logo rilis
Awas! DPR Peringatkan Bank Indonesia Pelemahan Rupiah Masih Bisa Berlanjut
Kontributor
Elvi R
27 April 2018, 14:52 WIB
Awas! DPR Peringatkan Bank Indonesia Pelemahan Rupiah Masih Bisa Berlanjut
Penukaran Valas. FOTO: RILIS.ID/Indra Kusuma

RILIS.ID, Jakarta— Wakil Ketua Komisi X DPR RI Achmad Hafisz Tohir menginginkan Bank Indonesia untuk berhati-hati dalam melakukan intervensi terhadap sejumlah elemen finansial seperti pasar valuta asing dan Surat Berharga Negara (SBN), mengingat kondisi perekonomian global saat ini.

"Bank Indonesia harus ekstra hati-hati dalam melakukan intervensi terhadap pasar valas maupun pasar SBN dengan terus mewaspadai risiko berlanjutnya tren pelemahan nilai tukar rupiah," kata Achmad Hafisz Tohir di Jakarta, Jumat (27/4/2018).

Menurutnya, risiko berlanjutnya tren pelemahan nilai rupiah terhadap mata uang dolar Amerika Serikat harus diwaspadai. Baik karena kenaikan harga minyak dunia atau kemungkinan arus keluar pasar SBN dan saham Indonesia.

Politisi PAN itu juga mengingatkan sejumlah gejolak global seperti dampak kenaikan suku bunga AS dan perang dagang AS-China.

"Jika dolar menguat terhadap rupiah, harga BBM akan tertekan, baik yang subsidi maupun non-subsidi. Efeknya penyesuaian harga BBM berbagai jenis diprediksi akan terus berjalan," paparnya.

Dia berpendapat, nilai tukar rupiah juga terkait erat dengan sejumlah indikator makro lainnya. Sehingga juga menjadi prasyarat penting dalam rangka meningkatkan daya saing perekonomian.

Sebelumnya diwartakan, modal asing yang masuk ke Indonesia melalui saham dan Surat Berharga Negara di dua pekan pertama April 2018 menembus US$800 juta, setelah sepanjang Maret 2018, pasar keuangan domestik tertekan dengan banyak dana asing keluar.

Deputi Gubernur BI Dody Budi Waluyo di Jakarta, Kamis (19/4) malam, menyebutkan kepercayaan investor untuk masuk ke portoflio domestik meningkat, salah satu dipicu kenaikan peringkat utang dari Moody's Investor Service menjadi baa2/outlook stable dari baa3/outlook stable.

"Selain itu, ini juga dampak dari Surat Utang Negara juga masuk ke dalam Global Bond Index. Ini memberikan gambaran bahwa investor asing memberikan keyakinan kepada Indonesia," ujar dia.

Meski demikian, Dody menyebutkan, tekanan ekonomi eskternal juga meningkat. Tekanan itu bersumber dari peningkatan ketidakpastian pasar keuangan dunia menyusul rencana kenaikan suku bunga acuan Federal Reserve untuk kedua kalinya di Juni 2018, kenaikan harga minyak, dan kemungkinan berlanjutnya perang dagang AS-Tiongkok.

Arus modal masuk juga membuat BI yakin cadangan devisa tidak akan tergerus terlalu dalam untuk mejaga nilai tukar rupiah. Cadangan devisa Indonesia akhir Maret 2018 sebesar US$126,00 miliar.

Tekanan eksternal yang cukup kencang dinilai akan datang sepanjang Mei 2018 menjelang perkiraan kenaikan suku bunga acuan Federal Reserve pada Juni 2018 dan dinamika perang dagang AS dan China.

Sumber: ANTARA


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)