logo rilis
ADB Proyeksi Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,3 Persen di 2018
Kontributor
Intan Nirmala Sari
11 April 2018, 14:28 WIB
ADB Proyeksi Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,3 Persen di 2018
ILUSTRASI: RILIS.ID/Hafidz Faza

RILIS.ID, Jakarta— Bank Pembangunan Asia (Asian Development Bank/ADB) memperkirakan perekonomian Indonesia tumbuh 5,3 persen pada 2018 dan 2019. Kondisi tersebut, seiring naiknya laju investasi dan membaiknya konsumsi rumah tangga, demikian menurut publikasi ekonomi tahunan terkemuka dari ADB, Asian Development Outlook (ADO) 2018 yang dirilis Rabu (11/4/2018).

“Manajemen makroekonomi Indonesia yang kuat dan reformasi struktural telah mendorong momentum investasi. Dengan berlanjutnya upaya reformasi, Indonesia dapat mencapai pertumbuhan yang lebih tinggi dan inklusif,” kata Kepala Perwakilan ADB untuk Indonesia Winfried Wicklein.

ADO menggarisbawahi, bahwa penguatan investasi telah meningkatkan mutu pertumbuhan, dengan pengeluaran modal yang lebih tinggi dari pemerintah membantu mengatasi kesenjangan infrastruktur. Laju investasi diperkirakan akan terus meningkat, didorong oleh sentimen bisnis yang positif dari reformasi struktural, bersama dengan pemercepatan sejumlah proyek strategis nasional.

Pada 2017, ekonomi Indonesia tumbuh 5,1 persen, didorong naiknya pertumbuhan ekspor, menguatnya investasi dan konsumsi rumah tangga, serta didukung inflasi yang rendah dan pertumbuhan lapangan kerja yang solid, termasuk kontribusi sekitar 1,5 juta pekerjaan baru dari sektor manufaktur.

Inflasi mencapai rata-rata 3,8 persen pada 2017 dan diperkirakan akan stabil tahun ini, sebelum sedikit naik ke 4,0 persen pada 2019. Hal ini akan mendukung kepercayaan konsumen dan membantu mempertahankan pengeluaran rumah tangga, sekaligus pendapatan riil tahun ini dan tahun depan.

Menguatnya perdagangan global dan harga komoditas internasional yang lebih tinggi pada 2017 membantu mengurangi defisit transaksi berjalan ke 1,7 persen dari produk domestik bruto (PDB) Indonesia. Untuk 2018, pertumbuhan ekspor diperkirakan akan melambat, sedangkan impor masih tetap kuat, ditopang oleh permintaan barang modal. Oleh karenanya, defisit transaksi berjalan diperkirakan akan sedikit meningkat pada 2018 dan 2019, jelas laporan tersebut.


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)