logo rilis
Persekusi Agama, Mahasiswa: Kasus Ini Tidak Berdiri Sendiri
Kontributor
Tio Pirnando
13 Februari 2018, 05:05 WIB
Persekusi Agama, Mahasiswa: Kasus Ini Tidak Berdiri Sendiri
Kordinator Wilayah III Pengurus Pusat (PP) Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) Theo Cosner Tambunan. FOTO: Dok. Pribadi

RILIS.ID, Jakarta— Kordinator Wilayah III Pengurus Pusat (PP) Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) Theo Cosner Tambunan, mengimbau oknum-oknum tertentu untuk berhenti melakukan kekerasan terhadap pemuka agama.

“Saya melihat kasus-kasus ini tidak berdiri sendiri, namun sudah terangkai dan selalu dikaitkan dengan isu kebangkitan PKI (Partai Komunis Indonesia). Apalagi, mengingat tahun politik semakin dekat," ujarnya dalam keterangan pers di Jakarta, Senin (12/2/2018).
 
Beberapa kejadian yang menimpa pemuka agama diantaranya, penganiayaan terhadap pengasuh Pondok Pesantren Al Hidayah Cicalengka, Bandung Barat, KH Umar Basri. Saat itu, kiai tengah melakukan zikir usai melaksanakan shalat shubuh. Selang beberapa hari, terjadi pemukulan yang mengakibatkan Komando Brigade PP Persis dan Ustaz Prawoto meninggal dunia. 

"Ini menjadi sederet tragedi buruk yang menimpa para pemuka agama," tegasnya.
 
Theo menilai, Kejadian di Jabar memiliki pola penyerangan yang sama, yakni dilakukan oleh orang tidak waras. "Bisa jadi hal itu merupakan suatu kebetulan, namun bisa juga ada motif lain yang ingin disampaikan otak pelaku di balik penyerangan," ucap Theo.
 
Peristiwa selanjutnya, kata Theo terjadi di Yogyakarta. Di mana Romo Karl Edmund Prier S.J diserang seorang pemuda memegang pedang, saat memimpin misa di Gereja Santa Lidwina Sleman. Hal tersebut mengakibkatkan Romo Pries mendapat perawatan akibat terkena sabetan senjata tajam. 

“Belum ada alasan yang pasti dibalik penyerangan akhir-akhir ini, yang dilakukan terhadap pemuka agama. Namun, pihak kepolisian harus cepat mengungkap motif di balik penyerangan tersebut,” bebernya.
 
Bagi Theo, tindakan penyerangan yang dilakukan kepada pemuka agama merupakan tindakan intoleran dan tidak bertanggung jawab. "Kelakuan seperti ini bertentangan dengan ajaran agama apapun," tandasnya.

Editor: Intan Nirmala Sari


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)