logo rilis

Ancaman Krisis Pangan
Kontributor
RILIS.ID
20 Maret 2018, 19:20 WIB
Ancaman Krisis Pangan

Oleh Dr. Saefudin
Peneliti Balitbangtan 

DALAM perkembangan dunia saat ini, masalah pangan telah menjadi sebuah isu menarik yang terus dibahas. Betapa tidak, hal ini merupakan kebutuhan primer bagi jutaan jiwa penduduk yang ada di dunia. Sebab dari asupan panganlah mereka mampu mempertahankan hidup. Maka tidak heran persoalan pangan mencuat menjadi isu global yang harus dicarikan solusinya. Terlebih ketika pangan telah mengalami ancaman berupa krisis pangan yang telah menjalar ke beberapa Negara khususnya bagi Negara berkembang termasuk Indonesia.

Indonesia yang sementara memperbaiki tatanan ekonominya dan berusaha keluar dari terpaan krisis ekonomi sejak tahun 1997, bekerja keras untuk kembali bangkit dari berbagai persoalan tersebut. Belum saja persoalan ekonomi dan politik terselesaikan, muncul lagi persoalan baru berupa krisis kelangkaan pangan. Ketika kelangkaan pangan ini tidak menemukan solusi, maka hal tersebut tentunya berimbas pada pembanganun bangsa kedepannya. Juga akan kembali menggerogoti berbagai bidang termasuk ekonomi dan politik. Dari problematika yang dihadapi ini serta merta dikembalikan pada bagaimana kebijakan pemerintah dalam menghadapi persoalan tersebut dan bagaimana usaha masyarakat kita untuk tetap bertahan hidup.

Konsumsi Pangan

Menurut sebuah laporan Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO), rata-rata setiap individu mengkonsumsi sekitar 1,4 kilogram per hari. 400 gram diantaranya adalah produk sereal seperti roti. Pada bulan Maret tahun 2012 saja, populasi dunia mencapai angka 7 miliar dan membutuhkan sekitar 9,8 miliar kilogram pangan setiap hari.

Populasi dunia tumbuh dengan cepat dan bersamanya datang permintaan akan pangan. Menurut PBB, sekitar 9,3 miliar orang akan bermukim di bumi tahun 2050. Ekonomi global juga akan tumbuh dan warga dunia akan memiliki lebih banyak uang ketimbang sekarang. Mereka yang memiliki uang juga akan mampu membeli lebih banyak pangan. Menurut FAO, pada tahun 2050, setiap individu akan mengkonsumsi sekitar 14 persen lebih banyak kalori. Ini berarti permintaan pangan juga akan meningkat drastis. Apabila investasi bagi sektor pertanian juga ikut naik, FAO memperkirakan sekitar 60 persen lebih banyak pangan akan diproduksi tahun 2050.

Kerja Keras Kementan

Saat ini Indonesia telah menunjukkan peringkat ketahanan pangan yang cukup baik dengan berada di posisi ke-71 dari 113 negara yang diobservasi pada 2016 berdasarkan data Global Food Security Index (GFSI) yang dirilis The Economist Intelligence Unit. Global Food Security yang berkantor di Hongkong, London, dan Amerika memberi penilaian perubahan ketahanan pangan Indonesia di posisi tertinggi dunia pada semester II 2016, yakni 2,7 poin. Di urutan kedua yakni Myanmar.  Kementan menyatakan, dengan berbagai kebijakan di sektor pertanian, kini Indonesia bisa memperbaiki peringkat secara signifikan dibandingkan posisi pada 2014 dan 2015 yang sempat merosot di peringkat 76 dari 113 negara. Dari data tersebut, ketahanan pangan Indonesia secara umum dilihat naik dengan nilai 50,6, naik dari tahun sebelumnya yang menempati angka 47,9. Peningkatan nilai ini disebabkan oleh tiga aspek utama, yaitu keterjangkauan, ketersediaan, serta kualitas dan keamanan.

Pada poin keterjangkauan, Indonesia pada tahun 2016 mendapat nilai 50,3 atau naik dari sebelumnya 46,8. Aspek ketersediaan juga meningkat menjadi 54,1 dari sebelumnya hanya 51,2. Sementara itu, kualitas dan keamanan naik tipis ke 42 dari sebelumnya 41,9. Keberhasilan tersebut tentu tidak terlepas dari upaya Kementerian Pertanian membenahi beberapa aspek, di antaranya kebijakan, infrastruktur, on-farm dan pasca panen, hingga pasar.

