logo rilis
Agama dalam Bayang-bayang Teror
Kontributor
Henrikus Setya Adi P
15 Mei 2018, 10:42 WIB
Agama dalam Bayang-bayang Teror
ILUSTRASI: Hafiz

AGAMA menjadi rentan dimanfaatkan dan dieksploitasi untuk kepentingan kelompok maupun kekuasaan. Kejadian teror bom bisa berarti upaya kelompok tertentu untuk menanamkan dominasinya di dalam masyarakat. Hal itu juga tidak lepas dari hal-hal yang bernuansa politis yang cenderung disertai dengan tindak kejahatan. Hal tersebut juga dapat disebabkan kondisi struktur sosial politik oleh pemegang kekuasaan yang juga melakukan kekerasan secara sewenang-wenang atas dasar monopoli legitimasi. 

Teror muncul dalam kondisi struktur sosial politik yang telah berulang kali mepertontonkan praktik kekerasan. Hal ini nampak dalam perilaku politik yang menggunakan agama sebagai alat kepentingan politik. Para pemegang legitimasi atas agama terus memproduksi cara pandang oposisi biner dan vis a vis yang memunculkan tindakan menafikan atau menyalahkan keyakinan dan keimanan yang lain.

Agama sendiri dipahami oleh Bourdieu sebagai sebuah gagasan yang memberi kekuatan yang memobilisasi. Sehingga dalam hal ini, sangat memliki potensi untuk melakukan tindakan kekerasan sebagai sebuah alat dominasi politik keagamaan. 

Dalam kekuatannya memobilisasi agama menjelma menjadi hasrat mimesis atau sebuah proses peniruan melalui praktik menafikan maupun tindakan kekerasan. Hasrat mimesis inilah yang kemudian banyak muncul dalam beberapa tindakan masyarakat. Tanpa sadar, tindakan-tindakan tersebut menjadi pemicu aksi teror yang terjadi. 

Radikalisme Agama dan Teror

Menurut J. Sémelin dalam Haryatmoko, tindakan kekerasan teroris bisa dilihat sebagai proses mental, yaitu gerak perubahan mulai dara cara melihat ‘yang lain’, lalu menstigmatisasi, merendahkan, menghancurkan dan akhirnya membunuh. Pertanyaannya, bagimana agama bisa menjadi bagian dari teror? Bagaimana Tuhan menjadi representasi atas terjadinya kekerasan?

Menurut Haryatmoko, ada tiga mekanisme pokok yang menentukan keterkaitan agama dengan kekerasan. Pertama, agama sebagai kerangka penafsiran religius terhadap hubungan sosial (fungsi idiologis); agama menjadi perekat suatu masyarakat karena memberi kerangka penafsiran dalam pemaknaan hubungan sosial. Sejauh mana suatu tatanan sosial dianggap sebagai representasi religious yang dikehendaki Tuhan. Kedua, agama sebagai faktor identitas; dapat didefinisikan sebagai kepemilikan pada kelompok sosial tertentu. Kepemilikan ini memberikan stabilitas sosial, status, pandangan hidup, cara berpikir serta etos. 

Ketiga, agama sebagai legitimasi etis hubungan sosial; berbeda dengan agama sebagai kerangka penafsiran. Mekanisme yang ketiga ini bukan sakralitas hubungan sosial, tetapi suatu tatanan sosial mendapat dukungan dari agama. Dalam konteks ini, formalisme agama menjadi penting di dalam penghayatan karena terkait dengan masalah pengakuan sosial dan kebanggan pada kepemilikan kelompok. Maka diperlukan suatu penamaan sistem sosial, ekonomi dan budaya dengan jargon-jargon agama yang semakin meningkatkan fanatisme pemeluknya.

Dalam konteks, tindakan teroris, ketiga mekanisme tersebut, bagi sebagian golongan kemudian ditafsirkan dengan menyamarkannya dalam bentuk pembebasan untuk tujuan pertobatan dan menciptakan kondisi yang sesuai dengan ajaran agama. Agama menjelma menjadi teologi yang mewujud sebagai kehendak Tuhan melalui kekerasan. Teologi ini membentuk sistem keyakinan yang sangat rentan dengan konflik. Karena, pencarian kebenaran akan diwarnai dengan kekerasan, dimana Tuhan menjadi dalih atas semua konflik dan pembenaran. Ditambah, tindakan kekerasan merasa dibenarkan oleh Kitab Suci, bahkan menjadi bagian dari keimanan.

