logo rilis

Balada Politisi Belut
kontributor kontributor
Syamsuddin Radjab
06 April 2018, 11:47 WIB
Pengamat hukum dan Direktur Eksekutif Jenggala Center
Balada Politisi Belut
ILUSTRASI: Hafiz

KETUA DPR Setya Novanto (SN) dijemput paksa oleh tim penyidik KPK saat dirinya masih dirawat di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) pada Senin (20/11/2017) dan langsung ditahan. 

Penyidik beralasan bahwa penahanan SN dilakukan karena berkali-kali tak memenuhi panggilan KPK, baik sebagai saksi maupun tersangka dalam kasus mega korupsi proyek KTP elektronik 2011-2012 yang diduga merugikan negara sebesar Rp2,3 triliun dari total anggaran senilai Rp5,9 triliun.

Sebelumnya, SN banyak disebut dalam sejumlah kasus korupsi lainnya seperti kasus pengalihan hak piutang (cessie) bank Bali (1999) yang diduga merugikan negara Rp900 miliar, kasus impor beras dari Vietnam (2003) dengan potensi kerugian negara Rp122 miliar, kasus suap PON XVII di Riau (2012) yang diduga merugikan negara Rp 265 miliar.

Selain itu, kasus penyulundupan limbah beracun di Kepulauan Riau (2006) termasuk kasus “papa minta saham” yang mencatut nama Presiden Jokowi dan Wapres Jusuf Kalla dengan meminta imbalan saham dalam perpanjangan kontrak PT Freeport Indonesia (2015).

SN adalah sosok politisi lihai dan dikenal jago lobi. Dia ibarat belut bermandikan oli: licin, lincah, dan agresif. Gerakannya halus, senyap, tidak kasar dan bahkan sering mengumbar senyum. 

Pembawaannya yang tenang dan banyak diam membuat kawan dan lawan politiknya susah menghitung langkah politik yang akan diambilnya. 

Segarang Yorrys Raweyai dipecat dari jabatannya sebagai Korbid Polhukam DPP Partai Golkar bisa dijinakkan dengan aman. Meraih kepercayaan sebagai bendahara umum dan ketua fraksi Partai Golkar dengan mudah, melenggang kangkung tanpa halang terpilih sebagai ketua DPR dan aklamasi dalam Munaslub di Bali sebagai Ketua Umum DPP Partai Golkar. 

Sungguh capaian yang luar biasa bagi seorang politisi yang merangkak dari salesman menjadi powerman. 

Akhirnya, seperti kata pepatah, sepandai-pandai tupai meloncat, akhirnya jatuh ke tanah jua. Sepandai-pandai menyimpan bangkai, akhirnya tercium juga. 

Dengan kedudukan yang sangat tinggi sebagai Ketua DPR dan Ketua Umum partai besar, SN semakin menjadi-jadi menggunakan kelihaiannya merugikan keuangan negara yang berdampak pada hilangnya hak identitas jati diri jutaan warga negara dalam kasus e-KTP dan mengganggu data pemilih.

Menurut catatan Laporan Harta Kekayaan Pejabat Negara (LHKPN) KPK tahun 2015, SN memiliki kekayaan sebesar Rp 114 miliar terdiri dari harta yang tidak bergerak berupa tanah dan bangunan sebesar Rp81,7 miliar yang tersebar di Pondok Indah dan Wijaya di Jakarta, Bogor, Bekasi, Jawa Barat dan Kupang.
 
Sedangkan harta bergerak berupa pelbagai kendaraan mewah seperti Jeep Commander, Vellfire, Alphard, Toyota Camri, Mercedes Benz C280, VW Caravell, BMW 735LI dan lain-lainnya. 

Selain itu, SN juga memiliki logam mulia dan batu mulia senilai Rp932 juta, surat berharga dengan nilai Rp8,4 miliar, giro setara kas sebanyak Rp21 miliar, dan US$49.150 belum termasuk kekayaan yang didapat di tahun 2016 dan 2017 atau keuntungan ratusan miliar dari kasus korupsi KTP elektronik.     

Kini, SN meringkuk ditahanan KPK yang luasnya hanya 2,5 x 2,5 meter yang dihuni 3-5 orang dengan satu toilet dan satu keran air. Tentu, kejadian ini mengingatkan SN kembali masa-masa berjuang dulu sebagai pedagang beras dan madu antara Lamongan dan Surabaya untuk membiayai kuliahnya, atau saat menjadi sopir yang sekarang justeru dijaga sipir. 

Ia pekerja berat tapi juga serakah kelas berat yang akhirnya tergelincir dalam kubangan hitam karena menggarong uang negara triliunan rupiah. Jaksa Penuntut Umum (JPU) menuntutnya 16 tahun penjara, denda Rp1 miliar dan uang pengganti sebesar US$7.435 serta pencabutan hak politik selama 5 tahun.

Takdir memang tiada yang tahu, dan roda kehidupan terus berputar kadang di bawah tapi akan beranjak keatas dengan kerja keras dan kegigihan bertarung hidup. 

Novanto sudah memberi contoh bagaimana berjuang meraih puncak. Namun ia gagal menahan nafsu amarah dan belum pandai bersyukur atas nikmat-Nya yang tak bertepi.  

Jakarta, 6 April 2018




Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)





2019 | WWW.RILIS.ID