logo rilis

Agama Pasar
kontributor kontributor
Yudhie Haryono
16 April 2017, 00:23 WIB
Pengamat ekonomi politik, bekerja sebagai Dosen dan Direktur Eksekutif Nusantara Center
Agama Pasar

Kutanya sekali lagi. Apa agama terkini? Menurutku adalah agama pasar. Apa itu? Adalah bekerjanya iman dan ortopraksi ekonomi-politik tanpa sistem. Dalam bahasa yang salah kaprah dinamakan sistem ekonomi pasar (extra exlecia nulla merkantilia). Apa itu? Adalah sistem ekonomi di mana seluruh kegiatan ekonomi mulai dari produksi, distribusi dan konsumsi diserahkan sepenuhnya kepada mekanisme pasar.

Mekanisme ini mengunggulkan konglomerat dan begundal finansial plus korporat-keparat. Inilah sistem paling brutal sepanjang sejarah peradaban manusia di dunia. Dikerjakan via filsafat "membela yang bayar" dan larangan sakit bagi si miskin dan tuna kuasa (keduanya tak sanggup bayar). Ditradisikan via genosida minus pembunuhan: sebab yang terjadi adalah perbudakan massal.

Baca Juga

Dalam sistem ini, faktor-faktor produksi dimiliki oleh swasta dan mereka mempunyai kebebasan untuk menggunakan semau-maunya. Sektor perusahaan akan berusaha untuk menggunakan cara paling koruptif sambil mencari keuntungan yang paling maksimum.

Sistem perekonomian pasar bebas mencapai tujuan tersebut melalui interaksi di antara pengusaha dan pembeli di dalam pasaran tanpa campur tangan negara dan pihak-pihak lain yang tak dianggap penting.

Adam Smith, dalam bukunya “An Inquiry Into the Nature and Causes of the Wealth of Nations" menulis bahwa ciri dari sistem ekonomi pasar adalah: 1)Setiap orang bebas memiliki barang, termasuk barang modal; 2)Setiap orang bebas menggunakan barang dan jasa yang dimilikinya; 3)Aktivitas ekonomi ditujukan untuk memperoleh laba; 4)Semua aktivitas ekonomi dilaksanakan oleh swasta; 5)Pemerintah haram melakukan intervensi pasar; 6)Persaingan dilakukan secara bebas; 7)Peranan modal adalah utama; 8)Kesenjangan makin lebar; 9)Kuasa modal menentukan kuasa dalam segala hal.

Dus, sistem ini tidak mengurus hal-hal yang jadi problem negara postkolonial: keterjajahan, kemiskinan, kebodohan, kesakitan, kesenjangan, ketakmandirian, ketergantungan, kebingungan, kegelapan.

Jadi, tanpa sistem atau sistem pasar adalah "kebenaran" yang di luarnya salah. Tak ada kebenaran kecuali pasar dan pasarlah pusat kebenaran. Di mana agama dan ideologi? Kini, keduanya dipasarkan secara murah dan tak laku lagi. Itulah mengapa orang seperti Jokowi dan Ahok yang dipasarkan agar menjadi penjaga pasar. Sulit untuk tidak mengatakan keduanya sebagai budak korporasi (anak haram dari perselingkuhan singa, naga dan banteng). Kabinet korporasi dan hubernor korporat yang bersikap keparat.

Akhirnya, yang idealis, konstitusional dan waras akan menolak. Jika sedia, ia akan kalah dan binasa. Kecuali, kawan berani melawan! 

Tipu daya terus berkembang modelnya. Perampokan makin canggih modusnya. Kita lawan. Secerdasnya. Dengan kejeniusan seribu muka, semilyar cara, untuk "Laksanakan Pancasila".


#Yudhie Haryono
#Pancasila
#Agama Pasar
Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)





2019 | WWW.RILIS.ID