logo rilis

Konsolidasi Fraksi PKS Hasilkan Tiga Khidmat Perjuangan
Kontributor
Tio Pirnando
15 Februari 2018, 09:10 WIB
Konsolidasi Fraksi PKS Hasilkan Tiga Khidmat Perjuangan
ILUSTRASI: RILIS.ID/Hafiz Faza.

RILIS.ID, Jakarta— Ketua Fraksi PKS DPR RI Jazuli Juwaini mengatakan, konsolidasi anggota legislatif yang diikuti sekitar seribu orang dari pusat maupun daerah telah memutuskan tiga khidmat pengokohkan perjuangan partai untuk rakyat. Tiga khidmat garis perjuangan ini antara lain pro kerakyatan, pro keumatan dan pro pengokohan nasionalisme.

"Setiap anggota legislatif PKS di semua tingkat harus paham, menghayati, dan membumikan tiga pro ini dalam setiap sikap dan kebijakan politiknya. Tidak boleh kebijakan Fraksi PKS keluar dari tiga koridor ini," ujar Jazuli dalam keterangan pers kepada rilis.id, di Ambon (15/2/2018).

Anggota Komisi I DPR RI itu menuturkan, untuk mengkonkritkan khidmat perjuangan ini, legislator dari fraksi PKS baik pusat maupun daerah harus menyelami kebutuhan dan penderitaan rakyat. Tidak hanya itu, tegas Jazuli, legislator PKS juga harus mengkritisi kebijakan-kebijakan pemeritah baik pusat maupun daerah yang tidak pro rakyat.

"Di tengah ekonomi rakyat yang sulit, fraksi PKS tegas berpihak pada rakyat dengan menolak dan mengkritisi kebijakan penaikan harga-harga kebutuhan pokok, tarif listrik, bahan bakar, dan lain-lain. Kita juga kritisi berbagai kebijakan impor seperti impor beras, garam, kedelai, dan lainnya yang jelas merugikan  petani," terang politisi kelahiran Bekasi, Jawa Barat ini.

Lebih lanjut, dia menjelaskan terkait kerja konkrit dari khidmat pro keumatan. Untuk mewujudkan khidmat ini legislatif PKS harus selalu dekat dan menjaga silaturahmi dengan kiai, ulama serta tokoh-tokoh agama lainnya. Tujuannya agar setiap langkah dan kebijakan partai tidak menyimpang dari nilai-nilai agama dan aspirasi umat. 

"Maka sikap Fraksi PKS tegas menolak perzinahan, perilaku LGBT, peradaran miras secara bebas, dan bahaya narkoba karena bukan saja bertentangan dengan nilai-nilai agama, akhlak, lebih dari itu merusak masa depan generasi bangsa," tuturnya. 

Editor:


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)