logo rilis

Pancasila Harga Mati, Hubungan Interasional Pilih Diplomasi
Kontributor
RILIS.ID
30 Maret 2019, 10:58 WIB
Pancasila Harga Mati, Hubungan Interasional Pilih Diplomasi
Pengamat Politik Indonesian Public Institute (IPI), Jerry Massie (kedua dari kiri). FOTO: ISTIMEWA

RILIS.ID, Jakarta— Debat keempat calon presiden (capres) Jokowi dan Prabowo cukup menarik, terutama menyangkut isu ideologi dan hubungan internasional.

Pengamat Politik Indonesian Public Institute (IPI), Jerry Massie, menyarankan kedua capres tetap konsisten dengan Pancasila. Sebab, ada yang coba-coba mengganti ideologi itu dengan paham khilafah.

"Pancasila sudah final saat rapat BPUPKI di mana 68 founding father kita hadir pada 1 Maret 1945. Pada 1 Juni, presiden pertama RI Soekarno membacakan pidato dan di dalamnya ada Pancasila yang kemudian dikenal dengan lahirnya Pancasila,” paparnya, Sabtu (30/3/2019).

Pada 22 Juni 1945 pun piagam Jakarta ditandatangani dan termaktub dalam TAP MPR/XVIII/MPR tahun 1998.

Dengan propaganda isu politik khilafah, kata Jerry, buntutnya fatal. Stabilitas keamanan dalam negeri menjadi berbahaya. Apalagi, khilafah bukan ideologi bangsa Indonesia, tapi budaya asing.

"Menarik jika isu kontroversial ini di dibahas dalam debat. Nggak usah bahas topik yang jadul dan tak bermanfaat. Tapi, realita di lapangan," kata peneliti politik dari Amerika ini.

Menyangkut hubungan internasional, Jerry meminta pemerintah proaktif bukan reaktif. Dia menilai saat ini diplomasi Indonesia biasa saja. Malah cenderung agak lemah ketimbang era Menlu Mochtar Kusumaatmaja. Karenanya perlu ditingkatkan lagi terutama border (perbatasan), maritim sampai politik.

"Jangan perkeruh masalah tapi how to solve problems (bagaimana mengatasi masalah). Kalau approaching foreign (pendekatan luar negeri) dan foreign policy (kebijakan luar negeri) lemah maka akan berpengaruh dalam hubungan sebuah negara,” ingatnya.

Dia sangat tidak menganjurkan membuat policy yang bertentangan. Saat ini yang diperlukan adalah bersahabat. Intinya, jangan mencari musuh tapi kawan.

Jerry mencontohkan di laut. Tindakan membakar kapal ikan asing bukan pilihan akhir, namun solusi terbaik lewat diplomasi.

Selain itu, ujarnya, keamanan isu yang penting diangkat. Pasalnya, tanpa keamanan ekonomi sebuah negara tak bisa stabil.

"Negara lain mau investasi tapi kalau keamanan lemah bisa saja mereka tak mau berinvestasi. Keamanan perlu diperkuat di perbatasan dari penyusupan teroris," jelasnya.

Keamanan di laut pun perlu dijaga dan dikawal. Apalagi ISIS sudah kalah di Suriah. Ada kekhawatiran mereka bermigrasi ke Indonesia. Jika aman maka negara kuat. Ia menyarankan pertahanan dan keamanan diperkuat jelang pencoblosan 17 April nanti.

"Serangan para kelompok yang ingin mengacaukan Pemilu perlu diantisipasi. Contoh debat lalu ada ledakan di dekat lokasi debat di Hotel Sultan," ujar dia. (*)

Editor: gueade




Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)





2019 | WWW.RILIS.ID