logo rilis
Mengupas Hari Internasional Anti Sunat Perempuan
Kontributor
Ning Triasih
07 Februari 2018, 14:32 WIB
Mengupas Hari Internasional Anti Sunat Perempuan
ILUSTRASI: Istimewa

RILIS.ID, Jakarta— Tak banyak orang tahu jika hari ini adalah peringatan Anti Sunat Perempuan, resminya disebut Hari Internasional Tidak Ada Toleransi Sunat Perempuan (International Day of Zero Tolerance to Female Genital Mutilation), Rabu (7/2/2018).

Peringatan Anti Sunat Perempuan setiap 6 Februari bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat tentang dampak bahayanya, sekaligus untuk menghilangkan praktik sunat perempuan di seluruh dunia.

Pasalnya, berdasarkan laporan WHO pada Februari 2016, sunat atau khitan pada perempuan sama sekali tak punya manfaat untuk kesehatan. Sebaliknya, efeknya justru membahayakan, bahkan sampai kematian.

Sebagaimana temuan Jasmine Abdulcadira dan kawan-kawan yang dimuat di Swiss Medical Weekly Januari 2011, dampak sunat perempuan dapat berupa infeksi berkelanjutan, luka kronis, berkembangnya kista, kesulitan buang air kecil, sulit menstruasi, komplikasi saat melahirkan, pembuahan fatal, sampai ketidakmampuan untuk hamil.

Menurut PBB dan WHO, sunat perempuan mencerminkan ketimpangan gender yang mengakar, sekaligus bentuk ekstrem diskriminasi terhadap perempuan dan anak-anak perempuan.

Tak hanya itu, praktik ini juga melanggar hak-hak perempuan di bidang kesehatan, keamanan dan integritas fisik, hak untuk bebas dari penyiksaan dan perlakuan kejam, tidak manusiawi atau merendahkan, dan hak untuk hidup jika dampaknya berupa kematian.

Penelitian UNICEF Februari 2016 mengenai sunat perempuan menyebutkan, ada beberapa fakta sebagai berikut:

1. Indonesia, Mesir dan Ethiopia adalah penyumbang 50 persen dari 200 juta perempuan yang disunat.
2. Gambia, Mauritania dan Indonesia juga jadi penyumbang tertinggi sunat perempuan pada usia di bawah 14 tahun dari sekitar 44 juta perempuan di dunia.
3. Hampir 50 persen perempuan di Indonesia telah disunat.

Sunat perempuan dalam Islam

Majelis Ulama Indonesia (MUI) menyatakan, sunat perempuan boleh dilakukan asal tidak menyimpang dari ketentuan syariah.

MUI menegaskan, khitan perempuan cukup dilakukan dengan menghilangkan selaput (jaldah, praeputium atau kulup) yang menutupi klitoris. Khitan perempuan tak boleh berlebihan, seperti memotong atau melukai klitoris (insisi dan eksisi).
 


500
komentar (0)