Keberhasilan lain pemerintah melalui Kementerian Pertanian adalah terkait loncatan Indeks Keberlanjutan Pangan Indonesia. Saat ini indeks keberlanjutan pangan Indonesia telah masuk dalam urutan 25 besar dunia. Global Food Sustainability Index, Indonesia berada di peringkat 21. The Economist Intelligence Unit (EIU) baru saja merilis Global Food Sustainability Index. Dalam laporannya, Indonesia tercatat menduduki posisi 21 dari 133 negara. Peringkat Indonesia naik sangat signifikan dibandingkan posisi tahun lalu, yakni 71.

Loncatan yang luar biasa dari 71 ke 21, dalam indeks tersebut, Indonesia berada di peringkat 21 dengan skor 50,77 setelah Brasil. Posisi Indonesia berada di atas Uni Emirat Arab, Mesir, Arab Saudi, dan India. Indeks ini terbagi dalam tiga kategori, yaitu sampah dan bahan makanan yang terbuang (Food Loss and Waste), keberlangsungan pertanian (Sustainable Agriculture), dan tantangan nutrisi (Nutritional Chalenges). Dalam indikator Food Loss and Waste Indonesia berada di posisi 24, dengan skor 32,53. Sustainable Agriculture, Indonesia mendapat skor 53,87 dan berada pada peringkat 16. Sedangkan Nutritional Chalenges berada di peringkat 18 dengan skor 56,79. Indeks ini digunakan untuk menganalisis pertanian, nutrisi, dan sampah makanan di 25 negara yang terhitung menjadi 87 persen dari Produk Domestik Bruto (PDRB) dan 72 persen dari populasi dunia.

Penyebab Krisis Pangan

Salah satu ancaman serius yang dihadapi umat manusia saat ini adalah kelangkaan akan kecukupan pangan. Kelangkaan pangan ini telah menimbulkan persoalan-persoalan sosial dan politik yang serius. Di negara-negara Timur Tengah dan Afrika, tingginya harga pangan menjadi salah satu sebab munculnyagerakan reformasi. Sementara itu, di Mozambique salah satu dampak sosial yang cukup memprihatinkan dari meroketnya harga pangan dunia adalah kerusuhan-kerusuhan horizontal yang terjadi di negara itu. Oleh karenanya, Masyarakat menuntut pemenuhan kebutuhan pangan yang semakin mahal dan permintaan akan peningkatan pendapatan demi bertahan dalam situasi ekonomi yang sulit. Sulitnya kedepan dalam mendapatkan pangan (krisis pangan) tidak terlepas beberapa faktor penting yang mempengaruhinya. Beberapa faktor penyebab tersebut adalah:

Pertama, Penduduk dunia yang kian bertambah. Ketika penduduk semakin bertambah maka konsumsi dunia yang semakin tinggi. Tingginya permintaan ini disebabkan salah satunya oleh semakin bertambahnya penduduk di tiap-tiap negara setiap tahunnya. Laster Brown, kepala lembaga kebijakan bumi di Washington DC, mengemukakan bahwa keterbatasan pangan dapat menyebabkan runtuhnya peradaban dunia. Menurut Brown, manusia mempertahankan kehidupannya dengan mengikis tanah dan menghabiskan persediaan air tanah lebih cepat dari pemulihannya kembali. Laporan kompas menjelaskan bahwa populasi manusia di dunia mengalami peningkatan sebesar 1,2% setiap tahunnya sehingga kenaikan konsumsi pangan harus bisa mengimbangi pertambahan penduduk demi kelangsungan hidup dimasa depan.

Kedua, Cuaca Ekstrem. Perubahan cuaca cukup ektrem yang terjadi di beberapa negara termasuk salah satu faktor yang memberikan dampak negatif bagi produksi pangan. Beberapa wilayah bahkan tidak hanya mengalami gagal panen, tetapi juga turut merusak lahan produksi sehingga kecukupan pangan bisa terganggu dalam waktu yang cukup lama. Hal ini tampak jelas di beberapa negara, baik negara maju, berkembang maupun miskin. Pada bulan November 2007 terjadi topan Sidr menewaskan ribuan orang di Bangladesh dan menyapu lahan-lahan padi di negara itu. Lebih lanjut, berita dari media Epochtime menyebutkan bahwa pada tahun 2010 banyak wilayah penghasil pangan dunia diterpa berbagai bencana alam dan musibah yang menyebabkan produksi bahan pangan merosot drastis.

