logo rilis

Angin Monsun Australia Bergerak ke Aceh, BMKG: Waspada Hujan Ekstrem
Kontributor
Kurnia Syahdan
20 April 2018, 11:27 WIB
Angin Monsun Australia Bergerak ke Aceh, BMKG: Waspada Hujan Ekstrem
ILUSTRASI: RILIS.ID/Hafidz Faza

RILIS.ID, Aceh Besar— Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan angin monsun dari Australia telah bergerak ke Indonesia, terutama di Aceh, dalam sepekan terakhir.

"Angin timuran, bawa massa udara kering Australia. Hal ini selaras dengan awal periode musim kemarau di Aceh," kata Kepala Seksi Data dan Informasi BMKG, Blang Bintang Zakaria Ahmad, di Aceh Besar, Jumat (20/4/2018).

Sirkulasi angin regional, kata dia, kini sudah didominasi angin monsun Benua Australia. 

Angin ini mengarah hampir sebagian besar wilayah Indonesia, terutama bagian selatan khatulistiwa.

Saat bersamaan, katanya lagi, masih beberapa wilayah, terutama bagian barat dan selatan di Aceh yang tidak mengenal musim, terdapat massa udara basah cukup lembap.

Dari kondisi cucaca perti ini, kata Zakaria, mendukung bagi tumbuhnya awan-awan konvektif sebagian wilayah di Aceh. 

"Akibatnya, hujan bersifat sporadis atau ekstrem, cenderung terjadi. Jadi masyarakat harus lebih waspada," katanya.

Seperti diketahui, monsun merupakan sistem sirkulasi regional dan memiliki variasi musiman. 

Angin di Indonesia sangat dipengaruhi udara bertekanan tinggi dan rendah di Asia dan Australia.

"Akan tetapi cuaca ini tidak begitu berpengaruh bagi mereka yang melakukan aktivitas laut, seperti nelayan. Mereka sudah tahu kapan waktu terbaik melaut," kata Zakaria.

Sebelumnya, Humas BMKG, Hary T. Djatmiko mengatakan, awal musim kemarau mulai April 2018 dan ini terjadi di sebagian wilayah.

Ia menyebutkan daerah pertama memasuki musim kemarau, yakni Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat dan Bali.

Puncak musim kemarau diperkirakan berlangsung pada bulan Agustus dan September 2018. Terjadinya musim kemarau tidak merata di semua wilayah dan akan terus meluas hingga Oktober 2018.

Saat awal musim kemarau, curah hujan mencapai 150 milimeter per bulan dan terus mengalami penurunan, seiring terjadinya puncak musim kemarau.

Pada puncak musim kemarau yang terjadi pada bulan Agustus hingga September, curah hujan berkisar antara 20 hingga 0 milimeter per bulan atau sama sekali tidak ada hujan.

Namun, menurut BMKG, kemarau pada tahun ini diperkirakan tidak separah musim kemarau pada tahun 2015 karena di pertengahan 2018 iklim di Indonesia masih dipengaruhi La Nina lemah.

Kemarau pada tahun ini berimplikasi positif pada tanaman palawija dan tanaman semusim yang tidak teralu memerlukan banyak air.
 

Sumber: ANTARA


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)