logo rilis
Melampaui Indonesia Purba
kontributor kontributor
Yudhie Haryono
13 Februari 2018, 14:11 WIB
Pengamat ekonomi politik, bekerja sebagai Dosen dan Direktur Eksekutif Nusantara Center
Melampaui Indonesia Purba
ILUSTRASI: Hafiz

INDONESIA purba adalah negara yang gagal mengatasi kemiskinan dan ketimpangan. Untuk melampauinya, kita membutuhkan agensi warganegara yang berkarakter konstitusional. Karakter ini harus disemai dengan tujuan save the nation: save the constitution. Visinya melaksanakan Pancasila; meraih kemerdekaan keenam. Misinya menerjemahkan karakter konstitusional untuk melawan karakter kolonial.

Tugas pokoknya merealisasikan trias revolusi: revolusi mental; revolusi nalar; revolusi konstitusional. Tesisnya: semua bayi di republik ini lahir dahsyat dan cerdas. Warisan kolonialah yang menyebabkan mereka jadi pengkhianat konstitusi. Mengkhianati konstitusi akhirnya melupakan janji kemerdekaan, lupa kemanusiaan.

Dari penghkianatan konstitusi, lahirlah masyarakat miskin, bodoh dan konflik serta kesenjangan yang luar biasa dahsyatnya. Dalam riset kami, sampai hari ini ditemukan ada 5 karakter konstitusional sebagai modal kemajuan Indonesia. Kita tahu bahwa untuk menikam mati karakter kolonial harus dihadapi dengan karakter konstitusional: berketuhanan, berkemanusiaan, bergotong-royong, bermusyawarah atau berdemokrasi dan berkeadilan. 5 Karakter dari Pancasila.

Bagaimana penjelasan pendeknya? Pertama, berketuhanan. Karakter ini bermakna "hanya takut dan cinta kepada Tuhan." Sebab semua punah kecuali Dia. Maka, semua manusia sama dan sederajat: apapun warna kulit, kelamin, agama, suku, bahkan harta dan kecerdasannya. Yang membedakan hanya prestasi dan rekam jejaknya. Sepanjang ia bisa berprestasi dan tak bersalah maka ia bisa memimpin dan memajukan negara. Ia tak takut pada sesama karena sesama bertugas membuat prestasi kebaikan.

Kedua, berkemanusiaan. Karakter ini dirumuskan dengan kalimat "tugas manusia adalah menjadi manusia maka lihatlah sesama manusia." Ia berindak tak bahagia di atas derita sesama dan tak sedih di atas bahagia sesama. Makin tinggi laku, kuasa, kapital serta spiritualnya dicirikan dengan praktik memanusiakan manusia karena kemampuannya menundukkan nafsu barbariknya.

Ketiga, bergotong-royong. Karakter ini dijiwai dengan semangat anti gotong-nyolong. Dus, sikapnya adalah "satu untuk semua dan semua untuk satu; holupis kuntul baris." Modelnya pemerataan dan kebersamaan. Rezimnya bersifat semesta dan holistik; bukan parsial dan sekadarnya.

Keempat, berdemokrasi. Karakter ini berdimensi terpimpin. Berlaku dalam barisan dan pasukan; bukan kerumunan dan kesalingpengkhianatan. Menjadi panitia kesejahteraan dan keadilan dalam semua dimensi kenegaraan dan kewargaan. Dalam demokrasi ini, ekopolnya bersama dlalam nurani keindonesiaan dan kenusantaraan.

Kelima, berkeadilan. Karakter ini menjadi inti dari semua cita-cita; alat sekaligus tujuan dalam kehidupan warga dan negara. Keadilan berdimensi kemakmuran, kenalaran, kemodernan, kedaulatan, kemandirian dan kemerdekaan abadi. Adil adalah jalan bahagia. Dan, bahagia karena berlaku adil.

Inilah lima karakter dan mental yang berdimensi spiritualis, intelektualis, sosio-kapitalis dan menzaman.


500
komentar (0)