logo rilis

Arif Satria: IPB Dibangun untuk Melahirkan Kepemimpinan Nasional
Kontributor
Yayat R Cipasang
15 Desember 2017, 07:54 WIB
Arif Satria: IPB Dibangun untuk Melahirkan Kepemimpinan Nasional
ILUSTRASI: Hafiz

INSTITUT Pertanian Bogor (IPB), Jumat (15/12/2017), resmi memiliki rektor baru yang muda dan visioner, Dr. Arif Satria. Salah satu program kerja yang dicanangkannya ke depan, IPB dibangun untuk menghasilkan kepemimpinan nasional dalam segala bidang.

Caranya, Arif akan mengundang ketua OSIS SMA terbaik dari seluruh Indonesia untuk kuliah di IPB. Ketua OSIS dianggap memiliki leadership dan juga gen kepemimpinan untuk dipersiapkan menjadi pemimpin yang berkarakter di masa depan.

Baca Juga

Sehari sebelum dilantik, wartawan rilis.id Yayat R Cipasang berkesempatan mewawancarainya di Kantor Dekan Fakultas Ekologi Manusia di Kampus Dramaga, Bogor,  Jawa Barat. Berikut petikannya.

Kalau boleh tahu, seperti apa perasaan Anda saat ini?

Secara umum biasa saja. Nervous pasti ada. Ada deg-degannya karena saya menerima amanah yang begitu sangat besar. Saya juga harus mempersiapkan fisik dan mental yang prima dalam mengemban amanah ini.

Ini adalah titik sejarah dalam kehidupan saya yang akan menentukan nasib IPB ke depan. Karena selama masa jabatan itu saya akan mengeluarkan kebijakan-kebijakan seperti apa IPB ke depan. Pertaruhannya sangat luar biasa.

Tapi saya selalu optimistis, amanah ini kan kepercayaan publik dan kepercayaan IPB yang harus saya laksanakan dan pertanggungjawabkan.

Pernah tebersit dalam pikiran bahwa suatu saat akan menjadi Rektor IPB?

Pernah terlintas. Tapi soal jabatan ini sebenarnya bukan tentang ambisi tetapi perihal panggilan. Ingin berbuat sesuatu dan ingin melakukan perubahan dan memberikan warna baru di IPB. Tepatnya, saya merasa terpanggil.

Anda terpilih secara mufakat, apa maknanya?

Ini sejarah baru di IPB rektor dipilih secara mufakat. Sebelumnya lewat voting. Ini berarti suara yang memilih saya bulat dan ini berarti sebuah kepercayaan yang luar biasa dari Majelis Wali Amanat IPB. Tentu kepercayaan ini tidak boleh saya sia-siakan, dipegang betul dan saya harus bekerja keras untuk melaksanakannya.

Alasan terpilih karena Anda masih muda dan juga memiliki jaringan, benar begitu?

Muda itu relatif. Muda tapi berpikir masa lalu juga nggak bagus. Orang tua berpikir masa depan juga bagus. Kan begitu. Jadi kriterianya bukan pada usia tetapi apakah dia berpikir terus kepada masa lalu atau berpikir ke masa depan. 

Kalau networking insya Allah saya akan memaksimalkan jaringan yang ada untuk membantu pengembangan IPB. Karena memang suka menulis dan saya juga suka berteman. Itu semua modal dalam membuat jejaring.

Sejak kapan jaringan itu terbangun?

Ya, sejak mahasiswa. Dulu saya juga kan Presidium Senat Mahasiswa IPB. Saya juga pernah di PB HMI dan ICMI. Saat di senat saya banyak bergaul dengan teman-teman aktivis dan itu terjalin hingga sekarang.

Jadi rektor tentu sangat sibuk, masih tetap akan menulis untuk media massa?

Saya akan tetap menulis. Selain karena ide sendiri, saya juga sering diminta redaksi media menulis isu tertentu. 

Dan yang paling penting juga, saya itu kalau bikin opini atau kolom saya tulis sendiri tidak ditulis orang lain. Saya ketik sendiri. Biasanya saya kalau menulis itu menjelang atau setelah shalat Subuh dan saat di pesawat. Dua jam atau tiga jam dalam pesawat juga bisa rampung satu tulisan. Menulis di pesawat itu tidak ada yang mengganggu.

