logo rilis
Anugerah Demokrasi dalam Kotak Kosong
Kontributor
RILIS.ID
17 September 2020, 15:58 WIB
Anugerah Demokrasi dalam Kotak Kosong
Ketua Umum DPP IPNI, Visensius Manuela

Oleh: Visensius Manuela (Ketua Umum DPP IPNI)

Pilkada serentak bukan untuk memilih yang terbaik, namun mencegah yang terburuk berkuasa.

Pemilihan Kepala Daerah serentak tahun 2020 akan digelar 9 Desember mendatang. Tahapan pendaftaran telah dilakukan, dan jika tidak ada masalah yang substansial para calon yang telah mendaftar akan mendapatkan nomor urut dan siap berkontestasi dalam pesta demokrasi 5 tahunan ini.

Pemilihan secara langsung sejatinya menggambarkan kedaulatan atau hak penuh dari rakyat untuk menentukan perubahan hidupnya melalui pemimpin yang dipilih. Kontrol penuh pada masyarakat untuk menghukum atau mengapresiasi pemimpin melalui mekanisme pemilihan secara langsung.  Harapannya ada kontrak sosial secara langsung yang dapat mengikat pemilih dan pemimpin yang dipilih. Pada tingkat ini, konteks kepala daerah menjadi pelayan rakyat mendapatkan dasarnya yang kuat.

Romo magniz Suseno pernah menyampaikan bahwa Pemilu pada dasarnya bukan untuk memilih yang terbaik, namun untuk mencegah yang buruk berkuasa.  Pun demikian, kenyataan yang kita rasakan bahwa ada sebanyak 56 kepala daerah yang terjerat kasus korupsi dari 2005 - 2018 lalu. Data yang menunjukkan bahwa mekanisme pemilihan langsung pun belum menjawab problem kita hari ini untuk mencegah yang terburuk untuk berkuasa. Dengan kata lain, Pemilu adalah mekanisme legal untuk memilih para perampok mendapatkan kekuasaan.

Kotak kosong dalam kontestasi Pilkada

Menariknya, salah satu fenomena yang terasa janggal adalah adanya pilkada yang berpotensi calon tunggal. Tidak memiliki lawan, biasanya disebut dengan melawan kotak kosong. Pada Pilkada 2020 ini ada sekitar 28 kabupaten/kota yang berpotensi melawan kotak kosong jika setelah masa perpanjangan pendaftaran masih tidak ada yang mendaftar. Salah satu yang paling sering dibahas adalah Gibran Rakabuming, putra sulung Presiden Jokowi.

Pengaturan kotak kosong dalam Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2016 tentang Pilkada menjelaskan bahwa jika pasangan calon tunggal tidak mendapatkan suara 50% + 1 suara belum ada pasangan calon terpilih, maka pemerintah menugaskan penjabat gubernur untuk tingkat provinsi, penjabat bupati untuk tingkat kabupaten dan penjabat wali kota untuk kota. Artinya tidak akan ada kekosongan hukum dalam posisi kepala daerah yang memenangkan kotak kosong tersebut.

Jika menggunakan dalil yang disampaikan oleh Romo Magnis di atas, maka kotak kosong adalah sebuah subjek yang sama dengan calon, subjek yang ikut berkontestasi. Penafsiran ini saya dasarkan bahwa kita memiliki opsi untuk memilih calon selain politisi yang wajah dan gambaran kerjanya kemungkinan akan sama dengan kebanyakan kepala daerah. 

Selama ini rakyat seringkali hanya menerima begitu saja kontestan pemilihan umum meski semuanya buruk. Pilihan kemudian hanya ada dua, datang ke tempat pemungutan suara untuk memilih salah satu kontestan buruk atau tidak memilih sama sekali alias golput.

Hal ini dapat berarti bahwa rakyat telah banyak memberikan kemenangan begitu saja kepada individu elite politik beserta partai politiknya dalam pemilihan umum. Kemenangan yang seringkali tidak terbagi ke rakyat sebab mereka (para politisi) ingkar janji dan berkhianat setelah berkuasa. 

Tak adanya pilihan kandidat penguasa berkualitas selalu membuat rakyat terpaksa memilih calon penguasa buruk. Berbeda dengan kolom kosong, bentuk ini memberikan kesempatan bagi pemilih untuk memperlihatkan ke khalayak bahwa rakyat bisa memilih selain politisi maupun golput. 

