logo rilis
Anak Terduga Teroris Didoktrin Ajaran Menyimpang
Kontributor
Budi Prasetyo
15 Mei 2018, 12:28 WIB
Anak Terduga Teroris Didoktrin Ajaran Menyimpang
ILUSTRASI: Istimewa

RILIS.ID, Surabaya— Kapolda Jawa Timur Irjen Pol Mahfud Arifin mengatakan, anak-anak terduga teroris di Surabaya dan Sidoarjo ternyata didoktrin dengan ajaran yang menyimpang. Orang tua mereka, bahkan, tidak mengizinkan anaknya bersekolah.

"Anak anak mereka Dikungkung dan dikurung dengan doktrin doktrin khusus. Sehingga dia dengan ibunya yang di Diponegoro mau membawa bom di pinggangnya. Ini anak dibawah umur dengan doktrin tidak sekolah," kata Kapolda di Mapolda Jawa Timur pada Selasa (15/5/2018).

Mahfud menambahkan, para terduga teroris juga mengisolasi anak anak mereka agar tidak berinteraksi dengan warga lain.

"Doktrin supaya tidak interaksi dengan masyarakat lain dan diberi video dengan doktrin dan ajaran yang diberikan," tambahnya.

Dikatakan Mahfud, dua anak terduga teroris asal Sidoarjo ternyata aktif ikut ajaran menyimpang orang tuanya.

"Dari hasil interogasi dua anak terduga teroris aktif ikut ajaran. Kalau yang anak pertama ikut neneknya dan tidak aktif," katanya.

Sekadar diketahui, empat anak terduga teroris di Surabaya dan Sidoarjo berhasil selamat dalam insiden pemboman. Tiga orang merupakan anak terduga teroris bernama Anton Febrianto yang ada di Rusun Wonocolo Sidoarjo. Satu lagi adalah anak Tri Murdianto, terduga teroris yang mengebom Mapolrestabes Surabaya. 

Ketua Indonesia Child Protection Watch Erlinda mengatakan, anak mudah terbujuk untuk ikut dalam paham radikalisme, termasuk aksi terorisme.

Berdasarkan tinjauan aspek psikologi, ungkapnya, hal ini dikarenakan berbagai faktor, terutama lingkungan keluarga.

"Karena, orang tua mempunyai peran penting dalam fase pembentukan karakter anak," ujarnya saat dikonfirmasi rilis.id, di Jakarta, Selasa (15/5/2018).

Pola pikir anak pun, lanjut Erlinda, dipengaruhi oleh orang terdekat atau orang tua. Pengambilan keputusan sangat bergantung pada mereka. Sedangkan kemampuan adaptasi remaja dipengaruhi oleh nilai-nilai yang didapatkan di lingkungan sosial, dan keluarga. Maka, keluarga adalah pihak pertama yang memberikan dasar-dasar nilai bagi anak.

"Perilaku tindak kriminal oleh anak atau remaja merupakan akibat dari aspek psikososial," ungkap Erlinda.

Erlinda menyebut, remaja memiliki karakteristik yang unik. Berdasarkan teori Strum and drung masa remaja adalah masa transisi dari periode anak-anak menuju dewasa dan remaja berada pada masa badai topan. Berdasarkan teori psikolog G. Stanley Hall, remaja mempunyai jiwa yang meletup dan ingin diakui keberadannya.

"Ciri khas remaja adalah belum memilki identitas yang jelas dan sedang mengalami krisis identitas," katanya.

Oleh karenanya, menurut Erlinda, keberhasilan pencegahan terorisme tidak hanya pada level kebijakan 

Editor: Elvi R


500
komentar (0)