logo rilis
Ana Mustamin, Tak Lelah Promosikan Perusahaan Mutual
Kontributor
Yayat R Cipasang
17 April 2018, 16:32 WIB
Ana Mustamin, Tak Lelah Promosikan Perusahaan Mutual
Direktur SDM dan Umum AJB Bumiputera Ana Mustamin. FOTO: RILIS.ID/Kurniati

"Kerja di mana?"
"AJB Bumiputera."
"BUMN, ya?"
"Bukan. Swasta murni."
"Masak, sih? Pemiliknya siapa?"
"Saya."

DIALOG di atas benar-benar terjadi dan itu sering dilontarkan kepada Ana Mustamin, Direktur SDM dan Umum AJB Bumiputera, dalam sejumlah kesempatan. Lebih jauh lagi kalau ada temannya yang bertanya, "Bumiputera itu berarti perseroan terbatas dong?"

"Bukan. Perusahaan mutual."

Nah, sampai di sini lawan bicaranya langsung tersedak. Diam. Bingung.

Itulah yang dialami Ana selama berkarier di Bumiputera dari level bawah hingga sekarang di posisi direksi. Ana tak pernah lelah untuk terus memperkenalkan perusahaan mutual kepada masyarakat. 

Ajaib memang, perusahaan yang sudah berumur 106 tahun dengan karyawan 3.200 orang dan pemegang polis lebih dari 5 juta orang itu sampai sekarang tumbuh dan berkembang tanpa undang-undang yang mengaturnya. Andaikan undang-undang itu ada, mungkin Bumiputera tidak sendirian. 

Sebaliknya, di Jepang dan Kanada misalnya perusahaan mutual itu berkembang pesat dan memberikan kontribusi pertumbuhan ekonomi untuk negaranya.

Ana juga beberapa kali memberikan pelatihan kepada wartawan tentang perusahaan mutual. Tapi lagi-lagi hasilnya tidak menggembirakan. Perusahaan mutual tidak pernah menjadi isu utama di newsroom.

"Permasalahannya wartawan itu mobilitasnya tinggi. Wartawan yang mendapat pelatihan sebelumnya ternyata sudah di-rolling ke desk lain," ujar dosen Universitas Paramadina ini.

Ironisnya, semua perguruan tinggi pun sampai sekarang tidak ada yang mengajarkan tentang perusahaan mutual. Padahal AJB Bumiputera yang berdiri pada 12 Februari 1912 oleh tokoh pergerakan Boedi Oetomo ini, bisa menjadi contoh perusahaan mutual. Sakaligus satu-satunya perusahaan mutual di Indonesia yang kini asetnya puluhan triliun.

"Sejak lahir hingga meraksasa seperti sekarang, perusahaan ini memang jauh dari perhatian dan sentuhan tangan pemerintah. Sebagai perusahaan rakyat, Bumiputera benar-benar bertarung sendirian, melewati berbagai zaman dan juga menjadi saksi jatuh bangunnya negeri ini," ujar alumnus komunikasi Universitas Hasanuddin ini.

Ana yang juga cerpenis ini mengaku bekerja di Bumiputera boleh dibilang 'kecelakaan'. Ana yang sebelumnya menjabat Corporate Communication Bumiputera ini tidak pernah bercita-cita bekerja di sektor finansial. 

"Saya sebelumnya pernah menulis sosok seorang petinggi AJB Bumiputera atas pesanan teman. Rupanya dia merasa senang dan malah mengajak saya untuk bekerja di Bumiputera," ujar Ana terkekeh.

Ana mulanya hanya ingin menjadi penulis karena sejak SMP sudah menulis cerita pendek dan dimuat di majalah remaja. Juga pernah ingin berkarier sebagai host televisi lantaran sejak kuliah sudah menjadi penyiar radio.

"Sepanjang karier, terhitung empat kali saya ‘digoda’ secara serius oleh job hunter agar berpindah dengan iming-iming penghasilan atau fasilitas yang tentu lebih baik dibanding apa yang saya terima saat ini," ujar penulis buku kumpulan cerpen Perempuan Perempuan ini.

"Mungkin saya bukan tipikal kutu loncat. Mungkin saya bukan risk taker. Mungkin juga saya pengabdi zona nyaman," tambahnya.

Sepertinya, Bumiputera telah menjadi rumah kedua bagi Ana. Kelahiran Bone 4 Juli 1968 ini pun kini tengah menyusun sebuah buku yang membahas tentang perusahaan mutual dan diharapkan nantinya menjadi rujukan bagi siapa saja yang ingin mengetahui tentang perusahaan yang berprinsip gotong-royong tersebut.

Tentu saja menulis cerpen juga tak pernah ditinggalkannya karena selama ini sastra dapat menyeimbangkan kehidupannya antara dunia yang dijejali statistik dengan dunia perasaan.

"Dunia sastra membuat saja bisa merenung, berkontemplasi dan hidup dalam 'dunia lain'," ujarnya.

Hemm. Oke, deh.
 


500
komentar (0)