Home » Inspirasi » Sosok

Audrey Yu Jia Hui, Simbol Patriotisme Anak Muda Tionghoa

print this page Kamis, 26/10/2017 | 21:09

Audrey Yu Jia Hui. ILUSTRASI: RILIS.ID/Hafidz Faza

JATUH cinta pada Pancasila. Seperti itulah gambaran yang diperoleh saat bertemu dan berbincang dengan Audrei Yu Jia Hui. Anak genius yang lahir di Surabaya, 1 Mei 1988. Meski begitu, tak jarang dirinya merasa apes tumbuh dan berkembang di Indonesia. Sejak umur 3 tahun, Audrey mengaku pemikirannya sudah dirasa aneh di mata orang lain. Akhirnya, pertemanan pun susah didapatkan oleh Audrey.

Pengagum Mahatma Gandhi ini menyelesaikan pendidikan SMP selama satu tahun, pendidikan SMA-nya bahkan ditempuh hanya dalam waktu sebelas bulan dan menamatkan S1 di The College of William and Mary Virginia, Amerika Serikat, pada usia 16 tahun. Kecintaannya pada Pancasila pernah ia torehkan dalam bukunya, Mencari Sila Kelima, 2014 lalu. Buku itu merupakan panggilan tulus bagi anak Indonesia untuk membumikan Pancasila.

Terus berikhtiar adalah pilihan yang diambil Audrey. Ini berkat ajaran gurunya semasa SD, yang mengatakan, “Kalau belajar dengan giat, cita-cita pasti akan tercapai, apa pun cita-citanya.” Ia dapat rasakan betul, problem yang mengimpitnya dapat selesai dengan sendirinya, manakala ia terapkan pesan gurunya itu; giat dalam belajar. “Karena motto belajar kan begitu,” kata Audrey kepada rilis.id beberapa waktu lampau.

Cita-citanya sederhana, punya teman. Belajar hanyalah alat baginya untuk bisa disenangi dan bergaul dengan teman-teman sebayanya kala itu. Usaha ini mengantarkan Audrey lulus kuliah di usia 16 tahun. Yang tak dimengerti olehnya adalah, setelah belajar giat, menyandang predikat genius, cita-cita itu pun tak mudah ia capai. Teman tak kunjung didapatkannya.

“Akhirnya, teman-teman saya adalah buku-buku, kamus-kamus, karya sastra, dan segala bentuk teks lainnya. Saya tidak perlu guru untuk mendapatkan top score dalam segala jenjang dan jenis ujian yang saya lalui,” kenangnya penuh haru.

Tak kehabisan usaha, penulis buku Mellow, Yellow, Drama ini, untuk mendapatkan teman, bahkan memilih untuk jadi tentara, ia ingin mendaftar ke TNI. Inspirasi ini didapatkannya saat melihat banyak di antara para mahasiswa setelah menyelesaikan kuliah di Amerika memilih masuk militer. Audrey pilih jalan ini. Meski tentu, niatnya untuk menjadi bagian dari TNI bukan untuk berperang, apalagi menghilangkan nyawa seseorang.

Ia ingin menjadi seperti sosok pahlawan perang di Amerika dalam cerita klasik. Desmond Doss namanya. Kisah ini diabadikan dalam film Hacksaw Ridge. Dalam layar lebar itu, Desmond menolak untuk mengangkat senjata saat terlibat dalam Perang Dunia II. Ia memilih untuk jadi paramedis. Atas pilihan itu, Desmond berhasil menyelamatkan puluhan bahkan ratusan tentara AS. Menjadi tentara, Desmond tak merenggut nyawa, bahkan justru menyelamatkan nyawa.

Pilihan Audrey untuk bergabung dalam TNI bersinggungan langsung dengan cintanya pada Pancasila. Ia adalah simbol patriotisme generasi muda. Di TNI, ia ingin mengabdi sekaligus mendapatkan teman. “Di Amerika, walaupun wanita, mereka masuk ke tentara. Saya ingin begitu, bukan untuk membunuh orang, tapi membela negara dengan ngurusin komputer, logistik, dan lain-lain,” terang Audrey penuh semangat.

Secara bulat, Audrey ingin jadi tentara. Di usia 16 tahun, ia berpikir ketika pulang ke Indonesia, namanya bisa disematkan di papan nama seragam loreng-loreng. Alasannya tetap, ingin punya teman. Ia berpendapat, semua gadis saat usia 16 tahun pasti pengin dicintai, ingin dapat sahabat ataupun kekasih.

