logo rilis
Kecelakaan Proyek Konstruksi Dicurigai lantaran Tekanan Kerja
Kontributor
Nailin In Saroh
25 Februari 2018, 01:05 WIB
Kecelakaan Proyek Konstruksi Dicurigai lantaran Tekanan Kerja
Direktur Operasi II PT Waskita Karya Tbk, Nyoman Wirya Adnyana. FOTO: RILIS.ID/Yayat R Cipasang

RILIS.ID, Jakarta— Ketua Masyarakat Infrastruktur Indonesia, Harun Alrasyid Lubis menyebut kecelakaan kerja pada proyek konstruksi lebih dikarenakan adanya human error. Hal ini menjadi penyebab pertama sebagai metode hasil investigasi.

"Misalkan kalau kecelakaan kereta, ternyata yang jadi masinis bekas sopir angkot," katanya di kawasan Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (24/2/2018).

Yang kedua lanjut dia, yakni mendalami faktor manusia dan mesin yang dipakai. Tak jauh beda dengan metode pertama, kata dia, di situ biasanya akan ditemukan adanya kesalahan manusia ataupun mesin yang kurang mempuni.

"Terakhir saya curiga ini persoalan gunung es. Lingkungan kerja apakah ada tekanan, apakah diberikan apresiasi kalau ada prestasi," jelas dosen ITB ini.

Dalam kesempatan yang sama Wakil Ketua Komisi VI DPR Azam Azman Natawijana menilai proyek pembangunan infrastruktur yang dilakukan pemerintah terlalu banyak. Sehingga, penyelesaiannya terkesan kejar tayang dan minim pengawasan.

"Wajar, secara alamiah saja minim pengawasan menurun karena volume yang begitu besar dan singkat plus sumber daya mausia yang tebatas," ujarnya.

Direktur Operasi II PT Waskita Karya Tbk, Nyoman Wirya Adnyana, mengakui bahwa ada kelalaian yang dilakukan perusahaannya dalam peristiwa proyek tol layang Bekasi, Cawang, Kampung Melayu (Becakayu). 

"Kelalaian pasti ada. Tapi kita perbaiki, kelalaian itu bukan berarti tidak kita prediksi dari awal," katanya usai acara Forum Merdeka Barat 9 bertajuk 'Penghentian Sementara Konstruksi Layang' di Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Kamis (22/2).

Nyoman menjelaskan, perusahaan jasa kontruksi itu sebenarnya memiliki standar kerja seperti Instruksi Kerja (IK) dan Sistim Manajemen Keselamatan Kerja Konntrak (SMK3) sebagaimana yang diamanatkan dalam Peraturan Pemerintah nomor 50 Tahun 2012. 

Namun dalam prakteknya, masih ada kekurangan dalam standar yang sudah mereka tentukan. Misalkan, kata dia, kecelakaan kerja pada pengerjaan Tol Bogor-Ciawi beberapa waktu lalu. Saat itu, pihaknya berdiskusi dengan para ahli dan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR).

Editor: Yayat R Cipasang


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)