logo rilis

Retno Listyarti Memaafkan Ahok Sejak...
Kontributor
Yayat R Cipasang
02 Februari 2018, 22:44 WIB
Retno Listyarti Memaafkan Ahok Sejak...
ILUSTRASI: Hafiz

JALAN hidup seseorang memang tidak sama dan sulit ditebak. Ketika Retno Listyarti, kepala sekolah SMA Negeri 3 Setiabudi, Jakarta Selatan, dipecat Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, sebagian orang mungkin berpikiran sekretaris jenderal Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) ini, kariernya bakal tamat. Nyatanya tidak.

Karier Retno malah moncer dan melambung menjadi komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI). Hari-harinya kian sibuk melebihi aktivitasnya saat menjadi guru atau kepala sekolah.

Saat berbincang-bincang dengan rilis.id, baru-baru ini, Retno sempat ditanya kemungkinan kembali menjadi guru atau kepala sekolah selepas menjadi anggota KPAI. Tapi, Retno menggeleng.

"Sebenarnya saya masih bisa kembali tetapi kayaknya nggak. Saya akan bekerja dulu lima tahun yang benar. Biar publik nanti yang menilai," ucapnya diplomatis.

Rupanya Retno yang kini masih tercatat sebagai guru SMAN 13 Jakarta Utara ini sudah berketetapan hati untuk merambah medan pengabdian lain. Bukan lantaran trauma setelah dipecat Ahok.

"Jadi anggota DPR mungkin?"

Retno hanya tersenyum.

"Atau jadi menteri pendidikan?"

Lagi, Retno tersenyum. "Saya masih punya kesempatan dua periode untuk kembali menjadi komisioner KPAI."

Alumnus IKIP (kini Universitas Negeri Jakarta) ini mengaku sampai sekarang tidak pernah dendam dengan Ahok. Menurutnya, pemecatan sebagai kepala sekolah yang baru dijabatnya selama enam bulan dianggap sebagai bagian dari perjalanan hidup. Memang sangat manusiawi kecewa karena Retno yag dituduh meninggalkan sekolah saat Ujian Nasional (UN) lebih memilih melayani dialog di studio televisi, merasa tidak bersalah.

"Saya memang kepala sekolah tetapi saya bukan ketua panitia ujian karena ketua panitia dijabat wakil kepala sekolah," kata Reto saat itu. "Buktinya pengadilan berpihak kepada saya," tambah peraih penghargaan Tokoh Pendidikan dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS) pada 2007 ini.

Bagi Retno yang menjadi trauma bukan soal pemecatan tetapi pemberitaan media massa yang tiba-tiba berbalik 180 derajat. Sebelum dipecat Ahok, media sangat bersahabat dengan Retno namun setelah dipecat, pemberitaan berbalik dan malah 'meneror' Retno.

"Saya sempat menghindar dari wartawan sampai kaca mobil pun saya hitamkan. Saya sempat puasa berbicara kepada media dan tidak melihat media sosial. Media sosial sampai ditangani anak laki-laki saya yang kuliah di Universitas Indonesia," akunya.

Peraih penghargaan Toray Foundation dari Jepang pada 2004 itu menuturkan, dirinya sudah memaafkan Ahok sejak keputusan di tingkat banding (PTUN). Saat itu Retno sudah bisa berdamai dengan masalahnya. "Sejak keputusan di tingkat banding saya mulai (bisa) memaafkan Ahok," tuturnya.

Karena itu saat mendengar Ahok menggugat cerai istrinya Veronica Tan, Retno termasuk yang kaget. Retno mengaku prihatin apalagi dalam proses tersebut ada perebutan hak asuh.

"Kalau misalnya Pak Ahok atau Ibu Veronica mengadukan atau meminta bantuan mediasi KPAI akan saya terima. Belum ada pengajuan. Siapapun termasuk Pak Ahok atau Ibu Veronica," kata Retno. 

"Sampai saat ini belum ada permintaan kepada KPAI," ujar lulusan S-2 Kajian Timur Tengah dan Islam Ilmu Politik dan Hubungan Internasional Universitas Indonesia itu.


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)