logo rilis
Jokowi di Lingkaran Para Jenderal
Kontributor
Syahrain F.
13 Februari 2018, 14:25 WIB
Jokowi di Lingkaran Para Jenderal
Presiden Joko Widodo berada di dekat para jenderal. FOTO: Dok. Sekretariat Presiden via AP/Rusman

RILIS.ID, Jakarta— Dalam sebuah tulisan di Asia Times yang ditulis John McBeth, langkah Presiden Joko Widodo dalam menempatkan para jenderal di lingkaran kekuasaannya disebut sebagai upaya untuk mengamankan 2019. 

Artikel yang berjudul "Widodo puts more  starch in his ranks" itu mengulas bagaimana Jokowi merancang orkestrasi 'politik kekuatan' yang diperkuat oleh para jenderal berpangkat tinggi.

Dengan dipilihnya mantan Panglima TNI Moeldoko sebagai Kepala Staf Kepresidenan yang menggantikan Teten Masduki, Jokowi dinilai semakin mantap melengkapi lingkaran konsentris kekuasaannya dengan 'otot' politik. 

McBeth merunut satu per satu sejumlah pengangkatan petinggi angkatan bersenjata ke lingkaran kekuasaan yang ditenggarai merupakan orang-orang terdekatnya. 

Dimulai dari pengangakatan Marsekal Hadi Tjahjanto sebagai Panglima TNI menggantikan Jenderal Gatot Nurmantyo yang diberhentikan tiga bulan lebih awal sebelum waktu pensiunnya. 

Juga, penunjukkan Jenderal Polisi Tito Karnavian sebagai Kapolri yang 'meloncati' kandidat-kandidat lainnya yang lebih senior. 

Selanjutnya, McBeth mengangkat ke permukaan jajaran menteri dan jabatan strategis lainnya yang dikendalikan oleh para jenderal. Di antaranya Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu dan penasihat sekaligus Menko Maritim Luhut Binsar Panjaitan.

Penunjukkan Budi Gunawan (BG) sebagai Kepala BIN sedikit mendapat sorotan khusus. Menurutnya, loyalitas BG kepada Ketua Umum PDI-P Megawati Sukarnoputri menjadi salah satu sebab terpilihnya mantan Wakapolri itu sebagai Kepala BIN. Jokowi juga merupakan kader PDI-P yang tempo hari disebut sebagai "petugas partai" oleh Megawati.

Artikel itu juga melihat sisi keunikan ketika BG yang dalam rekam jejaknya tidak tampak aktif dalam kegiatan "keumatan" terpilih menjadi Wakil Ketua Majelis Pakar Dewan Masjid Indonesia. Dengan membawahi sekitar 800 ribu masjid di Indonesia, menurut McBeth, posisi strategis itu dapat 'bermanfaat' untuk kampanye pilpres yang dalam waktu dekat akan dimulai.

Selain itu, disinggung pula mengenai pelantikan mantan Komandan Kopassus Agum Gumelar sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) menggantikan Kyai Hasyim Muzadi yang berpulang ke rahmatullah pada tahun lalu. Agum akan bergabung dengan Jenderal di era Presiden RI ke-2 Suharto, Subagyo Hadi Siswoyo.

Langkah yang tak kalah spektakulernya--masih menurut McBeth--adalah penunjukkan mantan Panglima TNI Wiranto sebagai Menkopolhukam yang disebutnya bertujuan untuk membendung kekuatan rival politik Jokowi di pilpres sebelumnya dan yang akan datang, Prabowo Subianto.

Jokowi juga menunjuk anak dari jenderal bintang empat sekaligus mantan Kepala BIN AM Hendropriyono, Diaz, sebagai staf khusus kepresidenan. Mantan Danpaspampres Jokowi, sekaligus menantu Hendropriyono Letjen TNI Andika Perkasa, juga dipromosikan oleh Panglima TNI Hadi sebagai Dankodiklat Angkatan Darat.

Di akhir kalimatnya, McBeth berpendapat, langkah strategis Jokowi dengan menempatkan para pensiunan angkatan bersenjata ke sekelilingnya merupakan upaya untuk mengantisipasi dampak pertarungan sengit pada pemilihan umum yang akan datang. 


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)