logo rilis
Bacaleg = Bakal Calon Legislatif (2)
kontributor kontributor
M. Deden Ridwan
29 Agustus 2018, 16:41 WIB
Penulis, pegiat konten, konsultan, produser & CEO Reborn Media Inisiatif
Bacaleg = Bakal Calon Legislatif (2)
ILUSTRASI: Hafiz

KONTRAS seratus derajat dengan fenomena politik kartel para bohir itu, kita sebenarnya menemukan wajah lain kehidupan politik yang luput perhatian publik. Ya, politik sunyi, senyap, bebas gosip, tanpa ingar-bingar. Politik minus bohir hingga menjadi kere. Tak berduit. Alias bokek tingkat dewa. Pun tuna pemberitaan. Karena memang tak layak jadi sumber berita. Sungguh ini merupakan peristiwa politik orang-orang biasa.

Bacaleg-bacaleg yang lahir dari gestalt ini hanya bermodalkan integritas. Namun, mereka punya semangat tak kenal batas. Membaja. Pantang menyerah. Berjuang habis-habisan demi rakyat; demi tegaknya keadilan. Bermental petarung dengan spirit idealisme bergelora di dalam jiwa. Berdaya tahan (endurance) dalam segala cuaca, sampai titik darah penghabisan. 

Untuk melukiskan hal itu, saya ingin bercerita tentang sosok seorang bacaleg sunyi alias kere dengan karakter seperti dijelaskan di atas. Alkisah. Sebut saja namanya Anton. Saya kenal Anton cukup dekat. Dia berlatar belakang dan berjiwa aktivis tulen. Menyelami dunia aktivis berawal di Jogja. Sambil kuliah di kampus Islam ternama di kota pelajar itu.

Sebagai aktivis, dia berlabuh dan bergiat di sebuah organisasi mahasiswa Islam terbesar di negeri ini, terutama di lembaga pers. Dia memang punya potensi sebagai penulis sekaligus editor hebat. Pun penikmat dan pembaca buku. Potensinya itu terus dia rawat dan kembangkan.

Maka, berkat aktivitasnya itu pula, dia akhirnya hijrah ke Jakarta. Menjadi pengurus besar lembaga pers mahasiswa Islam tingkat nasional dengan jabatan mentereng: wakil sekjen. Di Jakarta, sambil bekerja, jiwa aktivis Anton semakin tumbuh. Menguat. Mewujud. Menjadi sosok pribadi yang sangat percaya diri. Ditambah, dia punya jaringan sesama aktivis sebagai modal sosial berharga.

Dengan penuh kepercayaan diri itulah, Anton putuskan untuk terjun ke politik praktis. Dia resmi masuk parpol. Pilihannya jatuh pada parpol yang lahir dari rahim reformasi. Dan dulu, partai tersebut sempat menarik perhatian anak muda, penggila perubahan. Di parpol, Anton meretas dari bawah. Dari titik nol. Dia masuk lewat sayap organisasi pemuda. 

Secara mengejutkan, dia rela melepas pekerjaannya sebagai editor di sebuah perusahaan konten-kreatif ternama demi melakoni dunia politik secara total. Kaffah. Namun sejak itu, hidup Anton justru jadi serabutan. Tak menentu. Penuh terjal dan berliku. Ekonominya morat-marit, tak ada kepastian. Karena di benaknya yang benar-benar pasti cuma Tuhan. Dia tampaknya menghayati betul makna filosofi itu. Entah itu sekadar menghibur diri, berkelakar atau apalah, saya tak tahu pasti. 

Untuk bisa bertahan agar dapurnya tetap ngepul, Anton harus berjuang jungkir balik. Memburu order editing atau menulis sana-sini secara proaktif. Pernah juga mencoba berbisnis, namun selalu gagal. Kini, mengedit dan menulis menjadi satu-satunya sumber penghasilan Anton. Itu pun tak selalu pasti ada. Karena itu, dia selalu rindu "proyek", "DP" (down payment), dan honor. Ketika ada proyek deal yang berakibat DP atau honornya cair, mukanya tampak cerah. Semringah. Karena dengan begitu, dia bisa melanjutkan dan merayakan kehidupan.
 
