logo rilis
Kepala BNNP Maluku: Obat Komix di Ambon Jadi 'Narkoba'
Kontributor

19 Februari 2018, 17:31 WIB
Kepala BNNP Maluku: Obat Komix di Ambon Jadi 'Narkoba'
Kepala Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Maluku, A. Rusno Prihardito. FOTO: RILIS.ID/Taufik Saifuddin

NARKOBA, sebuah akronim yang identik dengan mimpi buruk. Tak hanya merusak, narkoba bahkan memutus mata rantai generasi anak bangsa. Barang haram itu telah menjadi musuh bersama sejak lama. 

Hal inilah yang melecut Kepala Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Maluku, A. Rusno Prihardito, menyingsingkan lengan baju. Ia berpendapat, hari ini narkoba menjadi barang murah. Karena itu dapat diakses oleh mereka yang latar ekonominya lemah. 

Menurutnya, Maluku adalah provinsi yang berada di peringkat ke-7 dalam penyalahgunaan narkoba. Ini artinya, terdapat 27 ribu pengguna narkoba dari total populasi Maluku yang mencapai 1,2 jutaan jiwa. Sialnya lagi, penyalahgunaan zat berbahaya ini bahkan telah merambah ke produk mainstream obat batuk. Rusno menyebutkan Komix salah satu contohnya. 

Rusno tak ingin tinggal diam, momentum Kongres ke-30 Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) di Ambon, ia manfaatkan untuk menyosialisasikan dampak negatif narkoba. Bahkan, BNNP Maluku melakukan tes urine kepada peserta kongres organisasi mahasiswa tertua tersebut. 

Bagaimanakah hasilnya? Wartawan rilis.id, Taufiq Saifuddin berkesempatan mendiskusikan hal ini bersama A Rusno Prihardito di Kantor BNNP Maluku, di kawasan Karang Panjang, Ambon, Senin (19/2/2018). Berikut hasil wawancara selengkapnya.
 
Bisa diceritakan sosialisasi penyalahgunaan narkoba di arena Kongres ke-30 HMI dan seperti apa hasilnya?

Kami sempat melakukan sosialisasi. Kemarin di Universitas Pattimura (tempat pelaksanaan kongres) kami sudah melakukan tes urine kepada para delegasi. Meski belum semuanya, sampai saat ini sudah ada sekitar 800-an peserta dari target 1.500 orang. 

Kami ingin jemput bola, jadi saya minta jadwal dari mereka dan datang langsung ke lokasi. Hasilnya, dari keseluruhan yang kami tes itu tidak ada yang positif. Ini artinya secara sadar kader HMI sudah menjauhi narkoba. 

Data terakhir, pengguna narkoba di Indonesia sudah mencapai 6 juta dan 27 persen di antaranya adalah pelajar dan mahasiswa. Apakah memang akses mendapatkan narkoba itu saat ini memang mudah? Atau seperti apa? 

Untuk di Maluku terus terang angka itu masih diragukan. Maluku sendiri berada di rangking 7 dari total pengguna nasional. Walau memang, tidak bisa ditepis juga bahwa pelajar dan mahasiswa memang menjadi konsumen. Sebanyak 27 persen skala nasional kalau dibaca di Maluku itu artinya ada sekitar 27 ribuan pemakai dari populasi 1,2 jutaan jiwa penduduk. 

Tapi apakah penyalahgunaan narkoba itu sifatnya murni, itu juga perlu pendalaman lagi. Hari ini kami sedang mendalami sebuah isu atau kasus akan kami angkat. Salah satu yang kami soroti adalah penyalahgunaan Komix (obat batuk), karena ini menjadi bagian dari kontribusi angka itu. Komix, lem Castol, adalah dua jenis yang sedang kami fokuskan dalam tiga minggu ini. Ini penting, karena semua berangkat dari situ, anak-anak sekolah sudah minum Komix sebelum berangkat sekolah. 

Lantas kandungan apa yang ada dalam Komix itu yang dianggap bisa menyebabkan seseorang bisa mabuk? 

Kami belum sampai ke sana. Yang jelas, Komix itu obat batuk yang bisa menyebabkan kantuk. Artinya ada kandungan dekstro di dalamnya. Saya tidak mengerti istilah kimianya. Namun dari kasus di lapangan, Komix apabila dipakai dalam jumlah besar bisa menyebabkan mabuk. Penyalahgunaan ini yang membuat orang kadang mengonsumsi 10, 20 bahkan 100 bungkus sekali minum. 

