logo rilis
Ambil Keuntungan Perang Dagang AS-China Lewat Reksa Dana
Kontributor
Intan Nirmala Sari
10 April 2018, 22:45 WIB
Ambil Keuntungan Perang Dagang AS-China Lewat Reksa Dana
ILUSTRASI: RILIS.ID/Hafidz Faza

RILIS.ID, Jakarta— Bank Commonwealth menilai, prospek investasi pada kelas aset ekuitas merupakan pilihan obyektif untuk investasi reksa dana sepanjang April ini. Hal ini mengacu pada data–data domestik yang cukup positif, dengan potensi ekonomi yang tumbuh lebih baik tahun ini, menurut riset lembaga keuangan global terkemuka IMF (Dana Moneter Internasional) dan World Bank (Bank Dunia). 

Setelah mengalami rally yang cukup panjang, pasca terkoreksi ketika Pemilihan Presiden Amerika Serikat (AS) memenangkan Donald Trump di akhir 2016, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akhirnya kembali terkoreksi cukup signifikan sejak bulan lalu.

Faktor utama yang membuat pasar ekuitas terkoreksi adalah, faktor eksternal dari luar negeri yang memberikan dampak pada negara lainnya. Salah satunya, isu proteksionisme yang semakin nyata membuat pelaku pasar melakukan sell off pada aset ekuitas.

Kebijakan Presiden AS Donald Trump untuk menaikkan tarif impor baja dan aluminium sebesar 25 persen dan 10 persen, serta menaikkan tarif impor produk-produk dari China, telah memberikan sentimen negatif pada pelaku pasar global. AS yang selama ini dikenal sebagai pelopor perdagangan bebas, justru  beralih menutup diri dengan melakukan tindakan proteksionisme.

Dengan ekonomi dunia yang semakin terintegrasi melalui perdagangan, risiko perang dagang dapat memberikan dampak yang nyata pada turunnya ekspor, dan naiknya inflasi pada negara yang terlibat perang dagang tersebut.

Positifnya, Indonesia sebagai negara yang tidak mengandalkan ekspor pada perekonomiannya, memiliki risiko lebih kecil dalam perang dagang tersebut. Berdasarkan data World Bank 2016, ekspor Indonesia memberikan kontribusi 19 persen pada Produk Domestik Bruto (PDB), relatif kecil bila dibandingkan Malaysia 68 persen dan Thailand 69 persen.

Di sisi lain, data dalam negeri menunjukkan impor Indonesia meningkat selama 2018, hal ini merupakan indikasi positif atas meningkatnya permintaan konsumsi. Data lainnya, seperti penjualan semen nasional yang meningkat 7,8 persen (year on year/yoy) pada bulan Februari lalu turut memperkuat indikasi tersebut.

“Dengan mempertimbangkan data-data tersebut dan kondisi IHSG, serta koreksi yang terjadi, saat ini merupakan peluang untuk para nasabah meningkatkan porsi alokasi investasi di ekuitas,” kata Head of Wealth Management & Retail Digital Business Bank Commonwealth Ivan Jaya dalam pernyataan resminya, Selasa (10/4/2018).

Dalam mendampingi nasabah untuk meningkatkan investasinya, Bank Commonwealth memiliki layanan investasi reksa dana yang dapat dimonitor melalui Internet Banking dan Mobile Banking serta Dynamic Model Portfolio.


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)