Home » Inspirasi » Sosok

Abdullah Azwar Anas, Mengubah Santet Jadi Internet

print this page Senin, 4/12/2017 | 13:05

ILUSTRASI: Arif Setiadi

KETIKA melakukan perjalanan darat dari Surabaya ke Banyuwangi sepanjang memandang jalan berliku dan melintas kebun jati, belum lama ini, yang terpikirkan hanya cerita santet. Ya, Banyuwangi identik dengan stempel ilmu hitam yang mematikan tersebut.

Tetapi setelah sampai di kota Banyuwangi apa yang dibayangkan sepanjang jalan itu sirna. Kota yang dirimbuni pepohonan hijau dan tanpa gedung bertingkat itu sangat tenang dan warung-warung kelontong buka berderet di sepanjang kota.

"Di sini tidak ada itu Indomaret dan Alfamart. Kalau pun ada mal itu peninggalan kebijakan bupati lama," kata Supardi, sopir bus yang membawa penulis ke Banyuwangi.

Selama hampir dua periode kepemimpinan Bupati Abdullah Azwar Anas memang tidak mengizinkan mal dan minimarket menjamur di wilayahnya.  Akibatnya perekonomian masyarakat tumbuh dan kesejahteraan pun meningkat. Terakhir, angka kemiskinan Banyuwangi yang sebelumnya 20,4 persen menjadi tinggal 9,2 persen. 

Tidak hanya melarang toko dan swalayan waralaba, Bupati Anas juga melarang hotel-hotel melati didirikan di lokasi wisata dan tempat lainnya. Hotel melati diangggap Anas, kini bakal calon wakil gubernur Jatim mendampingi Gus Ipul, identik dengan praktik prostitusi.

Sempat mendapat pertentangan dari warga dan pelaku usaha. Namun Anas tetap dengan pendiriannya dan ia buktikan pariwisata tidak terganggu, justru meningkat. Data terakhir sempat membukukan kenaikan wisatawan mencapai 300 persen. Terakhir, turis mancanegara mencapai 70.000 dan pelancong lokal sekira 3,5 juta orang.

Menjadi kepala daerah, kata Anas dalam sebuah kesempatan, harus kreatif dan bervisi jauh ke depan. Ketika dikritik tidak reaktif, tetapi harus mencari solusinya. "Kami hadirkan Banyuwangi Festival, Banyuwangi Ethno Carnival, Tour de Ijen dan Bandara Blambangan dikembangkan sehingga bisa didarati pesawat berbadan lebar," ujarnya. 

"Kami juga memperpanjang landasan bandara menjadi 2.200 meter. Maskapai Garuda Indonesia dan Lion Air sudah lama melayani Jakarta-Banyuwangi," tambahnya.

Bupati yang berusia 43 tahun ini memang sarat prestasi. Misalnya saja, pada tahun lalu Banyuwangi satu-satunya kabupaten yang memperoleh nilai A dalam evaluasi Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah dari Kementerian PAN/RB. 

Dari luar negeri di antaranya penghargaan bergengsi Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) UNWTO Awards for Excellence and Inovation in Tourism untuk kategori Inovasi Kebijakan Publik dan Tata Kelola. Belum lagi sebagai narasumber di sejumlah negara terkait pemerintahan seperti yang terbaru menjadi pembicara di Jepang.

Banyak yang menilai, Anas bukan bupati biasa. Selain pemimpin, mantan anggota DPR ini juga mendapat sebutan entrepreneur dan juga marketer. Keterampilan yang multidimensi ini menyebabkan segala bidang kehidupan di Banyuwangi meningkat bersamaan.

Perkembangan teknologi komunikasi dan internet dimanfaatkan secara optimal untuk kemudahan dan layanan publik. Dari pengurusan izin hingga promosi produk pertanian semua berbasis internet.

Banyuwangi telah mengubah image dari sebelumnya dikenal sebagai daerah klenik berubah menjadi dari daerah berbasis teknologi informasi. "Komputer dan jaringan internet bisa dinikmati sampai ke pedesaan," kata Anas.

Ya, bila sebelumnya di Banyuwangi mengirim 'pesan' lewat santet, kini mengirim pesan lewat internet. Bukan begitu Pak Bupati?

Penulis Yayat R Cipasang

Tags:

sosok azwar anas pilgub jatim banyuwangiprofil anas