Kembali ke pelajar, dari data kami di 2017, kasus yang beredar di sini sekitar 200-an. Kebanykan memang penggunanya adalah mahasiswa. Lalu ada juga tukang ojek yang banyak, pelajar malah tidak ada. Pelajar itu masih pada tingkat penyalahgunaan atau coba-coba, contohnya ya Komix tadi. Yang lebih banyak itu justru tukang ojek. 

Jadi, pengojek yang berperan sebagai pengedar? 

Pengojek itu pengedar sekaligus pemakai. Jadi sembari menjalani profesinya mereka juga sambil jualan. Pengojek kenal dengan bandar dan pengedar narkoba. Melalui pengedar, pengojek disuruh beli atau dijadikan kurir. Analoginya begini, ketika pengojek mendapat 1 gram narkoba dengan harga Rp2 juta, itu kadang-kadang dipecah lagi menjad empat sampai lima paket. Satu paket kadangkala dijual Rp500 ribu. Dari situ keuntungannya bisa berlipat ganda. Bagaimana mungkin pengojek bisa menghasilkan Rp500 ribu per harinya. Itulah yang menjadi pasar yang bagus bagi bandar dan pengedar, sehingga ojek itu menjadi tumpangan profesi. 

Kalau kita bandingkan era 1980-an atau 1990-an rata-rata pengguna narkoba adalah kelas menengah ke atas. Nah, pada era 2000-an dan 2010-an, justru yang banyak malah mereka dari kalangan menengah ke bawah? Penyebabnya apa?

Iya memang demikian. Dulu masih terbatas, jenis ganja misalnya hanya ada di kalangan mahasiswa sama orang atas, mahasiswa pun terbatas. Reformasi bergulir, beriringan semua lini juga masuknya narkoba. Kita saksikan sendiri, bahwa konsumennya sekarang sudah sampai ke masyarakat bawah. Artinya, memang karena narkoba itu telah menjadi paket murah. 

Apakah kesenjangan ekonomi memiliki pengaruh sehingga orang memilih lari ke narkoba? 

Penyebabnya memang banyak faktor. Makanya BNN hadir. Di tahun 1996 saat masih di Polda Meto Jaya, kami pernah menangkap pengedar dua kilogram heroin. Mungkin kalau itu terjadi sekarang Indonesia bisa geger. Nah tugas kami sekarang di Maluku adalah memastikan tidak ada narkoba. 

Pertanyaannya, kenapa peredarana masih ada? Mengapa belum ditangkap?Menangani narkoba tidak seperti kita memancing ikan, perlu cara-cara tertentu. Kami sudah melakukan gebrakan pertama dan sampai sekarang tahanannya masih ada di tahanan kami. Ini yang membuat kami agak lega, karena bandar sudah kita tangkap. Cuma memang, bandar narkoba jumlahnya banyak, yang diendus baru satu. Meski begitu, kami terus lakukan pematangan informasi. 

Temuan terakhir menunjukkan ada 800 jenis narkoba di dunia. Di Indonesia sendiri sudah beredar sekitar 88 jenis, untuk Maluku jenis apa saja yang banyak beredar? 

Masih jenis-jenis pada umumnya. Nah, dari 88 jenis narkoba yang beredar di Indonesia, ada 42 jenis yang masuk dalam konstruksi hukum. Artinya, jumlah ini dapat dijerat pidana. Sementara 46 sisanya masih belum memiliki konstruksi hukum. Sebanyak 46 itu apa saja masih belum belum boleh kami rilis. 

Lalu, ketika ada yang menggunakan 46 jenis yang belum memiliki konstruksi hukum itu bagaimana? Apakah direhabilitasi?

Itu tergantung pada kasusnya, kita kan belum tahu. Contoh yang bisa kami berikan, seperti sekarang ini temuan kami Komix tadi, ini masih kajian apakah masuk ke dalam 42 jenis tadi ataukan termasuk 46 jenis lainnya yang belum memiliki konstruksi hukum. Makanya kasus Komix ini akan kami angkat, sebab memang bisa menyebabkan kecanduan dan mabuk. Bayangkan saja, pernah tidak Anda minum Komix? Itu kan bikin ngantuk, bagaimana orang yang mengonsumsi 10, 20 bungkus dan seterusnya. 

Apa langkah yang akan diambil untuk mencegah penyalahgunaan Komix ini?

Kami masih mengkaji kandungannya apakah berbahaya atau tidak. Untuk Komix, kami sedang mengusulkan agar bisa diangkat atau dibahas ke pusat di Jakarta. Kita akan kaji apa saja kandungan berbahaya dalam Komix ini. Karena, saya menyaksikan sendiri, anak-anak yang menyalahgunakan ini sudah banyak. Mereka yang ada di SMP dan SMA, jumlahnya mengerikan. Dampaknya mereka bisa mabuk, tertidur dan seterusnya. 

