logo rilis

Aktivis di Inggris Intens Gulirkan Isu Hak Rakyat Palestina
Kontributor
Syahrain F.
21 Mei 2018, 10:57 WIB
Aktivis di Inggris Intens Gulirkan Isu Hak Rakyat Palestina
Rakyat Inggris memperingati 70 tahun diresmikannya penjajahan Zionis di atas tanah Palestina. Credit: Anadolu Agency

RILIS.ID, London— "Hak untuk kembali ke tanah kelahiran (the right to return) adalah pilar penting untuk membangun negara Palestina yang merdeka di masa depan," begitu kesimpulan yang diambil dalam diskusi panel aktivis di London, kemarin (20/5/2018).

"Tanpa dijaminnya hak tersebut, tidak akan ada kemajuan dalam mencari solusi dialog kedua negara," ujar Dr Ghada Karmi, seorang aktivis Palestina yang juga merupakan akademisi dan penulis, melansir Anadolu Agency.

Karmi adalah salah satu panelis dalam konferensi yang diadakan oleh Kampanye Solidaritas Palestina (PSC).

Di antara permasalahan yang didiskusikan adalah hak para pengungsi Palestina untuk kembali ke tenah air mereka, setelah terpaksa kabur dari tanah kelahirannya karena perang pecah akibat penjajahan Zionisme.

"Saya pikir sekarang adalah saat yang tepat untuk berbicara tentang hak kembali, terlebih selama beberapa bulan terakhir, perbincangan seputar hak kembali semakin panas dan beracun," kata Tareq Baconi, seorang analis dari Al-Shakba: The Palestinian Policy Network.

Baconi menggarisbawahi pentingnya menjaga diskusi ini tetap berjalan.

"Sangat penting untuk membuka percakapan itu lagi dan lagi," katanya.

Eitan Bronstein Aparicio, pendiri De-Colonizer dan Zochrot, sebuah LSM yang bekerja untuk mempromosikan pengakuan dan pertanggungjawaban atas ketidakadilan yang terus berlangsung akibat Nakba mengatakan, "Orang-orang Israel takut diusir oleh orang-orang Palestina yang kembali dari pengasingan."

Dia mengatakan inilah alasan Israel menentang hak untuk kembali.

"Kami berkewajiban untuk melakukan segala upaya yang kami bisa, dari sini di Inggris, untuk menginformasikan kepada publik dan bekerja untuk mengubah kebijakan pemerintah," kata Hugh Lanning, ketua PSC.

Kamel Hawwash, wakil ketua PSC, memoderasi konferensi.

Setidaknya 65 orang Palestina menjadi martir akibat aksi agresif tentara Zionis yang menembaki para demonstran selama protes di Gaza timur pada 14 Mei dan ribuan lainnya terluka.

Demonstrasi itu bertepatan dengan Nakba dan relokasi Kedutaan AS dari Tel Aviv ke Yerusalem.

Sejak demonstrasi Gaza dimulai pada 30 Maret, lebih dari 110 demonstran Palestina meninggal dunia.


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)