logo rilis
'Menurunnya Daya Beli Masyarakat Bukan karena Tak Punya Uang'
Kontributor
Ainul Ghurri
14 Februari 2018, 20:55 WIB
'Menurunnya Daya Beli Masyarakat Bukan karena Tak Punya Uang'
Pengamat ekonomi dan Pengurus Persatuan Bank Nasional (Perbanas), Aviliani (tengah). FOTO: RILIS.ID/Ainul Ghurri

RILIS.ID, Jakarta— Pengurus Persatuan Bank Nasional (Perbanas), Aviliani, menilai, masyarakat menengah dan ke bawah sebenarnya memiliki daya beli. Namun, dana untuk konsumsi cenderung disimpan di bank. Sehingga, daya beli masyarakat menurun.

"Jadi, dibedakan antara konsumsi dan daya beli. Orang kalau punya daya beli tapi tidak konsumsi, maka tidak masuk dalam pertumbuhan ekonomi," ujarnya saat diskusi "Ekonomi di Tahun Politik" di Kantor DPP Partai Amanat Nasional (PAN), Jakarta, Rabu (14/2/2018).

Aviliani menjelaskan, masyarakat menengah ke bawah sangat bergantung pada bantuan sosial (bansos) atau bantuan langsung tunai (BLT). Dana bantuan itu baru keluar Agustus 2017. Otomatis konsumsi masyarakat menurun medio Januari-Juli.

"Ujung-ujungnya kenapa? ada soal kartu kredit, ada persoalan pajak. Jadi, memang kita sudah memberikan masukan (ke pemerintah), bahkan dari Kadin pun memberikan masukan, agar tidak menurunkan konsumsi. Itu yang membuat daya beli turun," paparnya.

Avi, sapaannya, menambahkan, masyarakat kelas menengah mencapai 120 juta orang. Kategori hampir miskin dan miskin (kelas bawah) sebanyak 100 juta penduduk.

Pada 25 Februari 2018 mendatang, masyarakat kelas bawah akan menerima kartu untuk membeli pangan. "Itu problem," ucapnya.

"Yang harus pemerintah lihat, adalah kalau menengah bawah ini bansosnya jangan pernah terlambat. Kalau perlu, setiap bulan bansos itu harus dikeluarkan," imbuh dia.

Perpindahan masyarakat menengah bawah ke pariwisata, menjadi faktor lain menurunnya tingkat konsumsi. Hal tersebut termasuk mengurangi pertumbuhan ekonomi digital. "Tapi, itu belum tinggi, baru sekitar dua persen," pungkas Avi.

Editor: Fatah H Sidik


500
komentar (0)