logo rilis
Anggota G20 Mulai Waspadai Kerentanan Ekonomi
Kontributor
Intan Nirmala Sari
22 Maret 2018, 19:23 WIB
Anggota G20 Mulai Waspadai Kerentanan Ekonomi
ILUSTRASI: RILIS.ID/Hafidz Faza

RILIS.ID, Jakarta— Negara-negara anggota Kelompok 20 (G20) sepakat memperkuat kerja sama untuk mendukung tercapainya pertumbuhan ekonomi yang kuat, berkelanjutan, berimbang dan inklusif. Di tengah optimisme prospek pertumbuhan ekonomi global yang semakin membaik dan merata, para Gubernur Bank Sentral dan Menteri Keuangan G20, menyadari perlunya kewaspadaan terhadap potensi risiko dan kerentanan ekonomi, termasuk meningkatnya volatilitas di pasar keuangan yang terjadi saat ini.

Hal itu mengemuka dalam pertemuan Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral negara-negara G20, yang juga dihadiri Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus D.W. Martowardojo dan Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati, pada 19-20 Maret 2018 di Buenos Aires, Argentina.

Untuk itu, ini merupakan momentum yang tepat untuk mengatasi permasalahan struktural yang menghambat pertumbuhan ekonomi, mengurangi ketidakseimbangan global yang berlebihan dan memitigasi risiko melalui berbagai kebijakan yang ada.

Argentina yang menjadi tuan rumah G20 tahun ini, mengusung 2 prioritas dalam ajang pertemuan bergengsi tersebut, yakni The Future of Work dan Infrastructure for Development. Pembahasan The Future of Work dilatarbelakangi perkembangan teknologi informasi yang telah mengubah tatanan perekonomian global, termasuk Indonesia, menjadi ekonomi digital.

"Untuk itu, dibutuhkan respons kebijakan yang relevan, sehingga perkembangan teknologi informasi tersebut dapat mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif, sekaligus memitigasi potensi dampak negatifnya bagi perekonomian serta stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan," kata Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi (DKom) BI Agusman dalam pernyataan resmi di Jakarta, Kamis (22/3/2018).

Sementara itu, terkait pembahasan Infrastructure for Development diarahkan untuk meningkatkan pembiayaan infrastruktur, di antaranya dengan mendorong partisipasi sektor swasta.

Di sektor keuangan, para Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral menyambut baik penyelesaian Basel III sebagai salah satu elemen penting reformasi di sektor keuangan pasca krisis keuangan global. G20 juga berkomitmen untuk mengimplementasikan dan senantiasa mengevaluasi reformasi sektor keuangan yang telah berjalan dan dampaknya bagi pembiayaan infrastruktur, sehingga dapat memperkuat sistem keuangan.

Para Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral menyadari, dampak perkembangan teknologi dalam meningkatkan efisiensi dan mendorong inklusivitas di sistem keuangan. Namun, cypto-asset dipandang memiliki isu perlindungan konsumen dan investor, penghindaran perpajakan, dan tindak pidana pencucian uang dan pendanaan terorisme. Selain itu, crypto-asset dapat menimbulkan dampak negatif bagi stabilitas sistem keuangan.

Untuk itu, negara-negara G20 sepakat untuk menugaskan Standard Setting Bodies (SSB) untuk meningkatkan pemantauan terhadap transaksi dan risiko crypto-asset serta melakukan asesmen terhadap upaya multilateral yang diperlukan. Negara-negara G20 juga terus menyampaikan dukungan bagi pembangunan di negara-negara miskin, melanjutkan pembahasan agenda perpajakan internasional, dan mendukung upaya mengatasi tindak pidana pencucian uang dan pendanaan terorisme.


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)