logo rilis
Pramoedya Ananta Toer, Karyanya Tak Pernah Mati
Kontributor
Yayat R Cipasang
06 Februari 2018, 16:15 WIB
Pramoedya Ananta Toer, Karyanya Tak Pernah Mati
FOTO: ypkp65

VERBA volant, scripta manent (Apa yang diucapkan akan hilang bersama angin, yang tertulis akan abadi). Peribahasa Latin itu mewujud dalam karya-karya sastrawan Pramoedya Ananta Toer. Andaikan masih hidup, penulis yang telah menghasilkan lebih dari 50 karya dan diterjemahkan ke dalam lebih dari 41 bahasa asing itu, usianya 93 tahun.

Pramoedya, sastrawan modern Indonesia yang paling moncer dan juga kontroversial. Penulis kelahiran Blora 6 Februari 1925 ini sempat begitu sangat berkuasa atas legitimasi karya sastra ketika bergabung ke dalam Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) 1950-1965, salah satu organisasi sayap Partai Komunis Indonesia.

Begitu kuatnya pengaruh Pram, sastrawan yang berseberangan dengan kelompoknya tidak bisa mempublikasikan karya-karyannya di media yang dikuasai kelompok kiri. Salah satu korban dari kebijakan Pram dan kelompoknya itu adalah Iwan Simatupang. Padahal sastrawan yang masa hidupnya lebih banyak berkarya dari Kamar 52 Hotel Salak ini terbilang sastrawan netral.

Kasus yang menyakitkan tentu yang menimpa ulama yang juga sastrawan Buya Hamka. Pram yang saat itu menjadi redaktur lembaran budaya Lentera di Harian Bintang Timur menuduh Hamka sebagai penjiplak. Karyanya yang berjudul Tenggelamnya Kapal Van der Wijck (1939) dituduh sebagai hasil plagiarisme novel Al Majdulin karya sastrawan Mesir, Mustafa Luthfi Al-Manfaluthi.

Kritikus sastra dari Universitas Indonesia Asep Sambodja sempat menulis dalam blog pribadinya, saat itu Pram mendesak Hamka untuk meminta maaf kepada masyarakat pembaca Indonesia. Sejak Februari 1962 itulah Hamka menjadi bulan-bulanan Bintang Timur, terlebih latar belakang politik Hamka adalah sebagai anggota Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi), sebuah partai politik yang dilarang Presiden Soekarno pada Agustus 1960.

Sebaliknya, Pram juga dituduh musuh-musuhnya telah melakukan pembakaran buku karya-karya sastrawan yang tidak sepaham dengan kelompok kiri. Namun atas tuduhan ini Pram membantahnya dan meminta para 'musuh'-nya untuk membuktikannya. Muhidin M. Dahlan, penulis muda asal Makassar dan tinggal di Yogyakarta menulis buku Lekra Tidak Membakar Buku (Merakesumba, 2008). Dalam buku ini tidak ditemukan bukti Lekra telah membakar buku.

Rezim berganti, dan nasib Pram yag tadinya sangat berkuasa dalam jagat sastra harus menjadi paria setelah penguasa Orde Baru menahannya dan dibuang ke Pulau Buru selama 14 tahun. Tapi dasar penulis dan sastrawan, selama ditahan di Pulau Buru, Pram malah menghasilkan karya monumentalnya Tetralogi Buru masing-masing Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah dan Rumah Kaca.

Pram dapat menghirup udara bebas pada 21 Desember 1979 dan mendapatkan surat pembebasan secara hukum tidak bersalah dan tidak terlibat Gerakan 30 September. Namun, Pram masih dikenakan tahanan rumah di Jakarta hingga 1992.

Kontroversi kembali terjadi ketika Pram digajar Ramon Magsaysay Award 1995. Sedikitnya 26 tokoh sastra Indonesia di antaranya Mochtar Lubis dan Taufiq Ismail yang sempat 'ditindas' Lekra protes ke Yayasan Ramon Magsaysay. Menurut mereka tidak pantas Pram mendapat gelar itu karena selama menjadi aktivis Lekra dikenal sebagai algojo dan penindas sastrawan yang berbeda paham.

Sampai akhir hayatnya, Pram masih terus berkarya sambil sejumlah karya-karyanya terus diterbitkan oleh penerbitan milik keluarganya, Lentera Dipantara. Tapi usia tak bisa dibohongi. Kesehatannnya terus menurun dan setelah sempat dirawat di RS St. Carolous, Jakarta Pusat, Pram meninggal pada 30 April 2006 pukul 08.55 dalam usia 81 tahun.

Sejumlah sastrawan lintas generasi, politisi dan pesohor lainnya tampak melayat jenazah Pram di kediaman lamanya Jalan Multikarya II No 26, Utan Kayu, Jakarta Timur. Lagu Internationale dan Darah Juang yang dikumandangkan sekelompok pelayat mengiringi jenazah Pram yang dimakamkan di TPU Karet Bivak.

Setidaknya sempat dua kali, Pram disebut-sebut nomine peraih Nobel Sastra. Namun sampai saat ini tak pernah mampir ke rumahnya di Utan Kayu atau di Bojong Gede.


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)