logo rilis

Ahmad Soebardjo Memilih Tidur daripada Saksikan Pembacaan Proklamasi
Kontributor
Yayat R Cipasang
23 Maret 2018, 20:01 WIB
Ahmad Soebardjo Memilih Tidur daripada Saksikan Pembacaan Proklamasi
Ahmad Soebardjo (kedua dari kanan)FOTO: Istimewa

KENAPA seorang Ahmad Soebardjo yang terlibat dalam Panitia Persiapan Kemerdekan Indonesia (PPKI) dan juga membawa Sukarno dan Hatta yang diculik pemuda Wikana dan Sukarni ke Rengasdengklok memilih tidak menyaksikan momen paling bersejarah, pembacaan naskah Proklamasi? 

Kenapa lebih memilih tidur padahal kediamannya sepelemparan batu dari Jalan Pegangsaan Timur 56? Kenapa seorang yang paling sibuk menjelang detik-detik Kemerdekaan malah tidak menghadiri upacara paling sakral dalam sejarah Indonesia? 

Silakan tafsirkan sendiri. Tapi sejumlah sejarawan mengungkapkan, ketidakhadiran Soebardjo itu sebagai bentuk keikhlasan seorang negarawan sejati. Soebardjo termasuk yang terlibat dalam Penyusunan Naskah Proklamasi yang baru rampung sekira pukul 06.00 tepat 17 Agustus 1945.

Sementara pembacaan Proklamasi pukul 10.00. Karena (mungkin) kelelahan setelah membawa Soekarno dari Rengasdengklok dan malamnya hingga pagi membahas Naskah Proklamasi, Soebardjo rupanya tidak tahan menahan kantuk. Ia memilih pulang dan tidur.

Soebardjo sebenarnya ingat dengan pesan Bung Karno sebelum anggota PPKI mengakhiri rapat di Jalan Imam Bonjol 1 yang meminta agar peserta rapat untuk kembali ke Jalan Pegangsaan Timur 59 untuk membacakan Naskah Proklamasi.

Dua utusan Bung Karno datang tergesa-gesa untuk meminta kehadiran Soebardjo. Namun seperti dikisahkan dalam bukunya Kesadaran Nasional: Sebuah Otobiografi (Gunung Agung, 1978), Soebardjo malah lebih melanjutkan tidurnya yang terganggu. Dengan entengnya kepada utusan Bung Karno tersebut Soebardjo meminta maaf tak bisa hadir dan meminta agar Upacara Proklamasi Kemerdekaan segera dimulai saja.

Soebardjo yang pituin Sunda, lahir di Karawang, Jawa Barat, 23 Maret 1896. Soebardjo bukanlah orang sembarangan. Ia lulus dari Sekolah Menengah Atas (HBS) di Jakarta pada tahun 1917. 

Saat mahasiswa Soebardjo dikenal sebagai pentolan organisasi kepemudaan seperti Jong Java dan saat di Belanda aktif dalam Perkumpulan Mahasiswa Indonesia di Belanda. Gelar Meester in de Rechten (Sarjana Hukum) diraihnya dari Universitas Leiden, Belanda tahun 1933.

Puncak kariernya, Soerbardjo ditunjuk Sukarno sebagai menteri luar negeri dua kali. Dua hari setelah kemerdekaan, 19 Agustus 1945 selama 4 bulan (Agustus hingga Desember) dan diangkat kembali pada periode 1951–1952. Juga pernah menjabat duta besar Indonesia untuk Republik Federal Swiss periode 1957–1961.

Dalam dunia pendidikan Soebardjo diganjar gelar profesor dalam bidang sejarah Konstitusi dan Diplomasi RI dari Fakultas Sastra Universitas Indonesia. 

Soebardjo paling dikenang oleh Kementerian Luar Negeri Indonesia karena jasa-jasanya sebagai peletak dasar diplomasi Indonesia. Tidak hanya piawai dalam menggalang dukungan dunia luar setelah Proklamasi Kemerdekaan dikumandangkan, Soebardjo juga merelakan rumahnya di Jalan Cikini Raya Nomor 80 Jakarta Pusat merangkap sebagai Kantor Kementerian Luar Negeri.

Di kantor sementara inilah Soebardjo bersama 10 personelnya menghadapi tantangan pertamanya yaitu meminta surat dari Presiden Sukarno agar seorang utusan dari Sekutu dapat melihat sendiri keabsahan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Setelah keliling Jawa selama sepekan utusan Sekutu tersebut mendapat bukti kemerdekaan itu diinginkan rakyat dan mereka sangat bersuka cita. Ini juga membuktikan pemerintahan yang berkuasa mendapat dukungan rakyatnya.

Rumah seluas 550 meter persegi dengan luas tanah 3.000 meter persegi ini masih berdiri kokoh. Rumah itu pernah menjadi tempat pertemuan para pendiri bangsa negeri ini seperti Sukarno, Hatta, Sjahrir dan Tan Malaka.

"Saya yakin ke depan, bidang yang baru ini dapat menarik minat banyak orang." Itulah pernyataan Soebardjo di awal berdirinya Kementerian Luar Negeri dengan segala keterbatasanya.

Pernyataan itu terbukti dan menjadi diplomat kini menjadi kebanggaan anak-anak muda.


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)