logo rilis

Anggota DPRD Sumut Kembali Serahkan Uang Hasil Suap, Siapa Dia?
Kontributor
Tari Oktaviani
23 Mei 2018, 11:52 WIB
Anggota DPRD Sumut Kembali Serahkan Uang Hasil Suap, Siapa Dia?
ILUSTRASI: RILIS.ID/Hafiz Faza.

RILIS.ID, Jakarta—
Sejumlah anggota DPRD Sumatera Utara tampaknya tak mau terjerumus dalam jeratan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Pasca diingatkan oleh KPK, beberapa orang mengembalikan lagi uang yang pernah diterimanya.

"KPK kembali menerima pengembalian uang sekitar Rp350 juta dari 3 Anggota DPRD. Uang tersebut telah disita sebagai bagian dari berkas perkara penyidikan ini," kata Juru Bicara KPK Febri Diansyah, Jakarta, Rabu (23/5/2018).

Menurut Febri, meski pun KPK telah memetakan dan mengetahui persis siapa saja penerima uang dalam kasus ini namun hukum tetap dapat memberi pertimbangan meringankan jika pelaku koperatif seperti mengembalikan uang.

"Karena itu, kami ingatkan kembali pada penerima lain untuk segera mengembalikan uang dan bersikap kooperatif pada penyidik," paparnya.

Tak hanya itu saja, pada Rabu (23/5/2018) KPK jadwalkan pemeriksaan terhadap 23 saksi yang sebagian besar menjabat sebagai anggota DPRD Sumut. Menurutnya, pemeriksaan akan dilakukan di kantor Kejati Sumut.

"Sejauh ini sekitar 195 saksi diagendakan diperiksa utk 38 tersangka, termasuk rencana pemeriksaan hari ini. Tim penyidikan msh akan melakukan pemeriksaan sampai kamis minggu ini," ungkapnya.

‎Dalam kasus ini, 38 anggota DPRD Sumut periode 2009-2014 dan 2014-2019‎ diduga menerima uang dari Gatot Pujo Nugroho ketika menjabat Gubernur Sumut. ‎Diduga mereka menerima suap dari Gatot terkait persetujuan laporan pertanggungjawaban Pemprov Sumut 2012-2014, persetujuan perubahan APBD Pemprov Sumut 2013 dan 2014, pengesahan APBD Pemprov Sumut 2013 dan 2014, serta penolakan penggunaan hak interpelasi DPRD Sumut tahun 2015. Jumlah uang yang diterima masing-masing anggota DPRD sekitarRp 300 hingga 350 juta. 

‎Dari 38 tersangka, yang masih aktif sebagai anggota DPRD Sumatera Utara antara lain, Rinawati Sianturi dari Fraksi Hanura, Muhammad Faisal dari Fraksi Golkar, Arifin Nainggolan, Mustofawiyah, Sopar Siburianaktif, dan Tiaisah Ritonga dari Fraksi Demokrat. Kemudian Analisman Zalukhu dari Fraksi PDIP, Helmiati dari Fraksi Golkar, Muslim Simbolon dari Fraksi PAN, serta Sonny Firdaus dari Fraksi Gerindra. 

Sedangkan yang sudah tak aktif menjadi anggota dewan di antaranya, Rijal Sirait, Roslynda Marpaung, Fadly Nurzal, Abu Bokar Tambak, Enda Mora Lubis, M Yusuf Siregar, Abdul Hasan Maturidi, Biller Pasaribu, Richard Eddy, Marsaut Lingga, Syafrida Fitrie, Rahmania Delima Pulungan, Tonnies Sianturi, Tohonan Silalahi, Murni Elieser, Dermawan Sembiring, Arlene Manurung, Syahrial Harahap, Restu Kurniawan, Washington Pane, John Hugo Silalahi, Ferry Suando. Kemudian Tunggul Siagian, Fahru Rozi, Taufan Agung Ginting, Pasiruddin Daulay, Elezaro Duha, Musdalifah, dan Tahan Manahan Panggabean. 

‎Para tersangka itu dijerat dengan Pasal 12 huruf a atau huruf b atau Pasal 11 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo Pasal 64 ayat (1) dan Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP. 

Kasus dugaan suap yang menjerat 38 orang tersangka ini merupakan pengembangan dari kasus yang menjerat Gatot Pujo. Gatot sendiri telah dieksekusi ke Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Sukamiskin, Bandung, Jawa Barat. Sebelumnya Gatot telah divonis 4 tahun penjara dan denda Rp250 juta subsider 6 enam bulan kurungan.

Editor:


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)