IPB adalah kampus besar dengan puluhan ribu mahasiswa dan lebih dari 1.200 dosen serta sekira 3.000 tenaga kependidikan. Bagaimana cara menyinergikannya sehingga menjadi sebuah kekuatan dan keunggulan?

Ya, kita punya mahasiswa 27.000 orang. Yang penting mereka itu paham tentang visi IPB. Dan itu yang menjadi tantangan saya ke depan bagaimana memberikan pemahaman visi kepada mereka ini sehingga visi IPB menjadi visi bersama.

Ketika muncul persoalan dalam bidang pertanian atau pangan selalu yang menjadi sasaran dirisak adalah IPB. Sementara fakultas pertanian dan sejenisnya itu kan tidak cuma di IPB bertebaran juga di kampus lain. Seperti apa Anda menyikapi soal ini? 

Saya senang saja berarti IPB itu diperhatikan orang. Berarti masyarakat itu masih memiliki harapan besar kepada IPB. Ada harapan publik yang sangat besar kepada IPB. 

Jadi harapan besar itu bagi saya justru menjadi modal untuk mengoreksi diri sekaligus menata langkah ke depan. Jadi kritik-kritik itu bagi saya sebagai masukan yang sangat berharga. Itu menunjukkan mereka itu berharap besar kepada IPB.

Itu bagus. Coba kalau ada masalah, IPB di-cuekin berarti mereka sudah tidak mengangggap IPB lagi. 

Thailand dan Vietnam cukup maju dalam bidang pertanian dan pangan. Kenapa kita susah sekali meniru mereka?

Sebenarnya kita bisa, saya yakin bisa. Cuma kita ada permasalahan dalam bidang lahan. Ketersediaan lahan makin lama makin mengecil karena adanya konversi (peralihan peruntukan).

Kemudian masalah governance relasi lembaga yang terkait dengan pertanian. Kalau governance-nya bagus mungkin kita bisa segera lepas dari segala permasalahan yang membuat pertanian kita sulit berkembang.

Dulu zaman Pak Harto kan bagus. Governance bagus karena koordinasi kementerian tertata dan rapi sekali. Memang kita membutuhkan strong government yang luar biasa. Setelah reformasi memang problemnya governance karena partai politik sudah dominan, ada representasi partai politik di kementerian dan di mana-mana. 

DPR sangat berkuasa sehingga variabelnya jadi banyak. Dulu variabelnya cuma teknis. Ada inovasi, ya sudah tinggal penyuluhan, disosialisasikan, selesai permasalahan. Sekarang nggak bisa. Dulu DPR nggak ribut.

Isu pangan itu kan permasalahan tata kelola, soal governance. Relasi antarlembaga yang terlibat, hubungan antara aktor-aktor yang ada. Dulu semua tunduk sama Pak Harto. Sehingga mudah diatur. Sekarang tunduk pada kepentingan masing-masing.

Harusnya relasi antarlembaga terjadi konvergensi. Misalnya sekarang IPB dengan Kementan apakah sudah ada konvergensi riset? Memang di Thailand dan Vietnam governance-nya bagus. Di sana raja peduli dan langsung memimpin pembangunan pertanian. Kalau di Vietnam faktornya beda lagi. Faktor komunisme. Pemerintahannya sentralistik.

Sebenarnya intinya bukan terkait dengan apa paham yang dianut oleh sebuah negara. Intinya pada strong government itu. Ketika pemerintah kuat maka semuanya tunduk, tidak gaduh dan tidak ribut.

Gerakan Presiden yang membagi-bagikan sertifikat tanah belum cukup sebagai bagian dari solusi?

Itu bagus. Tetapi Pak Jokowi punya tantangan berat sekali. Sekarang bukan semata-mata inovasi, tetapi juga menjamin hubungan antarlembaga itu jadi lancar.

Terkait bagi-bagi lahan bahwa agraria itu kan ada landreform dan ada access reform. Reformasi agraria itu harus disertai access reform. Misalnya, akses terhadap modal dan juga akses terhadap teknologi. Selama hanya bagi-bagi lahan tanpa diserta access reform, maka ya sama saja. 

Perihal pemeringkatan kampus dunia yang dilakukan oleh lembaga tertentu, bagaimana sikap IPB?

