Atasi Masalah, Papua Butuh Tokoh Pemersatu - RILIS.ID
Atasi Masalah, Papua Butuh Tokoh Pemersatu
Zulhamdi Yahmin
Jumat | 25/10/2019 22.27 WIB
Atasi Masalah, Papua Butuh Tokoh Pemersatu
FOTO: RILIS.ID/Zulhamdi Yahmin

RILIS.ID, Depok – Papua memerlukan tokoh pemersatu yang diterima semua masyarakat. Ketokohan diperlukan untuk mengelola dan menyelesaikan permasalahan di Papua agar tidak dimanfaatkan provokator.

Demikian kesimpulan diskusi terbuka yang digelar Forum Mahasiswa Primordial Indonesia (FMPI) di Auditorium Komunikasi Fisip Universitas Indonesia (UI) Depok  Jawa Barat, Rabu (23/10/2019).

Diskusi dengan tema "Upaya Meujudkan Perdamaian di Bumi Cenderawasih, Hindarkan Masyarakat dari Provokasi dan Hoax" dihadiri 60 orang elemen mahasiswa dan pemuda. Hadir menjadi narasumber yakni anggota DPR asal Papua Yan Mendenes, Tommi Tirtawiguna dari Kominfo RI dan pemerhati masalah Papua Arland Suruan. 

Yan Mendenes mengatakan, saat ini terjadi pengelompokan masyarakat di Papua. Dulu hanya ada dua kelompok, yaitu pro NKRI dan pro kemerdekaan. Namun setelah otonomi khusus (otsus), terpecah lagi menjadi pro otsus dan pro pemekaran. Selain itu juga ada tujuh wilayah adat. 

"Harus ada tokoh yang bisa mempersatukan dan diterima masyarakat Papua karena untuk menarik simpati masyarakat Papua tidak mudah," kata Yan.

Yan menjelaskan, permasalahan Papua tidak dikelola dengan baik sehingga dimanfaatkan provokator. Padahal, lanjut Yan, pemerintah pusat tidak kurang apapun dalam pembangunan di Papua.

"Yang diperlukan hanya pendampingan terhadap Pemda Papua agar perangkat daerah lebih maksimal menjalankan roda pemerintahan,"ujar Yan.

Sementara Arland Suruan mengungkapkan, berbagai tantangan terjadi di Papua. Salah satunya upaya menangkal hoaks alias berita bohong.

"Semua harus digandeng untuk menangkal hoaks," tegas dia.

Pendapat senada juga diungkapkan Tommi. Menurutnya, hoaks adalah berita bohong yang sengaja disebarkan untuk mempengaruhi emosi orang.

"Berita bohong yang disebar dan dibahas terus menerus dapat dianggap berita benar. Inilah yang paling berbahaya," tandasnya. 


Bagaimana reaksi anda tentang artikel ini?
500
komentar (0)




2020 | WWW.RILIS.ID