Home » Fokus

Ada Minyak dan Uang China di Balik Krisis Rohingya

Rabu, 6/9/2017 | 20:38

ILUSTRASI: Hafidz Faza

KRISIS kemanusiaan di Rakhine, Myanmar, semakin memanas dalam beberapa pekan terakhir. Data PBB yang dirilis pada Senin (4/9/2018) mencatat, lebih dari 130 ribu jiwa etnis Rohingya terusir dari tempat tinggalnya dan harus mengungsi ke wilayah lain. Rumah dan ladang mereka dibakar oleh pasukan bersenjata yang diizinkan oleh otoritas di Myanmar.

Lepas dari rumitnya persoalan politik identitas di Myanmar, krisis di Rakhine juga disebabkan masuknya pemain politik global di dalam peta politik Myanmar. Seperti diungkapkan Dmitry Mosyakov, analis dari Akademi Sains Rusia, kepada RussiaToday.

Menurutnya, semakin panasnya konflik di Myanmar dimanfaatkan pemain geopolitik global untuk mengganggu stabilitas dalam negeri. Apalagi melihat potensi alam di wilayah Rakhine yang diduga mengandung potensi minyak bumi yang melimpah.

Setelah potensi alam ini dieksplorasi tahun 2004, pemilik modal dari China tertarik, dan masuk ke Myanmar. Apalagi di tahun 2013, China telah sanggup menyambungkan pipa gas alam yang menghubungkan Kyaukphyu di Myanmar dengan Kunming, daratan China.

Dengan tersambunya pipa ini, China sanggup memotong jalur pengiriman minyak dari Timur Tengah dan Afrika ke wilayah China daratan, tanpa harus berputar ke Selat Malaka.

Semakin mesranya hubungan China-Myanmar, bersamaan dengan meningkatnya konflik di Rakhine, termasuk pengusiran dan kekerasan terhadap etnis Rohingya. Terutama sepanjang tahun 2011-2012, ketika lebih dari 120.000 orang harus menjadi pengungsi untuk menghindari pembunuhan massal.

 

Penulis Danial Iskandar

Tags:

fokusrohingyachinaasia tenggarakonflik sara

loading...