Balitbangtan Bangun Model Bioindustri Padi di Wilayah Perbatasan
Peresmian Model Kawasan Pengembangan Bioindustri Padi ini dilakukan oleh Bupati Kabupaten Karimun, Propinsi Kepulauan Riau. FOTO: Humas Balitbangtan

RILIS.ID, Jakarta— Membangun dari pinggiran  adalah salah satu program  yang dicanangkan oleh Presiden Jokowi.  Untuk mewujudkan hal tersebut, salah satu program kerja Kementerian Pertanian adalah Pembangunan Lumbung Pangan Berorientasi Ekspor (LPBE). Kepulauan Riau menjadi salah satu wilayah yang ditetapkan sebagai lokasi LPBE.

Upaya yang dilakukan untuk mewujudkan Kepulauan Riau sebagai Lumbung Pangan tentunya harus dilakukan secara terintegrasi dari hulu ke hilir mulai dari peningkatan produksi tanaman, penanganan pascapanen, pengolahan hingga pemasarannya.

Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) sebagai penghasil inovasi di bidang pertanian telah menghasilkan berbagai inovasi untuk peningkatan produksi hingga penanganan pascapanen maupun pengolahan hasil produk pertanian. Balitbangtan juga mengenalkan konsep bioindustri berkelanjutan dengan prinsip low external input sustainable agriculture (LEISA), zero waste, ramah lingkungan dan berdaya saing tinggi, serta mampu meningkatkan nilai tambah yang berlipat. Sehingga ketersediaan pangan maupun manfaat ekonomi per satuan luas tanam dapat diperoleh di sentra-sentra produksi pertanian seperti sentra produksi padi.  

Dalam rangka membangun Model Bioindustri  khususnya pada pertanaman padi, Balitbangtan menggandeng pemerintah daerah Kabupaten Karimun untuk membangun Model Pengembangan Kawasan Bioindustri Padi di Desa Teluk Radang, Kecamatan Kundur Utara, Kabupaten Karimun. Implementasi model kawasan bioindustri padi diawali dengan dibangunnya sarana penggilingan padi sistem auto-pneumatic-rice milling unit (AP-RMU) yang teknologinya dikembangkan oleh Balai Besar Litbang Pascapanen, Balitbangtan. Penggilingan padi ini juga dilengkapi dengan fasilitas pengeringan dengan menggunakan pemanas sekam yang berasal dari hasil samping penggilingan padi.  Selanjutnya inovasi Balitbangtan yang juga akan dikembangkan di Kundur adalah pemanfaatan sekam sisa pembakaran pada unit pengering untuk diproses menjadi produk biosilika dan asap cair.     

Biosilika nantinya bisa dimanfaatkan sebagai pupuk  mikro pada pertanaman padi yang mampu meningkatkan jumlah anakan, meningkatkan ketegaran batang serta ketahanan terhadap organisme penggangu tanaman.  Asap cair yang dihasilkan pada proses pembakaran sekam juga dapat dimanfaatkan sebagai biopestisida ataupun pengawet makanan melalui proses lebih lanjut. Dengan kapasitas giling 1,2-1,5 ton per jam, penggilingan padi yang dikembangkan di Kundur diharapkan bisa menghasilkan beras 50 ton per bulan.  Jumlah ini diharapkan bisa mencukupi kebutuhan penduduk Karimun dan sekitarnya sehingga tidak harus menunggu kiriman dari daerah lain, apalagi kalau sampai harus impor dari negara tetangga seperti Singapura atau Malaysia seperti yang selama ini terjadi.  

Selain itu, dengan adanya pemanfaatan hasil samping sekam menjadi biosilika atau sumber energi pengeringan gabah, maka diharapkan ada nilai tambah yang bisa diperoleh petani sehingga dapat meningkatan pendapatan maupun kesejahteraannya.
 
Peresmian Model Kawasan Pengembangan Bioindustri Padi ini dilakukan oleh Bupati Kabupaten Karimun, Propinsi Kepulauan Riau pada hari Minggu Tanggal 1 April 2018. Pada kesempatan ini juga dilakukan penandatangan Naskah Kesepahaman (MOU) antara Balitbangtan dan Pemda Kabupaten Karimun serta Perjanjian Kerja sama antara Balai Besar Litbang Pascapanen Pertanian dengan Dinas Pangan dan Pertanian Kabupaten Karimun. Kepala BB Pascapanen Prof. Risfaheri berharap adanya Model Bioindustri ini dapat beroperasi secara berkelanjutan sehingga dapat memenuhi kebutuhan pangan masyarakat sekaligus meningkatkan nilai tambah pertanaman padi di Karimun.

"Ke depannya Pulau Kundur mampu menghasilkan beras premium yang bisa diekspor ke negara tetangga Singapura maupun Malaysia," tandasnya.

Sumber: Evi Savitri Iriani/Balitbang


500
komentar (0)