Ketiga, Pembatasan Ekspor. Kenaikan harga pangan dunia juga dipicu oleh perlindungan persediaan pangan dalam negeri masing-masing negara sehinggamenurunkan kuantitas jumlah ekspor bahan makanan di pasaran internasional. Direktur organisasi perdagangan dunia (WTO), Pascal Lamy, di Jenewa pada 22 January 2011, Swiss, mengemukakan bahwa pembatasan ekspor saat ini menjadi penyebab utama melonjaknya harga pagan dunia. Kebijakan tersebut  mengkhawatirkan karena tidak hanya akan mengganggu harga pangan di pasaran, tetapi juga ancaman bagi negara-negara yang amat bergantung kepada pasokan impor untuk memenuhi kecukupan pangan mereka. Lamy mengungkapkan pembatasan ekspor telah memainkan peran utama dalam krisis pangan.

Keempat, Trend energi alternatif  biofuel. Salah satu faktor penyebab krisis pangan dunia adalah kebijakan energi alternatif biofuel yang banyak dikembangkan di negara-negara industri maju. Jagung dan kelapa sawit misalnya, kedua pangan itu sebelumnya  untuk konsumsi masyarakat dunia, tetapi saat ini banyak dijual untuk biofuel yang permintaannya cukup tinggi. Keterkaitan biofuel dengan kenaikan harga pangan memang sangat erat. Hal ini terjadi karena beberapa komoditi pangan kini dipergunakan sebagai bahan baku biofuel. Jika harga beli jagung dan kedelai untuk kebutuhan  biofuel lebih tinggi dibanding harga beli untuk kebutuhan konsumsi, maka pelaku pasar memiliki kecenderungan untuk menjual hasil panen jagung dan kedelai mereka ke produsen biofuel. Seperti yang terjadi di Cina, pengalihan produksi jagung untuk biofuel menyebabkan kelangkaan pakan ternak di negara itu.

Kebijakan dan Strategi

Berbagai kendala dalam bidang pangan diperlukan langkah dan kebijakan pemerintah yang tepat dan terarah sehingga mampu menghadapi berbegai kemungkinan kedepan.

Pertama, negara perlu memaksimalkan kemampuan nasional dalam konsep ketahanan pangan. Sektor pangan seprti pertanian, perkebunan dan peternakan perlu difokuskan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi dalam negeri. Pemerinah dituntut untuk berperan dalam menjamin ketersediaan kebutuhan pokok masyarakat pada semua lapisan sosial. Pemerintah perlu menjadikan sektor pertanian sebagai sektor utama pembangunan ekonomi. Dengan memaksimalkan kemampuan domestik dalam arti sumber daya alam (lahan) dan para ahli (teknologi), diharapkan ketahanan pangan dapat terwujud.

Kedua, dibutuhkan peran pemerintah yang proporsional dalam menjaga stabilitas harga produk pangan sehingga masyarakat pada semua lapisan sosial mendapatkan hak dan kesempatan yang sama dalam akses pemenuhan kebutuhan pangan. Peran pemerintah dibutuhkan dalam melaksanakan kebijakan yang lebih berpihak pada petani dan kaum ekonomi lemah dengan transparansi subsidi impor dan prioritas kebijakan impor dalam kondisi darurat sehingga harga produk pangan relatif stabil dan semua masyarakat mendapat akses yang sama dalam pemenuhan kebutuhan pangan.

Ketiga, pemerintah harus dapat melaksanakan kebijakan untuk menjaga kestabilitan harga pangan. Disaat panen raya, misalnya, pemerintah harus membeli produk pangan dengan harga yang rasional  demi kesejahteraan petani, sedangkan disaat gagal panen, pemerintah menjadi tiang penyangga dalam menjamin pemenuhan kebutuhan pangan.

Keempat, sektor pertanian perlu didorong untuk selalu melakukan inovasi-inovasi mutakhir dengan memberikan insentif pertanian supaya petani termotivasi dan berkembang. Aspek ini yang secara tidak langsung sangat mempengaruhi kinerja dan semangat hidup petani adalah akses pendidikan dan kesehatan bagi keluarganya sehingga dukungan terhadap aspek-aspek ini dapat meningkatkan kesejahteraan petani sebagai aktor utama dalam perkembangan sektor pertanian.

Upaya dan langkah tersebut tentu tidak hanya menjadi tanggungjawab pemerintah semata, namun menjadi tanggungjawab seluruh pihak termasuk swasta dan pemerintah daerah. Sinergitas harus menjadi kunci dalam menghadapi permasalahan pangan ke depan dengan memaksimalkan berbagai potensi sektor pertanian dalam perencanaan yang matang, terarah dan terukur.

Dalam kontek peran teknologi, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian melalui unit kerja terkait juga harus melakukan langkah strategis dalam riset dan pengembangan teknologi dalam upaya menghadapi tantangan dan kemungkinan krisis  pangan dimasa mendatang. Teknologi yang dihasilkan harus mampu menjawab akibat dari perubahan lingkungan sehingga produksi dan produktivitas pangan tetap terjaga.


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)