logo rilis
Ada Kejanggalan di Balik Kematian Milka Boimau
Kontributor
Afid Baroroh
26 Maret 2018, 21:31 WIB
Ada Kejanggalan di Balik Kematian Milka Boimau
Perwakilan Koalisi Peduli Perdagangan Orang Nusa Tenggara Timur, Gregorius R. Daeng (ketiga kanan), saat jumpa pers terkait kematian TKI asal Kupang di Malaysia, Milka Boimau, di LBH Jakarta, Senin (26/3/2018). FOTO: RILIS.ID/Afid Baroroh

RILIS.ID, Jakarta— Perwakilan Koalisi Peduli Perdagangan Orang Nusa Tenggara Timur (NTT), Gregorius R Daeng, menilai, ada kejanggalan di balik kematian tenaga kerja Indonesia (TKI), Milka Boimau. Sebab, tubuh Milka penuh dengan jahitan.

"Milka adalah korban trafficking," ujarnya di Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta, Senin (26/3/2018).

Milka meninggal dunia di Malaysia dan tiba di Kupang, NTT, Minggu (11/3). Ketika peti dibuka, dari pangkal perut hingga bagian dada Milka ada jahitan dan membentuk garis lurus.

Meski berangkat melalui Pelaksana Penempatan TKI Swasta (PPTKIS) resmi, kata Gregorius, umur dan tanggal lahirnya dipalsukan. Bahkan, PPTKIS itu izinnya dicabut Kementerian Ketenagakerjaan, satu tahun setelah Milka bekerja di Malaysia.

"Terkait dengan kematian Milka, juga terdapat beberapa fakta aneh. Di antaranya menurut keluarga, ketika masih berkomunikasi via telepon, suara Milka masih terlihat sehat," jelasnya.

Sayangnya, telepon Milka diambil paksa dan dimatikan oleh seseorang. Milka kembali berusaha menelepon keluarganya sebanyak dua kali. Lagi-lagi dimatikan. Sembilan menit berselang, keluarga dihubungi, bahwa Milka meninggal. 

Gregorius pun menyesalkan sikap pemerintah di NTT, lantaran tak peduli dengan kasus tersebut. Bahkan, tak ada pernyataan resmi meski peti mati tiba sepekan sebelumnya.

"Belum ada pernyataan resmi dari kepala daerah, baik itu gubernur, bupati, maupun wali kota yang mengatakan, bahwa NTT mengalami darurat perdagangan orang," pungkasnya.

Editor: Fatah H Sidik


500
komentar (0)