Menurut saya peringkat itu akibat. Bukan tujuan. Peringat itu sah-sah saja diupayakan karena itu menyangkut reputasi. Itu menyangkut psikologis dan kebanggaan. 

Memang ada dua mazhab ada yang anti-ranking yang menganggap sia-sia saja untuk mengejarnya tetapi di sisi lain ada yang memang mengejar ranking. Tetapi saya dalam posisi ranking itu akibat. Penting demi reputasi dan mau tidak mau.

Coba bayangkan Indonesia misalnya kampusnya di atas 500 semua. Maka ketika kampus Amerika atau Eropa akan bekerja sama dengan kampus di dalam negeri mereka akan berpikir ulang dan membatalkan rencananya.

Peringkat itu dibutuhkan perguruan tingggi dalam negeri untuk dapat memiliki akses dengan dunia internasional. Demi kepentingan reputasi mau tidak mau kita juga harus mengejar ranking itu.

Untuk lima tahun ke depan apa yang menjadi prioritas Anda?

Target saya simpel saja. Intinya kan untuk menghasilkan lulusan. Tentu lulusan yang adaptif, ungggul, dan menjadi trend setter perubahan. Sehingga mereka juga memiliki kapasitas sebagai calon-calon pemimpin. 

Saya ini ingin mencetak pemimpin. IPB ini ingin mencetak pemimpin. Pemimpin di dunia bisnis, politik, dunia birokrasi dan LSM. Intinya, ke depan saya akan mencetak para pemimpin masa depan.

Terkait kritik Presiden Jokowi saat  sidang terbuka Dies Natalis ke-54 bahwa lulusan IPB banyak yang tidak bekerja dalam bidang pertanian lebih banyak di bidang perbankan, jurnalis atau lainnya, pendapat Anda?

Kritik presiden menjadi persoalan dan itu kita jadikan sebagai introspeksi. Meskipun, sebenarnya dari hasil survei kita 70 persen lulusan IPB masih relevan dengan bidang pertanian. Jadi hanya 30 persen di luar itu. 

Menurut saya wajar saja. Tetapi yang penting bagaimana menghasilkan lulusan yang memiliki kemampuan unggul dan punya kontribusi untuk bangsa ini.

Stempel apa pun yang ditujukan kepada IPB itu menjadi bahan koreksi bagi kita. Silakan saja orang lain punya stempel kepada kita untuk bahan perbaikan kita untuk lebih istikamah lagi di bidang pertanian.

Tadi dikatakan IPB akan diarahkan sebagai penghasil pemimpin maksudnya?

Ya, IPB kita bangun menjadi penghasil pemimpin berkarakter technopreneur mengembangkan bisnis enterprise dan sociopreneur mengembangkan socioenterprise seperti pembangunan masyarakat, mengorganisir petani dan kewirausahaan sosial.

Kenapa kita membutuhkan pemimpin berkarakter technopreneur? Karena kita ke depan membutuhkan pelaku-pelaku baru dalam bidang pertanian. Sekarang saja pelaku pertanian yang berkategori muda hanya 39 persen. Selebihnya sudah lanjut. Ini lampu kuning bagi kita.

Seperti apa tahapan yang akan dilakukan IPB untuk menghasilkan pemimpin berkarakter seperti itu?

Saya kira kita harus punya startup school sebagai sebuah proses penyiapan mereka sebagai pelaku usaha. Ada pendampingan dan ada mentoring, proses inkubasi dan tahapan lainnya. 

Oleh karena itu, mau tidak mau mereka harus cinta pertanian. Cinta pertanian bisa dilakukan kalau mereka dekat dengan kenyataan sehari-hari. Mereka bersentuhan dengan realitas. Dengan kondisi seperti ini maka mereka semakin tahu persoalan. Minimal dia tahu masalah dan bisa menjelaskan masalah itu.

Lulusan IPB yang menjadi pengusaha itu baru 7,6 persen. Minimal kita 10 persen dan bertahaplah. Tapi ini kan by accident bukan dirancang. Mereka kerja di mana kemudian keluar bikin usaha sediri. Atau melamar ke mana-mana ditolak kemudian memilih wirausaha. Jadi, bisnis baru sebagai opsi.