Sejenak, Audrey dapatkan itu. Ia mengaku saat membulatkan tekad menjadi tentara, banyak orang mendekat padanya. Hanya saja, pendekatan itu tak sesuai harapannya. “Banyak orang yang kalau misalnya ngomong suka sama saya, itu fokusnya fisik. Karena saya ini cantik lah, kulit saya putih, saya ini pintar, karakternya baik, semuanya bilang begitu. Tapi saya itu pengin orang mencintai saya karena saya cinta Indonesia. Saya pengin orang melihat saya cantik karena saya patriotik. Tapi tidak ada yang bilang begitu,” ujar Audrey gundah.

Pendiri Komunitas Cinta Kompatriotku ini sadar betul, dunia kemiliteran menjunjung tinggi semangat perkawanan. Baginya, napas TNI itu sangat egaliter. Entah itu kepada mereka yang kulit putih, kulit hitam, suku ini suku itu, semuanya bersaudara di dunia tentara.

Kebulatan tekad ternyata tak sesuai dengan realitas yang dihadapinya. Setibanya di Tanah Air yang dicintainya, Audrey lantas jadi bahan bulan-bulanan. Tak ada satu pun yang menanggapinya serius. Ia bahkan ditinggalkan. Lingkungan sekitar bahkan kecewa padanya. Berhadapan dengan situasi itu, Audrey sempat terpuruk. Di usianya yang masih belia, ia bahkan mengalami stres dan depresi.

“Orang kalau stres dan depresi kan pergi ke konselor atau terapi atau psikolog. Saya lakukan itu. Mereka semua tidak nyambung, karena tidak pernah ada pasien seperti saya. Akhirnya, omongan mereka ngawur, katanya saya sinting,” kenang Audrey yang tampak sedih namun tetap tertawa kecil.

Gagal menjadi tentara, Audrey lalu banting setir menjadi penulis. Ia berkisah, keputusan untuk menulis buku diambilnya lantaran terus dirundung kekecewaan. Kendati begitu, awalnya, sebagai penulis ia masih tidak percaya diri. Sejak kecil, Audrey memang sering kali diolok-olok orang. Ia tak patah semangat. Ia pun bangkit dengan beragam karya yang berjejer di toko buku kenamaan dalam dan luar negeri.

“Walaupun sudah nulis buku, saya itu masih tidak pede, karena saya sejak kecil itu diolok-olok orang. Bahwa saya ini orang Cina bukan orang Indonesia. Papa dan Mama saya juga tidak mendukung patriotisme saya. Di lingkungan Gereja juga demikian, bahkan di lingkungan bisnis keluarga saya pun begitu. Jadi saya rendah diri sekali dulu itu. Tidak berani bicara dan cuma berani nulis buku, itu pun saya lakukan sendirian di rumah,” ungkapnya.

Cinta kasih adalah frasa agung yang dipegang teguh Audrey. Dengan latar hidup yang dilaluinya, ia tetap ingin berbagi itu. Baginya, cinta adalah pegangan hidup umat manusia. Manusia Indonesia pun perlu sesuatu untuk dicintai. Audrey kadang merasa tidak ada yang bisa berkomunikasi dengannya. Untuk itulah, ia perlu semacam idealisme untuk menggantikan cinta yang tidak didapatkan dari sesama manusia. Itulah Pancasila, cinta sejatinya.  

Audrey, yang sempat merasa bahwa dunia ini bukan tempatnya, pun bangkit. Ia merasa ada tanggung jawab sebagai generasi untuk Indonesia yang dicintainya. Ia juga menjadikan agama Katolik sebagai tumpuan hidup bernegara. Audrey berkeyakinan, dengan beragama, orang akan mampu memenuhi kebutuhannya atas cinta. Ia juga merasa dapat bersukacita dalam kesengsaraan. Tanpa harus menjadi fanatik dan lantas merendahkan orang lain.

“Karena saya percaya, pada saat kita merendahkan orang lain, kita sudah kehilangan kemanusiaan kita,” katanya.

Ia pun mengajak generasi muda Indonesia untuk tidak merasa bahwa gaya hidupnyalah yang paling baik dan menganggap gaya hidup kelompok lain lebih rendah. Audrey punya pengalaman sendiri dengan hal ini. Nama lahirnya adalah Maria Audrey Lukito. Setelah mengganti nama, Audrey sempat mendapatkan respons yang menyudutkan.

“Saya beberapa tahun yang lalu ganti nama secara hukum. Alasannya, karena seumur hidup itu saya selalu malu jadi orang Tionghoa. Dan pada saat saya mengambil nama Tionghoa saya kembali, saya ingin bikin pernyataan bahwa saya bisa pada saat yang sama mencintai budaya leluhur saya tapi di sisi lain mencintai Pancasila dan Indonesia,” tandasnya. 

Penulis Taufiq Saifuddin
Editor Ahmad Fathoni

Tags:

Audrey Yu Jia HuiPancasilaSosok

loading...