logo rilis
Ajak Generasi Milenial Jadi Petani, Pendaringan Gelar Kuliah via WhatsApp
Kontributor
Zulhamdi Yahmin
17 Mei 2018, 13:28 WIB
Ajak Generasi Milenial Jadi Petani, Pendaringan Gelar Kuliah via WhatsApp
ILUSTRASI: RILIS.ID/Hafidz Faza

RILIS.ID, Jakarta— Sejumlah anak muda generasi milenial mengambil inisiatif mengampanyekan pentingnya kemandirian dan ketahanan pangan melalui forum Pendaringan. Nur Agis Aulia, seorang peternak muda yang ikut bergabung di Pendaringan, bahkan menggagas penyelenggaraan Kuliah Whatsapp (KulWA) yang ditujukan bagi para petani, peternak, dan nelayan. 

Agis mengatakan, KulWA tak hanya sekedar menjadi arena diseminasi pengetahuan atau tukar informasi dari mereka yang telah berhasil menorehkan banyak prestasi di sektor pangan. Namun, dalam forum itu juga peternak, dan nelayan dapat berkonsolidasi dan mengorganisasi diri untuk memperjuangkan kebijakan yang berpihak. 

”Pendaringan akan kami dorong sebagai tempat untuk mengadvokasi berbagai isu yang dianggap melemahkan kehidupan petani, peternak, dan nelayan di Indonesia. Kami juga menyadari, di masa depan para petani, peternak, dan nelayan harus mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi," kata Agis melalui siaran persnya, Kamis (17/5/2018). 

Digitalisasi produk pertanian, ujar Agis, penting bagi semua pemangku kepentingan yang ada. Menurutnya, hal itu juga untuk memudahkan para konsumen terhubung langsung dengan petani, peternak, dan juga nelayan. 

Dia menyebut, KulWA Pendaringan saat ini diikuti tak kurang dari 1.500 peserta dari kalangan petani, peternak, nelayan, mahasiswa, dan umum yang tertarik dengan dunia pangan. Bahkan, ujarnya, beberapa di antaranya juga berasal dari sejumlah negara seperti Amerika Serikat, Jepang, Singapura, Korea, hingga beberapa negara di Timur Tengah. 

Agis juga menyampaikan ajakan pada generasi milenial untuk menjalani profesi sebagai petani, peternak, dan nelayan. Dia juga tengah menyosialisasikan tagar #2019JadiPetaniPeternakNelayan di media sosial.

"Selama kita masih belum mampu mengonsumsi plastik, mengunyah batu, atau menelan besi, maka selama itu pula profesi petani, peternak, dan nelayan akan selalu dibutuhkan. Saya ingin memberikan manfaat bagi sesama, karena itu saya mengajak kita semua jadi petani, peternak, dan nelayan," ajaknya. 

Sementara, inisiator forum Pendaringan, Aida Syamsuhadi menjelaskan, negara-negara yang memenuhi kebutuhan pangannya melalui kebijakan impor akan menjadi yang pertama terkena dampak krisis pangan. Kebijakan impor yang serampangan itu bukan hanya menciptakan ketergantungan, tapi mengganggu kedaulatan dan ketahanan pangan untuk jangka panjang. 

"Profesi petani, peternak, dan nelayan diakui amat penting, tapi ketiga profesi ini relatif belum cukup banyak merasakan kebijakan yang berpihak. Ada sejenis kekuatan yang tak ingin Indonesia tangguh dengan membiarkan petani, peternak, dan nelayan kita tanpa aturan yang mampu melindungi, menjaga, dan merawat kesinambungan," paparnya.

Editor: Elvi R


500
komentar (0)