Nah, kita akan rancang pelaku bisnis ini dengan desain yang bagus dan terencana. Dengan accident saja kita 7,6 persen, mungkin dengan perencanaan yang bagus bisa menghasikan pelaku usaha lebih besar dari itu. Karena itu akan kita persiapkan startup school yag serius.

Memulainya seperti apa?

IPB memiliki terobosan baru mulai 2018. Kita akan undang ketua OSIS dari SMA bagus di seluruh Indonesia untuk masuk dan menjadi mahasiswa IPB. Ini untuk memudahkan proses yang ada di IPB. Mereka itu kan memiliki leadership dan memiliki gen kepemimpinan dan ketika masuk IPB tidak terlalu berat untuk memolesnya. 

Nanti mereka akan kita mapping, siapa yang berminat untuk menjadi pengusaha, siapa yang bermiat menjadi sociopreneur, siapa yang berminat menjadi birokrat, siapa tertarik menjadi peneliti. Setelah mapping kemudian kita arahkan. Kesalahan kita selama ini tidak ada mapping sejak awal sehingga potensi tidak terpotret dengan baik.

Program apa lagi untuk memperkuat IPB ke depan?

Saya kira yang sangat mendesak adalah pengembangan teknologi informasi (TI) untuk segala bidang di IPB. Karena teknologi informasi ini adalah darah dalam manajemen modern. Yang akan kita kembangkan TI untuk penunjang operasional manajemen dan TI untuk menunjang riset. Ini  harus rampung di tahun pertama agar untuk tahun berikutnya relatif ringan untuk digital capability IPB ini.

Kemudian yang saya pikirkan juga tentang 3.000 karyawan kependidikan. Ini terlalu gemuk dan ini tidak efisien. Saya harus siapkan konsep dan mekanisme untuk menyelesaikan ini sehingga tidak menimbulkan permasalahan. Organisasi tetap berjalan dan problem sosial juga tetap teratasi. Tapi ini tidak jangka pendek, ini bertahap. Saya akan siapkan skema-skemanya.

Dan yang terpenting adalah segera menyiapkan konsep untuk mengundang para ketua OSIS dari seluruh SMA terbaik di seluruh Indonesia. Kita harus persiapkan semua infrastrukturnya karena akan kita eksekusi pada 2018.

Belakangan ini isu pangan begitu sensitif baik di tingkat global maupun nasional. Apa penyebabnya?

Wajar sensitif dan menjadi ramai karena hidup matinya sebuah bangsa tergantung pada pangan. Sehingga orang berebut. Semakin ramai karena bisnis juga bermain di situ. Nah, ketika bisnis masuk dalam bidang pangan maka mereka menjadi dominan. Ketika dia sudah dominan kemudian dia menciptakan agar sebuah bangsa atau negara menjadi ketergantungan.

Saya kira kita sekarang harus terus menciptakan varietas yang tidak bisa diciptakan oleh orang atau negara lain. Kalau varietas kita habis maka kita hanya akan menerima  varietas yang dipasok oleh perusahaan multinasional. Nah, suatu saat ketika varietas kita habis kita akan tergantung terus pada varietas multinasional. Otomatis kita pun tidak bisa melakukan inovasi.

Itu menurut saya tantangan besar kita ke depan. Karena itu menurut saya kembalilah bangsa ini kepada keragaman termasuk dalam varietas. Varietas-varietas lokal harus berkembang dan eksis. Karena begini, ekosistem yang bagus adalah ekosistem yang heteregon. 

Bagaimana dengan kesejahteraan petani kita?

Kesejahteraan petani harus terus diperjuangkan. Harus ada keperpihakan dari pemerintah. Mereka itu kan punya jasa. Jasa itu harus dihargai. Apa penghargaannya? Ya kebijakan pangan yang berpihak kepada mereka.

Para petani itu tidak hanya menyediakan pangan tetapi juga mereka itu punya jasa lain seperti melestarikan alam, sawah atau kebun mereka itu juga sebagai resapan air.  Di Jepang itu perlindungan petani bukan semata-mata karena mereka menghasilkan produk pangan tetapi juga karena mereka itu berjasa mempertahankan lahannya tetap hijau. 

Karena itu pemerintah kita pun harus memberikan penghargaan secara ekologis kepada petani bukan sekadar petani sebagai penghasil atau produsen produk pertanian.


#arif satria
#rektor ipb
#ipb
#pertanian pangan
#wawancara
Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)