logo rilis

Soedjatmoko dan Interdisiplin Ilmu
Kontributor

14 Maret 2018, 09:37 WIB
Soedjatmoko dan Interdisiplin Ilmu

Soedjatmoko bergerak dari ilmu ke ilmu untuk mengukuhkan ketersambungan posisi manusia sebagai pribadi yang mustahil terlepas dari kompleksitas kehidupan. Penegasan itu mengindikasikan suatu dorongan total agar individu menggayung disiplin ilmu secara utuh. Sikap ini bisa dilihat sebagai antitesis revolusi ilmu pengetahuan yang cenderung dikotomis.

Pemikiran Soedjatmoko soal interdisiplin ilmu itu telah digagas semenjak usia 20-an. Masa mudanya ia gunakan untuk merenungi filsafat ilmu dan bagaimana implikasinya terhadap kehidupan manusia. Bejibun buku bekas yang ia beli murah di Pasar Klewer Solo membuat Soedjatmoko tumbuh menjadi pemuda yang rajin membaca.

Tiada hari tanpa menbaca, merenung, dan menulis. Sekalipun catatan harian atas bacaan yang telah dilahapnya kini tak lagi ditemukan generasi milenial, pemikiran Soedjatmoko bisa diteropong lewat ratusan tulisan yang dulu dibukukan dan kini berangsur menjadi klasik.

Bagi Soedjatmoko, sifat ilmu itu universal. Ia bisa dinikmati siapa pun tanpa mengenal batas identitas. Namun, di balik universalitas ilmu, Soedjatmoko menyadari bahwa ia niscaya terikat kepentingan tertentu. Anggapannya itu kemudian muncul tesis: ilmu bisa bersifat objektif, tapi pada praksisnya ia tak netral. Siapa pengguna ilmu, dengan demikian, dapat dipeyorasikan sesuai kepentingan individu maupun kelompoknya.

Pemikiran Soedjatmoko tahun 70-an tersebut secara implisit menampar anggapan kontemporer—meskipun sudah dimulai seabad lampau—ihwal superioritas ilmu pasti ketimbang ilmu sosial-humaniora. Dimensi eksak dianggap lebih empiris dampaknya daripada disiplin sosial-humaniora.

Akibatnya, pemegang tertinggi tampuk politik melakukan pilih kasih terhadap ilmu tertentu. Ia melakukan politik identitas dan kultus ilmu eksak sebagai komponen primer dalam cakupan kebijakan pembangunan. Geliat ini terpampang jelas dalam praktik pendidikan dewasa ini.

Diskriminasi ilmu pengetahuan sesungguhnya merupakan kesalahan fatal yang telah dilakukan pasca Revolusi Industri. Positivistik dianggap penting ketimbang naturalistik. Hal ini jelas membahayakan bagi perkembangan dan kesimbangan ilmu pengetahuan. Telah banyak kasus yang telah diakibatkan oleh sikap serampangan ini.

Bayangkan bila ilmu pasti dibiarkan berkembang secara bebas nilai. Boleh jadi akan terjadi kesenjangan menganga di tataran sosial. Jika Artificial Intelligence dikembangkan total tanpa analisis dampak di masyarakat, posisi manusia akan teralienasikan. Konsekuensi logisnya dunia bukan lagi mengakomodasi kepentingan manusia, sebab robot telah meneken peran dan fungsi human. Ini sekadar contoh faktual yang sedang dihadapi manusia modern.

Peringatan futuristik Soedjatmoko sejak empat dekade lampau mulai menunjukan tatal-tatal kebenaran, sekalipun baru sebatas fenomenologis. Suatu ketika ia pernah menulis, “Hari depan dunia lebih banyak ditentukan moralitas keputusan kita sekarang.”

Yang menjadi pertanyaan berikutnya adalah moralitas versi siapa? Kalau Soedjatmoko masih hidup barangkali akan menimpali: moralitas universal yang dipegang penduduk bumi—jawaban imajiner yang terlalu klise dan sentimentil.

Humanisme Bung Koko

Perenungan panjang Soedjatmoko mengenai dimensi manusia dan kemanusiaan merupakan bentuk keprihatinannya terhadap kecenderungan pembangunan yang berporos pada kepentingan ekonomi. Secara terang-terangan ia mengkritik model pembangunan Orde Baru yang lebih mengutamakan aspek ekonomi ketimbang kebudayaan.

Soedjatmoko menghendaki suatu keseimbangan pembangunan. Baik dimensi ekonomi maupun kebudayaan semestinya diposisikan sama. Tanpa ekonomi yang sehat suatu bangsa akan dirundung kecemasan fisik, sedangkan tanpa kebudayaan suatu bangsa akan terjebak kegelapan psikis. Dua poin tersebut, dengan demikian, mesti diprioritaskan pemerintah manakala hendak menarasikan pembangunan jangka panjang.

Kritik konstruktif Soedjatmoko direspons ilmuan sosial sebagai sebuah hipotesis yang terbuka luas untuk diteliti lebih lanjut. Tak heran jika awal 70-an hingga akhir 80-an tulisan ilmiah maupun populer membanjiri media dengan narasi-narasi pembangunan berbasis kebudayaan—di samping ulasan pembangunan yang didasarkan atas pertimbangan ekonomi. Sebagai seorang humanis Soedjatmoko mengawali diskursus akademik yang menyehatkan bagi perkembangan intelektual manusia.

Melampaui Zaman

Mendedah rekam jejak Soedjatmoko lewat tulisan-tulisannya di pelbagai forum akan tersirat betapa tema-tema besar direnunginya secara mendalam. Dengan lincah Soedjatmoko mampu mempertautkan antarpokok masalah secara sistematis dan komprehensif. Ia bukan tipe cendekiawan yang duduk dalam satu disiplin, melainkan justru mendialogkan, bahkan mengelaborasikan, antardisiplin ke dalam tema partikular.

Ignas Kleden pernah mengatakan bahwa orang yang terbiasa terkotak-kotakkan ke dalam disiplin tertentu niscaya akan sukar memahami tulisan-tulisan Soedjatmoko. Hal ini karena Bung Koko menyikapi segala sesuatu di luar dirinya sebagai fenomena kehidupan yang sedemikian kompleks.

Karenanya, tanpa perspektif yang luas seseorang akan kerepotan menganalisis dan menjelaskan realitas kehidupan dalam teropong ilmu pengetahuan. Itu kenapa Soedjatmoko dikenal publik sebagai intelektual multidimensi: diplomat, dosen, penulis, kepala penerbitan, dan konsultan perencanaan kebudayaan.

Yang jelas Soedjatmoko adalah individu yang mencintai ilmu pengetahuan. Pada 10 Januari ini ia genap 96 tahun (lahir 1922). Meskipun telah wafat pemikiran sekaligus tulisan Soedjatmoko tetap abadi bagi lintas generasi.

Rony K. Pratama I Peneliti Pendidikan Literasi Yogyakarta


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)