Memenangkan kolom kosong; Menggugat eksistensi partai

Pada Pilkada 27 Juni 2018, Pilkada Kota Makassar memberikan contoh bahwa kolom kosong adalah sebuah predikat baru dalam kontestasi politik. Kolom kosong berhasil dipilih mengalahkan pasangan tunggal Munafri Arifudin - Andi Rachmatika yang didukung oleh 10 partai politik dan sederet nama besar di belakangnya yang turut mengusung, sebab Arifudin adalah pengusaha besar yang merupakan keponakan Jusuf Kalla dan menantu dari Aksa Mahmud dengan kesiapan finansial yang lebih dari cukup untuk memenangkan Pilkada. 

Kemenangan kolom kosong menjelaskan banyak hal, bahwa elite politik dan partai politik tidak bisa seenaknya menyodorkan nama dan dengan lenggang yakin menang dengan cara-cara elite yang mengatur. Rakyat terbukti memiliki kekuatan untuk memiliih opsi lain selain calon yang disodorkan oleh para elite tersebut. 

Kejutan lain adalah kemenangan kolom kosong dapat menyadarkan partai politik tentang eksistensinya di tengah-tengah masyarakat, seberapa jauh partai dibutuhkan oleh masyarakat. Jika partai dibutuhkan kenapa rakyat tidak memilih para calon tersebut. Kenapa rakyat tidak memenangkannya? 

Fenomena ini cukup menjelaskan bahwa ada koridor yang berbeda pada mekanisme rekomendasi pencalonan yang diajukan oleh partai dengan masyarakat. Di saat masyarakat melewati koridor elektabilitas dan rekam jejak para calon, terkadang ada koridor transaksi yang terjadi dalam proses rekomendasi partai politik, sebuah fakta yang jarang terbukti namun menjadi rahasia umum di tengah- tengah masyarakat.

Kemenangan rakyat yang kemudian bermakna ganda. Sebuah tindakan mengalahkan kontestan politisi bersama partai politiknya sekaligus secara oposisi memenangkan diri sebagai rakyat.

Rakyat bertarung sebagai kolom kosong 

Pertarungan masyarakat dalam fenomena kotak kosong perlu dimaknai dalam konteks demokrasi. Bahwa ada kesempatan untuk menyatakan pilihan selain kepada politisi. Maka kesempatan ini dapat disebut sebagai anugerah demokrasi.  Tentu tidak serta merta oposisi pada calon yang ada, namun menerjemahkan pilihan pada proses pendewasaan politik masyarakat. 

Rakyat dapat menguji keseriusan calon dalam memenangkan hati rakyat. Dalam tradisi masyarakat Nias yang dikenal sebagai petarung misalnya, kita tidak dapat memberikan penghargaan tertinggi kepada seseorang untuk memenangkan pertarungan sebelum dia benar-benar bertarung. Proses ini dapat diartikan sebagai ujian calon bertarung dan memenangkan hati rakyat.

Di sisi lain, kotak kosong dapat diartikan sebagai proses membalas sakit hati rakyat atas perlakuan politisi dan para elite. Terlebih jika calon tunggal tersebut adalah incumbent. Memenangkan kotak kosong adalah kebahagiaan bagi rakyat, sekalipun tidak akan pernah sebanding dengan kebahagiaan besar yang selama ini dinikmati oleh para politisi buruk. 

Politisi, partai dan gerombolannya melawan kotak kosong 

Dari sisi politisi, partai, elite, dan gerombolannya, seharusnya dapat membaca fenomena ini dengan sederhana. Kehadiran kotak kosong adalah kesempatan untuk berkontestasi dengan baik dan ideal. Memenangkan pertarungan dengan menawarkan gagasan dan program yang menjadi kebutuhan rakyat. Jika proses tersebut dikerjakan, para elite dan partai akan terdorong secara otomatis untuk bertransformasi menjadi partai yang berkualitas bagi rakyat.

Selamat menikmati demokrasi, selamat berkontestasi. Seperti yang disampaikan oleh Aristoteles bahwa “Berbahagialah karena menjadi warga negara yang bebas dan bertanggung jawab”. Mari menikmati demokrasi secara bebas dan bertanggung jawab. 




Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)





2020 | WWW.RILIS.ID