logo rilis
Teror terhadap Tokoh Agama 'Mengancam' Pilkada Jawa Timur
Kontributor

20 Februari 2018, 21:33 WIB
Teror terhadap Tokoh Agama 'Mengancam' Pilkada Jawa Timur

Pengamat politik Universitas Airlangga (Unair), Airlangga Pribadi Kusman, menilai, teror terhadap pemuka agama bertujuan membuat masyarakat resah dan saling curiga, termasuk di Jawa Timur. Karenanya, aparat diminta segera mengambil tindakan cepat, agar tak berdampak terhadap Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2018.

"Kalau aparat berwenang tidak cepat mengambil tindakan meredam rangkaian teror tersebut, tentunya akan membuat pilkada di Jatim menjadi tidak kondusif dan mengancam tahapan pilkada," ujarnya di Surabaya, Jatim, Selasa (20/2/2018). Pilkada 2018 setidaknya digelar di 18 kabupaten/kota se-Jatim plus provinsi.

Direktur Eksekutif The Initiative Institute (TII) ini meyakini, ada aktor intelektual di balik rangkaian teror tersebut. Alasannya, polanya sistematis dan massif.  

 

"Kalau teror terus terjadi, bisa memicu konflik horizontal antarpendukung kandidat. Apalagi, bila ada yang menggoreng isu bernuansa SARA ini dan membawanya ke ranah politik," jelas Airlangga.

 

Terpisah, Sekretaris Pimpinan Wilayah Gerakan Pemuda Ansor Jatim, Mohammad Abid Umar Faruq, mengimbau, masyarakat Jawa Timur, khususnya warga Nahdlatul Ulama (NU) tetap tenang dan tak mengambil inisiatif sendiri-sendiri.  

 

"Kemarin, Pondok Pesantren Al Falah, Ploso, Mojo, Kediri, juga sempat didatangi orang tak dikenal. Tapi, kita tak main hakim sendiri. Kita serahkan terduga pelaku ke pihak Kepolisian. Terpenting tetap siaga, agar tidak kecolongan," ujar cucu KH Zainuddin Djazuli ini.

Sebagai informasi, teror terhadap pemuka agama belakangan terjadi di sejumlah daerah. Setelah beberapa titik di Jawa Barat, belakangan serangan serupa terjadi di sejumlah wilayah Jatim, seperti Lamongan, Kediri, Tuban, dan Lumajang.


500
komentar (0)