logo rilis
Bahasa Daerah versus Nilai Rapor
kontributor kontributor
Yayat R Cipasang
20 Oktober 2018, 18:10 WIB
Penulis seorang kerani dan penyelia di RILIS.ID
Bahasa Daerah versus Nilai Rapor
ILUSTRASI: Hafiz

PEKAN ini adalah musim pembagian rapor anak-anak sekolah dasar. Hampir setiap pembagian rapor, mata pelajaran yang umumnya dikeluhkan oleh emak-emak yang umumnya mahmud abas (mama muda anak baru satu), setidaknya ada dua mata pelajaran, matematika dan bahasa daerah. Sudah pasti karena nilainya yang selalu berpredikat buruk dan dianggap mencoreng rapor.

Itu sangat manusiawi. Setiap orang tua pastilah menginginkan nilai anaknya sempurna. Apalagi kalau nilai yang buruk itu adalah bahasa daerah. Orang asli (pituin) saja nilainya jelek apalagi warga pendatang.

Kalau sekolah hanya mengejar nilai keinginan orang tua seperti itu tidaklah salah. Padahal orangtua, sekolah itu tidak semata untuk mendapatkan nilai. Sekolah itu yang utama adalah belajar. Dan belajar itu tidak ada batasnya dari lahir sampai mati dikubur.

Bila orangtua paham bahwa sekolah itu proses belajar, mestinya orangtua tidak risau dan juga tidak panik ketika nilai anaknya jelek atau rendah. Toh mereka sedang belajar dan belajar itu memerlukan proses dan proses belajar seseorang itu ada yang cepat dan ada yang lambat.

Dalam belajar bahasa daerah, mestinya orang tua tidak risau dengan nilai. Pun, sekolah tidak menjadikan pendidikan bahasa daerah sebagai muatan lokal yang membebani. Seharusnya malah menyenangkan.

Malah saya menyarankan secara ekstreme, belajar bahasa daerah perlu dibebaskan dari nilai yang berupa angka dibandingkan nilai dan makna sesungguhnya berupa kehidupan dan keberagaman.

Bahasa daerah bukan semata alat atau wahana berkomunikasi tetapi juga dimaknai sebagai kegiatan belajar budaya suatu daerah, etnis atau suku tertentu di Indonesia yang beragam. Dari belajar bahasa daerah akan tercipta saling pengertian yang bersifat empatik sehingga terjalinlah keutuhan sebuah bangsa.

Dalam sebuah perbincangan, mantan anggota DPR dari Partai Demokrat  Salim Mengga, mengeluhkan tentang semakin minimnya penutur bahasa Mandar, bahasa lokal di Sulawesi Barat. 

Suatu hari dia mengaku meminta seluruh bupati di Sulbar untuk memasukkan pelajaran bahasa Mandar ke dalam kurikulum di sekolah-sekolah.

“Sangat memprihatinkan. Sudah lama saya mengimbau bupati-bupati untuk memasukkan bahasa daerah ke dalam kurikulum di sekolah-sekolah. Penguasaan anak-anak muda akan bahasa lokal sangat rendah sekali. Ini jelas memprihatinkan,” kata Salim Mengga.

Salim Mengga menjelaskan, banyak bahasa-bahasa daerah menunggu ajal. “Itu benar. Saya rasakan di daerah sendiri di Sulbar. Mereka yang mengunakan bahasa mandar kebanyakan orangtua. Anak-anak muda mana?”

Menurut Salim Mengga, kepunahan bahasa daerah merupakan fenomena umum. Di setiap daerah penyebabnya sama. “Tiap hari mereka nonton televisi memakai bahasa Indonesia. Di sekolah bahasa Indonesia. Orangtuanya juga di rumah berkomunikasi memakai bahasa Indonesia. Ditambah lagi dengan serbuan bahasa Inggris dan bahasa lainnya,” ujar pensiunan mayor jenderal ini.

Sayangnya semangat Salim Mengga untuk melestarikan bahasa Mandar tidak mendapat sambutan semestinya dari para kepala daerah. Lucunya, alasan mereka sangat naif. 

“Saya sudah desak kepala-kepala daerah untuk memasukkan bahasa mandar ke dalam muatan lokal. Tapi mereka menjawabnya, susah. Alasannya di Sulbar ada bahasa Bugis, ada bahasa Jawa dan macam alasan lainnya. Saya langsung debat. Itu nggak masalah. Bukan halangan. Anak saya saja sekolah di Jawa Barat dipaksa belajar bahasa Sunda. Awalnya nilainya 3 atau 4. Nggak apa-apa itu,” terangnya.

“Kemudian saya pindah ke Jawa Tengah. Anak saya dipaksa lagi belajar bahasa Jawa karena muatan lokalnya bahasa Jawa. Nggak ada masalah. Memang harus dipaksa,” sambungnya.

Menurut Salim Mengga, bila tidak menguasai bahasa daerah dan tidak bangga dengan identitas primordial sendiri, siapa lagi yang peduli. Identitas kebangsaan itu salah satunya adalah keberagaman dalam bahasa. 

“Kalau kita hanya bisa bahasa Indonesia, keberagaman yang menjadi ciri khas Indonesia tidak ada lagi,” kata Salim Mengga.

Dalam catatan Pusat Bahasa, ada 652 bahasa daerah di Indonesia. Dalam laporan  UNESCO, setiap 15 hari sekali dari sejumlah bahasa itu akan punah.

Jadi percayalah, para emak-emak yang membiarkan dan mendukung anak-anaknya belajar bahasa daerah, tidaklah sia-sia. Mereka berarti menjadi bagian dari sekelompok orang yang ikut melestarikan bahasa daerah dari kepunahan. Jangan risau dengan nilai karena emak-emak telah menyelamatkan keberagaman dan budaya Indonesia.

Masih tetap mengeluh dengan nilai bahasa daerah anak-anak?




Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)





2019 | WWW.RILIS.ID