Terkait pencegahan narkoba, Maluku kan termasuk wilayah kepulauan, bagaimana menghubungkan satu pulau dengan lainnya? Pembagian personelnya seperti apa? 

Kita di Ambon, BNNP hanya satu yang mengkover seluruh Maluku. Disini ada 1392 pulau, dan ada sekitar 400 pulau yang belum memiliki nama. Untuk perwakilan, kami ada di kabupaten Tual di Pulau Buru, Namrole. Untuk itu, kami bekerja sama juga dengan Polres di 11 kabupaten/kota yang ada di Maluku. Selanjutnya, akan dibangun juga perwakilan BNN di Pulau Aru. 

Bila demikian, untuk kasus Maluku, peredaran narkoba lebih banyak melalui jalur apa? 

Semua potensi ada di laut dan udara. Kalau kita lihat pelabuhan, masyarakat yang hilir-mudi itu memang banyak sekali. Artinya, disitu ruang peredaran narkoba bisa terjadi, terutama kapal-kapal besar. Harusnya memang kita punya alat-alat yang canggih, bisa teknologi atau manual. Kalau teknologi, seperti yang digunakan oleh imigrasi dan bea cukai. Untuk yang manual bisa dengan tenaga anjing pelacak. Anjing itu bisa mengendus dan memberi sinyal melalui gonggogannya.. 

Apakah BNNP juga melibatkan relawan mungkin dari HMI? 

Tentu saja kita libatkan. Kami sekarang sedang sibuk membentuk satgas-satgas antinarkoba di institusi pemerintahan. Ini imbauan sejak 2018. Kita mengirim anggota ke semua institusi, perguruan tinggi dan sebagainya untuk membentuk satgas antinarkoba, termasuk LSM-LSM seperti Granat. 

Kita harus sadar bahwa narkoba sudah menjadi ancaman. Harga mahal justru dianggap sangat murah sekali oleh pemakainya. Padahal, emas itu 1 gramnya Rp600 ribu, orang beli narkoba jenis sabu bisa sampai Rp2,5 juta, tetap saja lebih laku sabu daripada emas. Padahal emas bisa dipakai seumur hidup, sabu hanya dipakai berapa menit saja. Makanya, untuk sekarang, cara penanggulangan narkoba, sudah operasi terus sampai ke akarnya.
 
Untuk pencegahan di kalanngan generasi muda, mahasiswa dan pelajar misalnya sebaiknya seperti apa? Apakah dengan ikut organisasi seperti HMI atau bagaimana?
 
Pertama, kembali ke rumah. Home sweet home, keluarga adalah kunci. Ketika keluarga sering kumpul, doa bersama, shalat berjamaah, kemudian intensitas pertemuan itu rutin bukan dipaksakan, itu menjadi kekuatan utama pondasi pribadi generasi muda. Pendidikan pertama adalah keluarga. 

Rumah harus kuat, ketika rumah sudah mulai panas, para generasi ini akan mencari rumah baru yang sesuai dengan keinginannya. Beberapa kasus yang saya tangani seperti itu. Jadi tipsnya sederhana, bukan berarti menjadi anak mama atau anak papa, tapi rumah menjadi tempat yang aman bagi anak.

Yang ingin saya katakan, generasi "zaman now" tantangannya lebih berat dari kami generasi "zaman old". Godaan kasat mata di mana-mana. Zaman saya dulu, kami tukang kelahi, tapi tidak ada yang terjerat narkoba. Rumah betul-betul menjadi kekuatan. Sekarang, generasi yang katanya moderen ini, ke mana-mana bawa smart phone, ini artinya informasi bahaya narkoba bisa di dapatkan kapan dan di mana saja, tapi sayangnya, yang smart malah HP-nya saja. 

Kedua, bergaullah dalam kelompok yang positif, artinya aura positif harus dibawa dengan siapapun kita bergaul. Mahasiswa sperti HMI kan idenya banyak, jangan sampai terjebak pada pada ide bahwa kalau tidak pakai narkoba tidak punya ide, kan ada istilah “kalau gak nyimeng ide tidak ada bro”. 

Sekali lagi, BNN hadir untuk memastikan narkoba bisa diberantas. Anda bisa perhatikan saat kami di Universitas Pattimura kemarin, saat perhelatan Kongres HMI, kami ingin jemput bola untuk menggandeng kader HMI. Kami ada di sana, sejak mulai sampai selesai untuk melaksanakan tes urine. Kami serius, tidak ada narkotika di HMI, kalau ada yang nyeleneh, kita periksa urine, hehehe. 
 

Editor: Yayat R Cipasang


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)