Bahaya yang mengancam adalah ketika agama menjelma sebagai ideologi. Sementara, teror merupakan idelogi dari terorisme. Akhirnya, agama menjadi pembenaran terhadap semua bentuk kejahatan atas nama ideologi. Ideologi memang memiliki kecenderungan untuk memelihara ilusi tentang kesatuan totaliter (identitas murni).  Ilusi soal indentitas murni ini dapat mendorong tindakan mengeleminasi semua yang mengancam kemurnian identitas.

H. Rauschning mengatakan, terorisme dengan relawan bom bunuh diri membuat terobosan psikologis karena membuat takut penguasa. Terorisme adalah bentuk nihilisme karena tiga ciri khas: matinya kebebasan, dominasi kekerasan dan pemikiran yang diperbudak. Ketiga ciri itu akan menjamin radikalitas pengikutnya.

Sementara, dalam kondisi ketidakpastian global yang melahirkan pengangguran dan ketidakadilan. Radikalisme agama mampu menawarkan sebuah kepastian dalam bentuk keadilan ekonomi dan persaudaraan melalui revolusi moral.
 
Setidaknya, dengan cara ini radikalisme mampu memberikan identitas pasti. Tidak heran, jika dalam ajakan radikalisme agama, hal yang ditawarkan adalah hidup tanpa perlu memikirkan ekonomi (tawaran gaji tinggi, rumah, istri, dll). Sehingga pengikutnya hanya perlu berfokus pada penguatan keimanan untuk mencapai tujuan agama. Tawaran kepastian itu menjadi kunci sukses untuk menarik pengikut menuju radikalisme agama.

Kembali mengutip tulisan Haryatmoko, kepastian itu muncul dari visi manikean bahwa dunia hanya terdiri dua kelompok, yaitu baik dan jahat (agama pilihan dan musuh). Kepastian diberikan kepada pengikut agama pilihan. Janji akan masa depan yang baik dan tanpa kesulitan dikaitkan dengan pemisahan baik dan jahat. Pemisahan ini, meminjam istilah dari Yasraf Amir Piliang, merupakan bentuk demonisasi atau sebuah hutan rimba kebencian. 

Dalam pandangan Yasraf, demonisasi muncul dari politik eksplosi, yaitu, peledakan ke luar yang menghasilkan pecahan atau entitas, khususnya dengan diangkatnya isu genealogis perbedaan, identitas, suku, agama, bahasa maupun adat. Pemisahan ini membenarkan tindakan negasi, kekerasan hingga pembunuhan melalui teror. Karena musuh adalah negasi yang akan selalu bertentangan dengan agama pilihan. Maka, tidak mungkin ada perdamaian dengan orang-orang bukan pemeluk agama pilihan.

Dalam kasus teror bom yang terjadi belakangan ini, menurut beberapa pengamat mengatakan, pelaku teror bom diduga memiliki keterkaitan dengan ISIS. Dikatakan ISIS memiliki tujuan untuk mendirikan daulah (negara) dan hanya percaya negara merekalah satu-satunya yang sah di mata Tuhan. Jadi hanya ISIS yang berhak mendirikan negara sementara yang lainnya dianggap penyimpangan dan harus dilenyapkan, Jika ini benar, maka relevan dengan tiga mekanisme dalam kasus ajaran radikalisme agama melalui teror, yaitu; selalu ada mekanisme penunjukan kambing hitam, radikalisasi pertenangan dan pembunuhan (pemurnian kelompok atau penghancuran musuh). 

Dalam kasus ajaran radikalisme agama melalui teror, selalu ada mekanisme penunjukan kambing hitam, radikalisasi pertenangan dan pembunuhan (pemurnian kelompok atau penghancuran musuh). Dan yang penting juga, kondisi krisis dapat menciptakan situasi yang kondusif bagi tumbuhnya radikalisme agama.


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)