logo rilis
Jejak Kekejaman Westerling di Jawa Barat
Kontributor
Yayat R Cipasang
04 Januari 2018, 18:59 WIB
Jejak Kekejaman Westerling di Jawa Barat
Korban kebrutalan pasukan Westerling di Bandung. FOTO: istimewa

SAAT mengikuti pelatihan sejarawan publik di Kota Bandung, Jawa Barat, belum lama ini, panitia mengajak seluruh peserta untuk studi lapangan ke sejumlah museum dan salah satunya Museum Mandala Wangsit Siliwangi di Jalan Lembong No. 38.

Saya termasuk yang sangat antusias mengunjungi museum ini karena sebelumnya dikabarkan museum seluas 1.674 meter persegi ini menjadi saksi bisu kekejaman bandit Belanda, Kapten Raymond Wensterling.

Baca Juga

Selama ini, kebrutalan Westerling lebih banyak diceritakan karena aksi keji dan kejamnya membantai puluhan ribu orang di Sulawesi Selatan. Bahkan disebut-sebut, gerombolan Westerling yang personelnya kolaborasi dari orang Belanda dan pribumi yang kecewa kepada pemerintah Pimpinan Soekarno membantai warga hingga mencapai 40.000 jiwa. Tetapi versi lain korbannya 10.000 dan ada juga yang menyebut 3.000 jiwa.

Tetapi Westerling sebelum meninggal November 1987 mengaku hanya membunuh 463 orang. Namun tidak ada penjelasan lanjut, sejumlah itu dibunuh sendiri atau melibatkan anak buahnya.

Salim Said dalam bukunya Dari Gestapu ke Reformasi, Serangkaian Kesaksian (Mizan, 2013), menyebutkan teror Westerling (termasuk di Jawa Barat, red) dalam versi lain disebutkan sebagai rencana sejumlah orang Belanda, totok dan peranakan, yang ingin Indonesia merdeka dari Negeri Belanda. Namun negeri ini di bawah kendali mereka, peranakan dan totok Belanda.

Karena itulah mereka ini sangat membenci kaum Republik dan pendukung Soekarno. Mereka menyebut masyarakat itu kaum ektrimis yang harus dibantai.

Kolaborasi gerombolan Westerling dan pribumi sakit hati sangat sempurna terjadi di Jawa Barat yang mengatasnamakan Angkatan Perang Ratu Adil (APRA) di Bandung pada tahun 1950. Sejumlah perwira TNI Angkatan Darat Divisi Siliwangi dibantai dan salah satunya Letnan Kolonel Lembong, tokoh militer dari Kebaktian Rakyat Indonesia Sulawesi (KRIS).

Pasukan Westerling yang terdiri dari 800 personel datang bergerak dari Cimahi dan Batujajar kemudian sampai ke Kota Bandung 22 Januari 1950. Mereka masuk lewat Naripan dan kemudian masuk menyerbu Pasukan TNI yang hanya dijaga sejumlah personal. Personel Divisi Siliwangi masih banyak yang bertugas di kantong-kantong wilayah dan belum sepenuhnya kembali ke markas.

Kekuatan yang pincang dengan mudah dilumpuhkan. Dengan membantai sekira 76 TNI, Markas Divisi Siliwangi pun dengan mudah dikuasai. Nahas bagi Letkol Lembong yang saat itu bersama ajudannya Letnan Kailola masuk ke Markas Divisi Siliwangi. Dia tidak menaruh curiga dengan kondisi di dalam. Ketika itu Lembong berencana untuk mengunjungi Kolonel Sadikin yang sebenarnya tidak ada di tempat. 

Saat membuka pintu, bukan ucapan selamat datang yang diterima tetapi berondongan peluru mengoyak tubuhnya. Lembong dan ajudannya tewas seketika. Namun, tidak berhenti sampai di situ. Lembong yang sudah tidak bernyawa pun masih dihajar dengan bayonet. Tubuhnya terkoyak.

Bukti kekejaman Westerling ini bisa dilihat lewat foto jasad Lembong yang tubuhnya hancur. Jasadnya rusak parah ditusuk-tusuk bayonet.

Seperti ditulis Salim Said, Westerling yang pensiun dari Tentara Kerajaan Hindia Belanda alias Koninklijke Nederlandsch Indische Leger (KNIL) pada November 1948 memutuskan menjalani masa purna tugasnya dengan menjadi pengusaha di bidang pertanian di Jawa Barat. Dia kawin dengan janda keturunan Prancis dan menetap di Puncak.

Rupanya, jiwa militernya tak juga luntur dan tergoda menjadi Panglima APRA yang bekerja sama dengan Darul Islam (DI) Pimpinan Kartosoewirjo, kelompok anti-Republik, totok dan keturunan Belanda serta kaum federalis yang menolak pembubaran Republik Indonesia Serikat.


#westerling
#knil
#belanda
#republik indonesia serikat
#riwayat
Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)