logo rilis

Ada 'Bos Besar' di Kasus Suap Lampung Tengah, Siapa?
Kontributor
Tari Oktaviani
17 Mei 2018, 16:10 WIB
Ada 'Bos Besar' di Kasus Suap Lampung Tengah, Siapa?
Bupati nonaktif Lampung Tengah Mustafa. FOTO: RILIS.ID Lampung

RILIS.ID, Jakarta— Persidangan Bupati nonaktif Lampung Tengah Mustafa kembali digelar. Kali ini, Jaksa Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memutar rekaman percakapan antara Natalis Sinaga selaku Wakil Ketua DPRD Lamteng dan Syamsi Roli selaku Sekretaris DPRD Lamteng.

Dalam percakapan yang membicarakan rencana suap itu, Natalis menyebut ada seseorang berinisial T, "bos besar" dan juga menyebut kata "eksekusi".

Syamsi yang dihadirkan sebagai saksi sempat dikonfirmasi oleh jaksa seputar istilah tersebut. Saat dikonfirmasi dalam persidangan, seseorang berinisial T tersebut adalah Taufik Rahman yang merupakan Kepala Dinas Bina Marga Lamteng. Namun, ia beralibi tak tahu-menahu maksud "bos besar" dan "eksekusi".

"Saya tidak paham maksudnya bos besar. Kalau T mungkin arahnya ke Pak Taufik," ujar Syamsi.

Natalis tampak terdengar mengeluh dalam rekaman itu. Pasalnya, seseorang berinisial T tersebut tidak memenuhi apa yang telah disepakati. Padahal, Natalis sudah mendapat lampu hijau dari bos besar.

Namun, Jaksa menduga, istilah bos besar yang dimaksud adalah Bupati Lamteng, Mustafa.

Untuk lebih jelasnya, berikut bagian transkip rekaman percakapan Natalis dan Syamsi:

Natalis: "Saya kan dua hari yang lalu kan dipanggil, sudah ketemu langsung bos besar, sudah langsung empat mata ngobrol dan katanya dijanjikan paling lambat hari ini si T itu akan ketemu saya. Ternyata sampai hari ini juga enggak ada".

Syamsi Roli: "Kata Madani ya itu udah oke. Tinggal eksekusi lagi yang yang yang pertemuan Pak Natalis terakhir itu".

Diketahui dalam kasus ini, Mustafa didakwa menyuap sejumlah anggota DPRD Lamteng sebesar Rp9,6 miliar. Menurut jaksa, penyuapan itu dilakuan bersama-sama Kepala Dinas Bina Marga Lamteng, Taufik Rahman.

Sejumlah anggota DPRD Lampung Tengah periode 2014-2019 yang disebut menerima suap yakni, Natalis Sinaga, Rusliyanto, Achmad Junaidi Sunardi, Raden Zugiri. Kemudian, Bunyana dan Zainuddiin.

Menurut jaksa, pemberian uang tersebut bertujuan agar anggota DPRD tersebut memberikan persetujuan terhadap rencana pinjaman daerah Kabupaten Lamteng kepada PT Sarana Muti Infrastruktur (Persero) sebesar Rp300 miliar pada tahun anggaran 2018.

Editor:


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)