logo rilis
Asian Games, Pesta dan Kampanye Sebenarnya
kontributor kontributor
Yayat R Cipasang
03 September 2018, 11:27 WIB
Penulis seorang kerani dan penyelia di RILIS.ID
Asian Games, Pesta dan Kampanye Sebenarnya
ILUSTRASI: Hafiz

TIDAK ada pesta yang tak berakhir. Apakah itu dipaksa atau memang karena takdir. 

Pun, Asian Games 2018 yang harus tutup layar. Karena ke depan masih ada ajang dan pesta lain semisal Olimpiade Tokyo 2020. Dan bagi atlet waktu dua tahunan bukan sebuah saat yang ideal untuk larut dalam euforia bila ingin mendapatkan medali.

Sama seperti acara pembukaan Asian Games 2018 yang mengundang pujian dan cacian di kalangan netizen, acara penutupan pesta warga Asia itu pun kembali tak luput dari cibiran dan juga komentar miring.

Karena ini di tahun politik sepertinya sah-sah saja terutama petahana untuk mengoptimalkan dan juga mengefektifkan segala acara dan sumber daya untuk kepentingan politiknya.

Ketika Jokowi dalam pembukaan Asian Games menjadi 'bintang iklan' sepeda motor Honda tentu tak ada yang melarang. Begitu juga ketika Jokowi tetap tampil dalam acara penutupan kendati dari tempat nun jauh di sana di lokasi korban gempa bersama-sama warga Lombok.

Galibnya, pembukaan adalah milik Presiden. Sedangkan penutupan adalah saatnya tampil sepenuhnya untuk Wakil Presiden. Sekadar, pembagian peran.

Lho, bukankah yang pidato Wakil Presiden Jusuf Kalla? Betul, tapi Presiden Jokowi juga tampil dari Lombok bersama warga korban gempa di tenda pengungsian. 

Andai bukan tahun politik mungkin apa yang dilakukan Presiden Jokowi tidak akan melebar kemana-mana. Karena persoalannya kan sederhana tetapi kata Pramoedya Ananta Toer hidup menjadi rumit karena tafsirannya. Jadi sah-sah saja karena di tahun politik begitu banyak tafsiran.

Cuma mungkin ada yang terlewatkan dari tim kampanye dan juga tim kreatif acara Asian Games 2018, kendati ini terlambat. Seandainya Presiden Jokowi tidak berada di barak atau tenda melainkan di sekitar puing-puing gempa mungkin bisa lebih dramatis, humanis dan juga menyentuh. Karena tentu saja warga Asia tidak semuanya bisa menafsirkan Presiden Jokowi berada di mana. Tidak semua warga Asia mengetahui ada gempa di Lombok.

Arkian, dimana pun penguasa adalah sasaran kritik rakyatnya. Bahkan mungkin di tempat lain di negara lain dibenci rakyatnya. Itu risiko kekuasaan. Kalau tidak mau dikritik atau dibenci rakyat, jadilah oposisi.

Pesta telah usai dan Indonesia menuju pesta yang sebenarnya, Pileg dan Pilpres 2019. Energi bangsa ini yang masih tersisa sepertinya akan banyak terkuras pada pesta lima tahunan. Apakah petahana berhasil dua periode atau oposisi yang berjaya?

Sebuah harian nasional menulis headline "Indonesia, Kalian Hebat". Inilah pengakuan warga Asia. Bukan Presiden atau Wakil Presiden yang hebat. 

Bahkan secara khusus Wapres Jusuf Kalla dan juga Ketua Panitia Asian Games 2018 Erick Tohir memuji puluhan ribu relawan yang bekerja siang malam di Jakarta, Palembang dan Jawa Barat.

"Meski terpencil dari hiruk-pikuk di gelanggang, meski tersembunyi dari sorotan dan publikasi media, meski terselip di antara gegap gempitanya rangkaian Asian Games ke-18 ini. Namun sesungguhnya kalianlah yang telah membangun panggung itu. Ketika medali disematkan, sesungguhnya kalianlah yang sedang mengalungkan medali tersebut kepada para juara. Ketika lagu-lagu kebangsaan dikumandangkan, sesungguhnya sebagian penghormatan itu adalah milik kalian.

Tanpa kerja keras kalian siang dan malam, niscaya perhelatan Asian Games ke-18 ini tidak akan sukses hingga resmi ditutup pada malam ini. Kalian telah mewakafkan semua yang terbaik yang kalian miliki untuk bangsa ini."

Subhanallah, pujian tulus dan penghargaan hebat dari seorang pemimpin.




Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)





2019 | WWW.RILIS.ID