Meskipun serba kesulitan, Anton tak pernah tampak sedikit pun mengeluh. Gerak hidupnya selalu ceria, bahagia, dan optimistik. Selalu bersyukur! Sebab, dia sangat yakin, bersyukur merupakan kunci kebahagiaan. Tak hanya itu, keluarganya pun tetap utuh dan harmonis. Baik-baik saja. Pun bahagia. Mengerti dan mendukung sepenuh hati pilihan-perjuangan sang suami. Dahsyatullah!

Sampai suatu waktu, saya dapat kabar, Anton resmi maju sebagai bacaleg DPRD II nomor urut 7 dengan mengambil dapil di wilayah Kabupaten Bogor. Saya kaget bukan kepalang. Karena tahu, Anton sama sekali tak punya uang. Jangankan untuk modal nyaleg, untuk bertahan hidup sehari-hari saja serabutan. 

Tapi, ya Anton tetaplah Anton. Baginya, keterbatasan uang bukanlah halangan sedikit pun untuk tetap maju sebagai bacaleg. Obor idealisme politiknya tak pernah padam. Terus menyala, menerangi lorong-lorong kegelapan. Dia sangat yakin, politik sebagai jalan hidupnya. Maka, apa pun risiko yang terjadi, dia maknai secara positif.

Dia sudah ikrar. Jihad di jalan politik merupakan medium untuk menegakkan keadilan dan kesejahteraan rakyat. Maka, sampai kapan pun, dia lakoni secara tulus, ikhlas, dan total. Ketika ditanya: kenapa memilih jalan politik padahal bokek? Dengan tangkas, pelbagai penjelasan dan argumen mengalir bak air tumpah. Bisa berbusa-busa. Mungkin bisa jadi sebuah buku.

"Demi perjuangan, Bung! Saya hanya jualan integritas dengan mental petarung," ungkapnya tegas. 

"Karena tak punya uang, saya ingin mewakafkan waktu dan idealisme saja sebagai modal demi perjuangan politik," lanjutnya penuh semangat. 

Sekali berlayar, teruslah berlayar. Anton pantang menyerah. Kadang saya dapat cerita lucu. Pada suatu malam, misalnya, dia harus menggalang pertemuan dengan konstituen. Dia perlu biaya ngopi. Sementara dia tak punya uang sama sekali. Dia tak mengambau. Malam itu pula, dengan gerak cepat, dia segera kontak teman-temannya sesama aktivis, minta bantuan dana. Dana terkumpul. Akhirnya, ngopi-ngopi pun lancar.
 
Cerita lain: untuk biaya spanduk, dia sedang "melobi" mantan bosnya waktu bekerja di sebuah perusahaan. Dia berharap mantan bosnya itu bisa jadi "bohir" politiknya. Cuma si mantan bosnya itu, baru down bisnisnya, dan kini sedang menunggu "rapelan" cair. Kalau cair, berarti spanduk aman. Kalau tak cair, seribu amunisi lain sudah Anton siapkan. Dalam berpolitik, dia seolah punya seribu nyawa.

Itulah Anton. Mungkin masih banyak di negeri ini yang memilih jalan hidup-politik seperti dirinya. Dia bisa jadi cermin para bacaleg, terutama yang miskin gagasan dan idealisme. Kisahnya sangat inspiratif. Semula saya duga, keputusan dia nyaleg itu sekadar iseng. Main-main. Politik hiburan atau penggembira saja. 

Ternyata saya keliru abis. Dia benar-benar sangat serius. Akhirnya, saya berharap, para petinggi parpol mendukung orang-orang seperti Anton, terutama dalam proses rekrutmen politik. Jika langkah itu ditempuh, citra buruk Senayan lambat laun terobati.




Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)





2019 | WWW.RILIS.ID