logo rilis
Analis Pertahanan Sebut Ada yang Salah dengan Manajemen PTDI
Kontributor
Zulhamdi Yahmin
09 Maret 2017, 21:58 WIB
Analis Pertahanan Sebut Ada yang Salah dengan Manajemen PTDI
Connie Rahakundini Bakrie (kiri). FOTO: Istimewa

RILIS.ID, Jakarta— Analis pertahanan dan militer Connie Rahakundini Bakrie menilai ada yang salah dengan manajemen atau tata kelola PT Dirgantara Indonesia.

Penilaian ini disampaikannya setelah ia mendengar perusahan pelat merah pembuat pesawat itu harus membayar denda yang tidak sedikit gegara keterlambatan dalam memenuhi pesanan

Bahkan, menurut Connie, PTDI telah melakukan kebohongan kepada negara. Karena, berbohong inilah perusahan tersebut kerap mengalami keterlambatan mengirim pesanan.

"Karena ini berkaitan antara kebohongan lalu nyambung ke kasus keterlambatan. Jadi dari kebohongannya itu, yang dirugikan adalah Angkatan Udara. Itu juga kenapa Kasau yang lalu (Marsekal TNI Agus Supriatna, red) akhirnya memilih AW (Helikopter AW101, red)," kata Connie saat dihubungi rilis.id, Kamis (9/3/2017).

Connie mengatakan, selama ini sejatinya PTDI hanya menjadi perusahaan perantara (broker) untuk para pemesan Alutsista. Salah satunya, perantara dari perusahaan besar seperti Airbus untuk diteruskan kepada pemesan.

"Karena dia menjadi broker, dan tidak berkemampuan membuat sehingga beberapa hal dia memang dikendalikan oleh Airbus," ungkap Connie.

Akibatnya, ujar aconnie,  beberapa komponen untuk pembuatan pesawat bisa ditahan oleh Airbus. Bahkan menurutnya, Airbus bisa mengintersep kepada klien PTDI tersebut.

"Ini politik dagang. Nah sementara PTDI harus mengejar itu dan ada kontrak yang jatuh tempo. Nah makanya terjadilah itu (keterlambatan, red)," katanya.

Salah satu keterlambatan yang dinilainya sangat parah adalah kontrak antara PTDI dengan Thailand. "Dengan Thailand itu satu order pesawat dendanya sama dengan satu pesawat itu, karena terlambatnya terlalu jauh," paparnya.

PTDI sendiri dikabarkan harus membayar denda mencapai Rp 222,56 miliar. Salah satu contoh keterlambatan pengiriman pesawat yakni untuk pesawat C212-400 ke Thailand. Kontrak PTDI dengan Thailand untuk pesawat C212-400 dilakukan pada Agustus 2011 dengan target pengiriman 12 Oktober 2013.

Adapun nilai kontrak tersebut sebesar 8,34 juta dollar Amerika Serikat (AS). PTDI justru harus membayar denda sebanyak 13,52 juta dollar AS karena baru dikirim pada 19 Januari 2016.


#PTDI
#Connie R Bakrie
Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)





2019 | WWW.RILIS.ID