logo rilis
Menunggu Solusi Jangka Panjang
Kontributor
Zulhamdi Yahmin
09 Februari 2018, 19:30 WIB
berita
ILUSTRASI: RILIS.ID/Hafidz Faza.

MESKI sudah gonta-ganti gubernur, banjir di Jakarta masih saja jadi momok bagi warganya. Upaya ini itu yang dilakukan pemerintah daerah (pemda) belum terbukti ampuh 100 persen menolak bala tersebut. Air kiriman tetap saja tak bisa menahan diri menenggelamkan sejumlah titik Ibu Kota.

Wartawan rilis.id, Zulhamdi Yahmin mewawancarai Pengamat Tata Kota Universitas Trisakti, Yayat Supriyatna dan Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan terkait masalah banjir kemarin.

Baca Juga

Yayat Supriyatna.
Pangkal masalah banjir kemarin apa?

Karena intensitas curah hujan. Itu yang pertama menjadi penyebabnya. Saat hujan besar wadah penampungnya sudah enggak cukup. Karena tidak tertampung, tumpah lah semua ke Jakarta.

Apakah Pemprov DKI sudah tepat?

Ya, Pak Anies sekarang tindakannya sementara ini hanya pada konteks penanganan pengungsinya saja. Kebetulan banjir ini dari Bogor. Jakarta yang “kebagian”.

Jadi, yang harus dilakukan Pak Anies adalah apa langkah ke depannya. Artinya harus ada ketegasan dalam mengambil sikap. Misal, apakah melakukan relokasi atau revitalisasi. Ambil satu keputusan yang pasti, jika tidak maka persoalan ini (banjir) akan terus menggantung.

Mitigasi bencana banjir di Jakarta selama ini seperti apa?

Kalau mitigasi yang sekarang sudah cukup lah. Dalam arti memberikan sinyal untuk persiapan. Di satu sisi memang dalam kondisi pasrah (akan banjir), tapi mau bagaimana lagi, air kan turun ke bawah. Berarti pilihan mitigasi itu mencoba mengantisipasi supaya bencana tidak makin berat.

Koordinasi antara Pemprov DKI dengan pusat, bagaimana?

Silakan lah disikapi bagaimana pola koordinasinya. Kalau dulu kan cukup baik, sekarang harusnya lebih baik. Itu saja intinya. Bagaimana pola kerja sama yang akan dikembangkan lebih lanjut itu kan bergantung kepada kebijakan Pak Gubernur.

Supaya banjir tidak terjadi lagi ke depannya?

Nah, kalau disiasati oleh pemerintah, apakah bisa diselesaikan dengan Waduk Sukamahi dengan Waduk Ciawi. Keduanya diharapkan dapat mengurangi 30 persen wilayah terdampak. Artinya penanganan di Jakarta itu harus bersifat penanganan di hulu. 

Kalau di hulu juga menjadi kawasan perkotaan, sedangkan Jakarta kelebihan beban, persoalan mendasarnya adalah konteks kuranganya area resapan. Di tambah, besarnya volume air yang tumpah, dan belum selesainya pengendalian banjir di hilir.

Bagaimana penanganannya di Sungai Ciliwung? 

Sungai Ciliwung itu adalah sungai yang kewenangannya pusat. Bagaimana kesepakatan dengan pusat? Terus atau tidak normalisasi? Jebakan kita kan normalisasi atau naturalisasi. Kalau naturalisasi nggak mungkin di Jakarta, karena alamnya sudah berubah. 

Kalau Depok atau Bogor oke lah. Tapi kalau untuk Jakarta itu normalisasi jadi sebuah pilihan. Pertanyaan mendasar, normalisasi yang bagaimana yang harus dilakukan, itu yang dibutuhkan. Langkah ke depan ini yang ditunggu.

Anies Baswedan
Bagaimana pola penanganan banjir ke depannya?

Jadi, menurut saya gini, dalam situasi seperti sekarang paling tepat adalah bicara tentang menyelamatkan pengungsi, memastikan bisa kembali. Ini prioritasnya. Jangan kita berdebat terlalu panjang dulu soal solusi besar. Ini bereskan dulu nih, prioritasnya di situ.
 
Karena, memang di Jakarta ini banjirnya disebabkan tiga masalah. Pertama dari hulu, kedua curah hujan yang lebat, ketiga adalah tanah kita yang mengalami penurunan.

Soal sumur resapan?

Ya, itu harus kita lakukan itu untuk masalah kedua, bukan masalah pertama. Yang pertama dari hulu. Tapi, yang kedua, kalau curah hujan di Jakarta tinggi, maka dimasukkan  ke dalam tanah. Sekarang sudah berjalan. Februari ini sebenarnya proses inspeksi jalan. Cuma enggak mau diumumin dulu.

Solusi untuk masalah di hulu?

Kuncinya adalah memastikan pembangunan waduk di sana berjalan dengan cepat. Dan sudah diperiksa kan, Pak Presiden ke sana bulan Desember kemarin. Semoga segera tuntas. Yang bisa kita lakukan adalah persoalan kedua dan ketiga, karena wilayah kita.

Pola penanganan terhadap sungai?

Salah satunya naturalisasi sungai. Bagaimana sungai itu bisa mengelola air dengan baik. Bagaimana mengamankan tidak melimpah, tapi juga ekosistem sungai dipertahankan.

Presiden juga minta ada normalisasi Ciliwung, bagaimana?

Iya, betul. Jadi memang proyek itu kita sudah bertemu dengan warga. Termasuk dengan badan di Kementerian PU yang mengurus Ciliwung.

Rencanannya, kita akan bertahap melakukan proses pembicaraan dengan warga. Prinsipnya, warga sudah setuju. Lalu, akan ada langkah yang dilakukan seperti pengukuran, lalu dengan pihak ketiga, sesudah itu memulai proses pengerjaan. (tamat)

Editor: Andi Mohammad Ikhbal

Bagaimana reaksi anda tentang artikel ini?
500
komentar (0)