Ilham Mendrofa

Pedagang jagung, saat ini aktif membenih kata di rilis.id.

Apa Pentingnya Allan Nairn

Rabu, 26/4/2017 | 21:51

Apa yang ditulis Allan Nairn dalam artikel yang berisi investigasi makar itu, sebenarnya bukan cerita baru dalam khazanah politik tingkat santai di tanah air. Bedanya, Allan memberi bumbu berupa narasumber dan data, juga mengumpulkan puzzle hingga tampak seperti cerita besar yang utuh. Tapi apa yang diungkap Allan sebenarnya sama hebatnya dengan spekulasi “pengamat” yang sedang nyruput kopi di kedai Starbucks. Padahal untuk cerita sebesar itu, mestinya Allan tak cukup membuat kesimpulan hanya dari pengakuan.

Allan sepertinya juga terlalu sembrono dengan merilis liputan yang tidak matang. Sehingga menjebak pada asumsi berlebihan bahwa Indonesia sedang mengalami kondisi gawat perebutan kekuasaan. Misalnya, perhatian Allan pada soal makar dalam aksi-aksi “penistaan agama”, dengan mengabaikan fakta persaingan dalam Pilgub Jakarta, jelas-jelas merupakan sebuah kecerobohan. Alih-alih teliti membuka peta politik, Allan justru menggemborkan bahwa Jokowi sedang dikelilingi para serigala yang siap menerkamnya.

Walaupun tentu, reputasi Allan sebagai jurnalis memang tak diragukan. Pada beberapa peristiwa besar yang menyangkut TNI, dia kerap hadir. Terutama dalam insiden Santa Cruz di Dili, Timor Timur pada 1992. Peristiwa ini pula yang dia jadikan cerita untuk menghajar Prabowo pada Pilpres 2014 lalu. Untuk mengungkap tentang masa lalunya yang kelam di negara yang pernah diduduki Indonesia itu.

Perjalanan panjang Allan dalam meliput tentara Indonesia, mungkin saja telah membentuk persepsinya. Tapi dengan terus menganggap TNI serupa serigala buas yang haus kekuasaan, adalah perlakuan yang tidak adil. Saya setuju dengan komentar pengamat militer senior, Salim Said, bahwa Allan terkesan tidak mengerti Indonesia dalam menyusun laporannya itu. Pengamat yang tajam seperti dia mestinya peka pada perubahan TNI pasca-reformasi yang semakin mengarah pada supremasi sipil. "Nggak ada itu kudeta-kudeta, konspirasi dan sebagainya,” mengutip Salim Said.

Sebagai orang lama, wajar jika Allan punya banyak narasumber orang dalam TNI. Dan hampir tidak mungkin para petinggi tentara tidak mengenal siapa Allan Nairn. Tapi justru di sini persoalannya, mengapa para jenderal itu bisa membocorkan informasi “top secret" kepada seseorang yang jelas-jelas pernah dianggap musuh? Bagaimana mungkin Kivlan Zen bisa membeberkan secara cuma-cuma tentang maksud Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmayanto untuk membuat makar terhadap presiden yang sah.

Lalu siapakah “penunggang” yang sebenarnya dari cerita ini? Saya percaya cerita Allan tentang sakit hatinya beberapa kalangan TNI tentang Simposium Tragedi 1965, sebab itu sangat memukul kewibawaan tentara. Tapi kecermatan Allan sebagai jurnalis yang mengaitkan itu dengan upaya makar, menurut saya juga sangat ceroboh. TNI bukan ormas kaki lima yang tak bisa menghitung kekuatan komunis di Indonesia. Allan sebenarnya bisa menggali dalam, apa sebenarnya yang terjadi di balik isu komunisme itu sendiri.

Jika kita lebih cermat mengikuti logika Allan, sepertinya dia tidak sedang bercerita soal makar, tapi soal sikut-sikutan di tubuh TNI sendiri. Mungkin saja tentang sakit hatinya mantan jenderal yang tidak suka pada Gatot. Apalagi sosok yang terakhir ini potensial dan punya pamor untuk mendampingi Jokowi pada Pilpres 2019.

Yang menarik dari cerita Allan juga adalah soal Freeport. Terutama kedatangan Wakil Presiden AS Mike Pence ke Indonesia, yang diduga akan menekan Jokowi tentang tambang emas itu. Allan mengutip pernyataan seorang tokoh gerakan: “Pence akan mengancam Jokowi". Sayangnya kita tidak dibekali informasi yang cukup soal Pence ini.

Di negeri ini, nama Freeport, CIA dan Amerika Serikat, tak pernah lepas saat terjadi peristiwa besar, seperti peristiwa tahun 1965 dan 1998. Banyak laporan yang mengaitkan keterlibatan Paman Sam dalam berbagai konflik di negeri ini. Tentu saja tujuannya tak lain tak bukan adalah soal ekonomi dan sumber daya alam.

Maka jangan-jangan Allan, dengan artikelnya itu dan polemik yang mengikutinya, sedang membuka kotak pandora: Bangsa Indonesia memang doyan sikut-sikutan dan saling menyalahkan sesama mereka. Bagi saya, jika polemik di sekitar tragedi Al-Maidah telah membuat banyak Muslim semakin belajar tafsir kitab suci, maka Allan Nairn sedang memotivasi kita untuk lebih mengenali kedaulatan bangsa ini lebih baik lagi.