logo rilis

Lafran Pane, Pendiri HMI yang Tak Punya Rumah hingga Akhir Hayatnya
Kontributor
Yayat R Cipasang
05 Februari 2018, 18:53 WIB
Lafran Pane, Pendiri HMI yang Tak Punya Rumah hingga Akhir Hayatnya
Tasyakuran penganugerahan Pahlawan Nasional. FOTO: RILIS.ID/Tio Pirnando

HIMPUNAN Mahasiswa Islam (HMI) sepertinya perlu mencontoh pada kesederhanaan dan kesahajaan sang pendiri organisasi ini, almarhum Prof. Drs. Lafran Pane. Sebenarnya terlambat, tokoh inspiratif yang dimakamkan di Taman Pemakaman Umum Karangkajen, Yogyakarta, baru diganjar Pahlawan Nasional 9 November 2017 di era Jokowi. Lafran Pane wafat pada 24 Januari 1991.

Lafran Pane dikenal sebagai sosok yang sederhana. Aktivitas kesehariannya ditempuh dengan mengayuh sepeda onthel atau naik becak. Tak memiliki mobil kendati fasilitas itu sangat mudah didapatkan. Kader-kader HMI yang telah sukses kerap menawarinya dengan sejumlah kemewahan sebagai penghormatan. Namun, Lafran Pane bergeming.

Lafran Pane juga sepanjang hayatnya tidak memiliki rumah. Cita-cita kebangsaan dan juga membesarkan keluarganya disemai dari rumah dinas.

Bila menelisik rekam jejaknya, Lafran Pane sejatinya tidak memerlukan gelar Pahlawan. Tanpa gelar resmi dari pemerintah pun, Lafran Pane sudah menjadi pahlawan dari mulai keluarga, keluarga besar HMI dan masyarakat Indonesia secara umum.

Saat Presiden Jokowi menetapkan Lafran Pane, masyarakat meraba-raba siapa sebenarnya sosok yang lahir 5 Februari 1922 ini. Lafran Pane ternyata bersaudara dengan sastrawan Angkatan Pujangga Baru Sanusi Pane dan Armijn Pane. Kedua saudaranya lebih populer karena menekuni dunia sastra yang banyak dipublikasikan.

Sebaliknya, Lafran Pane lebih banyak terjun dalam ide-ide politik di belakang layar dan memilih jalan sunyi tanpa publisitas. Perjuangannya untuk membela dan mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Lafran Pane mendirikan HMI bersama teman-temannya saat kuliah di Sekolah Tinggi Islam (STI) Yogyakarta 15 Februari 1946. Keajegannya mendirikan organisasi diuji saat terjadi Perang Kemerdekan 19 Desember 1948. Saat itu Belanda masuk ke Indonesia dengan membonceng pasukan NICA.

Menurut Ketua HMI Korkom IKIP Yogyakarta Tahun 1982, Hadi Supeno (republika.co.id, 09 November 2017), lahirya HMI di awal kemerdekaan Indonesia bukan semata-mata menggalang kekuatan intelektual muslim untuk membela NKRI, tetapi juga menjadi legitimasi penerimaan Pancasila sebagai ideologi negara oleh kalangan Islam.

Lafran Pane tetap konsisten mengendalikan HMI, walaupun hanya tinggal berdua bersama Dahlan Ranuwiharjo. Di tengah tarikan berbagai ideologi, Lafran Pane tetap istikomah memilih Pancasila sebagai ideolgi negara, dengan nilai-nilai Islam sebagai pengisinya.

Usai masa revolusi, ketika ibukota RI kembali ke Jakarta, dinamika organisasi diserahkan kepada kader-kader penerusnya. Sementara Lafran Pane tetap di Yogyakarta, menekuni dunia pendidikan, menjadi dosen di IKIP Yogyakarta.

Menurut Hariqo Wibawa Satria, penulis biografi Lafran Pane, Jejak Hayat dan Pemikirannya, sosok sederhana itu menjadikan HMI menjadi rumah besar bagi seluruh mahasiswa Islam tanpa melihat apakah itu NU atau Muhamadiyah. Lafran Pane telah menunjukkan bahwa antara keislaman dan keindonesiaan tidaklah bertentangan. 

Seperti disitat dari wikipedia, Lafran Pane sebagai pendiri HMI dikukuhkan dalam Kongres XI HMI tahun 1974 di Bogor, Jawa Barat. Pendiri lainnya masing-masing Kartono Zarkasy (Ambarawa), Dahlan Husein (Palembang), Siti Zainah (Palembang), Maisaroh Hilal (cucu pendiri Muhammadiyah KH.Ahmad Dahlan, Singapura), Soewali (Jember), Yusdi Gozali (Semarang, juga pendiri PII), M. Anwar (Malang), Hasan Basri (Surakarta), Marwan (Bengkulu), Tayeb Razak (Jakarta), Toha Mashudi (Malang), Bidron Hadi (Kauman-Yogyakarta), Zulkarnaen (Bengkulu) dan Mansyur. Lafran Pane sendiri menolak untuk dikatakan sebagai satu-satunya pendiri HMI.


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)