logo rilis

Miris, Ini 11 Bahasa Daerah yang Ditemukan Punah
Kontributor
Tio Pirnando
22 Februari 2018, 03:03 WIB
Miris, Ini 11 Bahasa Daerah yang Ditemukan Punah
FOTO: Istimewa

RILIS.ID, Jakarta— Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) Dadang Suhendar mengatakan, terdapat 11 bahasa Tanah Air yang dikategorikan punah. Angka tersebut diperoleh dari total 652 bahasa yang telah dicatat dan diidentifikasikan.

Selain punah, terdapat 4 bahasa yang masuk dalam kategori kritis, 19 bahasa terancam punah, 2 bahasa mengalami kemunduran, 16 bahasa dalam kondisi rentan (stabil, tetapi terancam punah), dan 19 bahasa berstatus aman.  

"Dari 652 bahasa daerah yang telah dicatat dan diidentifikasi tersebut,  baru  71 bahasa yang telah dipetakan vitalitas atau daya hidupnya (berdasarkan kajian vitalitas bahasa pada 2011-2017)," kata Dadang di Gedung Samudera Jakarta, saat memperingati hari Bahasa Ibu pada Rabu (21/2/2018). 

Badan Bahasa Kemdikbud yang mengkaji dan membuat daftar vitalitas bahasa, menemukan 11 bahasa yang punah. Diantaranya berasal dari Provinsi Maluku dan Maluku Utara sebanyak 9 bahasa dan Papua 2 bahasa. 

Kesebelas bahasa tersebut yakni, bahasa kayeli, piru, moksela, palumata, ternateno, hukumina, hoti, Serua dan nilai. Sedangkan dua dari bahasa Papua yaitu bahasa tanda dan mawes.

Selanjutnya, dari kajian Vitalis Badan Bahasa Kemdikbu, ada empat bahasa yang sudah masuk kategori kritis dan terancam punah. Bahasa tersebut adalah bahasa reta (NTT), saponi (Papua), ibo (Maluku), meher (Maluku Tenggara Barat).

"Keanekaragaman bahasa semakin terancam, karena semakin banyak bahasa yang hilang. Setiap dua minggu, rata-rata satu bahasa hilang. Itu setara dengan hilangnya warisan budaya dan intelektual bangsa itu sendiri," bebernya.

Hingga 28 Oktober 2017, papar Dadang, Badan Bahasa telah memetakan 652 bahasa daerah (tidak termasuk dialek dan subdialek) di Indonesia. Diantaranya, bahasa di wilayah Nusa Tenggara Timur, Maluku, Maluku Utara, Papua dan Papua Barat, belum semua teridentifikasi. 

"Hasil pemetaan tersebut, tentunya akan bertambah seiring pertambahan jumlah daerah pengamatan (DP) dalam pemetaan," kata Dadang di Gedung Samudera Jakarta, Rabu (21/2).

Untuk itu, pihaknya mendorong masyarakat untuk melestarikan keanekaragama bahasa daerahanya masing-masing, khususnya bahasa ibu. 

Editor:




Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)





2019 | WWW.RILIS.ID