logo rilis
'Jokowi Presidenku, NasDem Partaiku'
Kontributor
Sukma Alam
19 Januari 2018, 18:11 WIB
'Jokowi Presidenku, NasDem Partaiku'
ILUSTRASI: RILIS.ID/Hafidz Faza

PARTAI Nasioal Demokrat (NasDem) memiliki peran menonjol dalam ajang kontestasi seperti pilkada dan pilpres. Dalam Pilgub Jabar, sudah dari jauh-jauh hari partai besutan Surya Paloh itu mencalonkan Ridwan Kamil. Malah untuk calon presiden 2019, Jokowi sudah diikrarkan NasDem lebih awal.

Kenapa NasDem getol 'mencuri' start dan seolah berspekulasi di tengah partai lain yang sangat rigid dengan aturan dan pertimbangan? Kenapa pula partai ini tidak memilih kader untuk bertarung memperebutkan kekuasaan baik di tingkat nasional atau lokal?

Ternyata, NasDem memiliki alasan yang realistis dan rasional. Semua ini dibeberkan Ketua DPP Partai NasDem Willy Aditya saat berbincang denga wartawan rilis.id, Sukma Alam di Kantor DPP NasDem di bilangan Gondangdia, Menteng, Jakarta Pusat, baru-baru ini, dan berikut petikannya.

Partai NasDem selalu paling cepat dalam memberikan rekomendasi kepada kandidat atau tokoh dalam pilkada juga pilpres seperti mengusung Jokowi untuk 2019. Apa alasannya?
Karena demokrasi itu kepastian hukum dan itu backbone (tulang punggung) kita. Selama ini demokrasi kita seperti pasar gelap. Demokrasi kita sangat liberal artinya orang digantung, diolah tidak ada kepastian sampai orang itu 'hey guwe ini maju apa tidak?'. 

Kita ini ingin mentranformasi praktik politik yang gelap menjadi praktik politik yang transparan dan demokratis. NasDem itu tanpa mahar tanpa syarat. Kenapa kita cepat memutuskan calon? Karena kita tidak ingin ada itu tadi (mahar politik). 

Kalau alasannya tidak ada mahar politik, lalu apa yang dicari NasDem dengan sibuk mendukung seorang kandidat?
Kita tidak ada mahar alias 'zero' mahar. Kenapa? Logikanya, kalau kita memerangi korupsi harus dari hulunya. Kita berikan untuk berkompentasi tapi di depan dipalakin. Apa jadinya kalau dia sudah jadi. Itu keputusan politik paling besar di 'zaman now', kita harus tanpa mahar. 

Pak Surya (Surya Paloh) mau beradab pada restorasi itu yang kita remote sebanyak mungkin. Dengan apa? Dengan keputusannya tidak minta mahar, melayani dengan totalitas.

Apa alasan NasDem lebih memprioritaskan figur yang bukan kader sendiri?
Itu sebagai wujud, NasDem sadar betul sebagai partai baru. NasDem dilahirkan sebagai partai publik, artinya partai di era dalam demokrasi tak ubahnya seperti puskesmas. Harusnya terbuka dan dapat dijangkau semua kalangan, dia harus bisa mempromosikan putra-putri terbaik dan bersumber pada internal. 

Tapi kan begini, ada prinsip Pak Surya Paloh yang dititipkan ke Tim 7 sebagai penjaring pilkada di seluruh Indonesia. Kalah itu pasti, menang itu belum tentu dan butuh usaha. Bagaimana upaya semaksimal mungkin untuk menang diwujudkan? Kita tidak ngotot untuk memajukan kader sendiri karena kita sadar NasDem ini partai baru belum punya kader banyak yang berkompeten.

NasDem punya kader, tapi ini hukumnya elektoral. Kalau hanya hawa nafsu atau karena eksitensi bisa saja. Tapi kan kita nggak begitu. NasDem ingin mempersembahkan putra-putri terbaik untuk daerah. Jadi itu yang kita letakan. 

Kabarnya Surya Paloh didorong NasDem untuk mendampingi Jokowi di 2019?
Itu sudah dari jauh-jauh hari, di kamus kita tidak ada itu. Kita ikut Jokowi saja, "Jokowi Presidenku, NasDem Partaiku". Siapa yang dampingi Jokowi, silakan Pak Jokowi, itu tanpa syarat. Itu juga yang kita berikan kepada Ridwan Kamil tanpa syarat. Kita tidak minta wakil. Kita tidak bisa kawin paksa, tidak bisa seperti Siti Nurbaya. Ini barang.

Apakah NasDem pernah memberi saran atau menyodorkan cawapres ke Jokowi?
Serahkan saja ke Jokowi yang menting bisa nambah elektabilitasnya, menambah kinerjanya saja. Paling penting chemistry terbangun antara RI 1 dan RI 2. Jangan seperti pekong kepala daerah dan itu banyak terjadi. Ini kan dwitunggal, masa jadi pekong? Kalau hancur yang rugi kan kita.

Rakyat dan partai jangan dipaksa-paksa. Biarkan itu terjadi secara alamiah. Biarkan terbangun sendiri saling membangun kepercayaan siapa yang akan menjadi RI 1 dan RI 2. Kalau NasDem punya pertimbannga-pertimbanga yang wajar.


Tags
#pilpres
#pilkada
#pemilu
#nasdem
#wawancara
500
komentar (0)