logo rilis
Anggota Komisi II Ini Sebut Kesalahan DPT Muncul dari Pemerintah
Kontributor
Zulhamdi Yahmin
19 Maret 2019, 16:28 WIB
Anggota Komisi II Ini Sebut Kesalahan DPT Muncul dari Pemerintah
ILUSTRASI: RILIS.ID/Hafidz Faza

RILIS.ID, Jakarta— Wakil Ketua Komisi II DPR RI, Ahmad Riza Patria mengatakan, kesalahan Daftar Pemilih Tetap (DPT) ada dari pemerintah. Hal itu, menurutnya, lantaran DP4 yang dibuat pemerintah untuk KPU dari awal itu invalid.

"Masalah ini berawal dari DP4, DP4 itu produk pemerintah Permendagri, kita minta ke depan pemerintah bisa sisir dan perbaiki DP4, KPU jangan diberi data invalid dan bermasalah," kata Riza saat mnejadi pembicara dalam diskusi publik Selasa-an, Topic of the Week bertajuk "DPT Pilpres, Kredibel atau Bermasalah?" di Seknas Prabowo-Sandi, Menteng, Jakarta, Selasa (19/3/2019). 

Menurut Riza, ada sejumlah temuan-temuan yang aneh dalam upaya pihaknya menyisir DPT. Bahkan, menurutnya, ada mencapai 17,5 juta data yang tidak wajar.

"Ada 300 ribu lebih orang umurnya di atas 90 tahun. Lahirnya 1873. mana mungkin. Ada yang dibawah 17, bahkan belum lahir. Jadi temuan ini bukan hoaks. Secara komputer ada. Sangat bisa ditemukan," ujarnya.

Politisi Partai Gerindra itu mengungkapkan, pihaknya dari internal sudah menyiapkan tim terkait sejumlah temuan tersebut. Pihaknya, lanjut dia, juga sudah menyampaikan hal itu kepada KPU. 

"Data-data ini ingin kita pastikan di lapangan. Apakah betul yang ganda ini. Secara kasat mata terlihat. NIK sama KK sama. Mudah itu tinggal dihapus. Tapi ada invalid lainnya, kita temukan dan pastikan. KPU sudah tugaskan KPU kabupaten, kota untuk menyisir secara acak," ungkap dia. 

"Kami juga siapkan tim. Tadi kami ke Bawaslu, kami minta Bawaslu ikut bantu. Disisir secara IT. Lalu di lapangan. Ini bagian dari bentuk kepedulian kami terhadap pemilu yang demokratis. Siapa yang diuntungkan? Pasangan 01 dan 02, para caleg, parpol, pemerintah, masyarakat," lanjutnya. 

Dia mengajak kepada semua pihak untuk menyikapi sejumlah temuan itu dengan bijak. Salah satunya, dengan mastikan data temuan tersebut. 

"Untuk segera kita pastikan apakah orangnya ada atau tidak. Yang bahaya kalau orangnya tidak ada. Harus dihilangkan dan dicoret. Kita tidak prasangka buruk," tandasnya.

Editor: Elvi R




Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)





2019 | WWW.RILIS.ID