logo rilis
ASITA Kaji Penurunan Wisman ke Indonesia
Kontributor
Nailin In Saroh
07 Maret 2018, 19:44 WIB
ASITA Kaji Penurunan Wisman ke Indonesia
ILUSTRASI: RILIS.ID/Hafidz Faza

RILIS.ID, Jakarta— Ketua Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Association of the Indonesia Tours and Travel Agencies (ASITA) Asnawi Bahar mengungkapkan, pihaknya tengah mengkaji penyebab menurunnya wisatawan mancanegara (wisman) ke Indonesia. Sebab, biasanya pada musim ini Tanah Air dibanjiri turis asing yang menghindari cuaca esktrim di negaranya, khususnya wisman Eropa.

"Year to year (yty), kalau kita compare turun 6,0 persen. Penurunan ini agak anomali, karena seharusnya musim dingin di Eropa, jumlah wisatawan (ke Indonesia) naik. Ini yang akan kita coba kaji dalam beberapa hari, karena seharusnya ketika musim dingin di Eropa, khususnya yang ekstrim itu kan keluar, kok kenapa tidak ke Indonesia?" ujanya kepada rilis.id di Jakarta, Rabu (7/3/2018).

Menurut dia, pelemahan rupiah justru menjadi peluang bagi wisman untuk berkunjung ke Indonesia. Sebab, cost perjalanan akan lebih murah. Lagipula, kata Asnawi, destinasi utama yakni Bali sudah terbilang aman pasca erupsi Gunung Agung.

"Saya perkirakan ada hal tertentu yang menyebabkan penurunan, tapi karena masih dalam kondisi berjalan, jadi kita harapkan 'faktor x' tidak ada. Karena kan dalam proses recovery, akibat Gunung Agung. Tapi, sejak bulan lalu Bali sudah normal dengan angka (pengunjung) 14-15 ribu tercapai. Jadi otomatis tidak ada pengurangan," ungkapnya.

"Namun, mungkin pengaruh Gunung Agung masih terdampak ke psikologis masyarakat asing. Ada kekhawatiran walaupun sudah kita jelaskan tidak ada masalah. Ini yang mungkin kita kaji ulang di mana salahnya. Apakah recovery masih berlangsung, ini akan terjawab dalam beberapa hari ini," kata Asnawi menambahkan.

Meski demikian, Asnawi mengaku Bali masih menjadi primadona lokasi wisata bagi wisman, dengan capaian kunjungan 40 persen. Kalau pun ada faktor lain di luar recovery bencana alam, Asnawi mencurigai testimoni wisatawan Cina terhadap kondisi Bali.

"40 persen (wisman) masih di Bali, kan sekarang booming wisatawan Cina yang tahun kemarin hampir 2 juta (wisatawan datang)," jelasnya.

Dengan kondisi tersebut, ASITA masih memantau seberapa signifikan kunjungan wisman Cina tahun lalu, dalam mempengaruhi jumlah wisman ke Indonesia tahun ini.

"Dampak berikutnya akan kita ketahui enam bulan ke depan. Apakah pengaruh wistawan Cina yang agak berisik (bakal berpengaruh pada kunjungan tahun ini) ya. Mudah-mudahan minata orang tidak berkurang ke Bali," tukasnya. 

Editor: Intan Nirmala Sari


500
komentar (0)