logo rilis
Alternatif Penyediaan Benih Kentang dengan Stek Berakar
Kontributor
Elvi R
06 September 2020, 17:37 WIB
Alternatif Penyediaan Benih Kentang dengan Stek Berakar
FOTO: Humas Balitbangtan

RILIS.ID, Jakarta— Ketersediaan benih bermutu yang tepat waktu dan tepat jumlah seringkali menjadi kendala dalam budidaya kentang, terutama di luar pulau Jawa. Karena itu, Balai Penelitian Tanaman Sayuran (Balitsa) tengah berupaya menghasilkan Stek Berakar sebagai alternatif penyediaan benih kentang di masa depan. 

Kentang (Solanum tuberosum L.) merupakan komoditas hortikultura yang termasuk dalam kategori sayuran sumber karbohidrat. Umbi kentang umumnya dikonsumsi langsung, disamping juga sebagai bahan baku industri olahan pangan, seperti keripik maupun French fries, maupun industry khusus seperti pati dan ethanol, menjadikan komoditas ini sangat strategis.

Namun disisi lain, ketersediaan benih bermutu yang tepat waktu dan tepat jumlah seringkali menjadi kendala dalam budidaya kentang, terutama di luar pulau Jawa.

Pada umumnya, petani di lapangan menggunakan benih sebar berupa umbi G2. Permasalahan penggunaan benih berupa umbi antara lain memerlukan waktu yang lama dalam produksi benihnya (dari benih penjenis atau plantlet – benih dasar (umbi G0) – benih pokok (umbi G1) – benih sebar (umbi G2)), sifatnya yang bulky sehingga menyulitkan pengiriman jarak jauh dan penyimpanannya, serta biaya pengiriman ke luar daerah yang mahal.

Untuk mengatasi permasalahan tersebut, saat ini mulai berkembang penggunaan benih berupa stek berakar. Ide ini telah dilakukan juga dalam teknik perbanyakan benih kentang, yang bertujuan untuk menekan biaya produksi dan mempercepat ketersediaan benih. 

Di lapangan, benih stek berakar juga mampu menghasilkan tanaman dengan vigor bagus, pertumbuhan normal, dan produksi umbi tinggi. Pertanaman kentang menggunakan benih berupa stek berakar di Lembang tahun 2018 menghasilkan 15,6 ton per hektar.

Sementara pertanaman dari benih umbi menghasilkan 16,4 ton per hektar. Hasil tersebut tidak terlalu berbeda jauh. Produktivitas tanaman yang berasal dari stek berakar dapat dijaga apabila pada awal tanam air tersedia cukup.

Pada prinsipnya, penanaman stek berakar ini sama dengan penanaman bibit tanaman sayuran lainnya seperti cabai ataupun tomat, yang periode kritisnya memang setelah tanam. Bibit harus disiapkan lebih untuk keperluan penyulaman tanaman yang mati. Adapun pemeliharaan selanjutnya, sama dengan tanaman yang berasal dari benih umbi.

Mudah Transportasi

Penggunaan benih berupa stek berakar ini dapat memotong siklus benih sehingga mempercepat ketersediaan benih di lapangan. Selain itu, pengemasan dan transportasi benih stek berakar dari lokasi produksi ke lokasi penanaman dapat dilakukan dengan lebih ringkas.

Pengangkutan jarak dekat dapat dilakukan langsung dengan tray persemaiannya, yang dapat ditumpuk menggunakan pembatas untuk menghindari kerusakan tanaman. Sementara distribusi jarak jauh, dapat dilakukan dengan mencabut stek berakar dari tray, kemudian di bungkus menggunakan koran bekas dan dimasukkan ke dalam kotak.

Untuk menjaga kesegaran stek-an, kotak penyimpanan dijaga kelembabannya dengan membasahi kertas koran atau menyemprot dinding bagian dalam kotak penyimpanan. 


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)


2020 | WWW.RILIS.ID